
Yani dan Bela mencoba menghubungi Andini, mereka ingin menanyakan secara langsung bagaimana perasaannya saat ini terhadap Reza. Mereka berjanji akan bertemu di salah satu butik baju pernikahan, Andini sedang menemani Meli untuk mencoba gaun yang akan dia pakai saat pernikahannya nanti.
"Hay, cantiknya calon pengantin kita," ledek Bela yang baru tiba di butik itu. Dia memutar tubuh Meli untuk menilai seberapa cantik sahabatnya itu memakai gaunnya, Andini hanya terdiam melihat wajah Meli yang terlihat bahagia.
"Kamu mau ikut mencoba gaun itu Din?" tanya Yani saat melihat Andini memegang salah satu gaun yang ada di sana.
"Mau sama siapa aku Yan? Kamu tahu sendiri setelah putus mana bisa aku memikirkannya lagi," ucap Andini sambil memandang gaun di depannya itu.
"Kalau boleh tahu ya Din, perasaan kamu dengan Kak Reza itu seperti apa sih?" tanya Yani yang penasaran akan pengakuan dari sahabatnya itu, gadis itu ingin Andini mendapatkan pendamping yang sangat menyayanginya kelak.
"Entahlah Yan, aku bingung akan perasaan ini," ucap Andini lesu. Dia memikirkan bagaimana kedepannya menjalin hubungan dengan orang lain, tetapi hatinya memilih Reza.
Bela dan Meli menemui mereka berdua, "Bagaimana bagus tidak?" tanya Meli di depan sahabatnya itu.
"Bagus, cantik kok," puji Andini sambil memutar tubuh Meli.
"Berarti aku ambil ini saja ya Mba," ucap Meli kepada pelayan di butik itu.
"Habis ini kita jalan dahulu yuk, bosen nih mumpung libur juga kan?" ajak Bela yang langsung dapat persetujuan dari yang lainnya.
Mereka meninggalkan butik itu menuju sebuah cafe tempat mereka biasa kumpul, "Kalian mau pesan apa?" tanya Meli kepada para sahabatnya. Meli menyebutkan beberapa menu yang di pilihnya dan sahabatnya itu kepada pelayan yang menghampiri meja mereka, di sela-sela menunggu makanan tiba mereka kembali meneruskan percakapan yang sempat tertunda tadi.
"Din, aku mau tanya deh sama kamu tapi kamu bisa kan jawab dengan jujur?" tanya Bela yang mulai tidak sabar ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang perasaan sahabat terbaiknya itu.
"Kalau aku bisa jawab jujur, aku akan jawab jujur. Memang apa yang mau kamu tanyakan?" tanya Andini yang penasaran dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Bagaimana jika tiba-tiba Kak Reza melamar kamu Din?" tanya Yani tiba-tiba.
"Kamu jangan mengarang ya Yan, kan kamu tahu sendiri Kak Reza sudah punya pacar mana mungkin dia mau melamar aku," sanggah Andini karena dia tidak yakin akan Reza.
"Kan aku bilang bagaimana, benar atau tidaknya aku tidak tahu," ucap Yani.
__ADS_1
"Kalau itu sampai terjadi aku tidak akan menolaknya," gumam Andini pelan yang masih dapat di dengar oleh para sahabatnya itu.
Meli dan Bela yang mendengar ucapan Andini walaupun tidak terdengar jelas tetapi dia bisa menebak bagaimana perasaan gadis itu.
Ponsel milik Andini berdering, tertera di sana nama Rian. Pria itu masih terus mencoba untuk mendekati Andini kembali, walaupun penolakan sering Andini lontarkan.
"Tunggu sebentar ya, aku mau angkat telepon dulu," ucap gadis itu sambil berjalan menjauh dari para sahabatnya. Dia tidak ingin para sahabatnya mendengar obrolan mereka dan juga penolakan yang akan Andini ucapkan.
"Ya ada apa Kak?" tanya Andini kepada seseorang yang di seberang sana.
"Kamu lagi di mana Din?" tanya Rian saat mendengar suara Andini, dia amat merindukan suara dan sosok Andini.
"Aku lagi nemenin teman untuk coba baju pengantin, ada apa ya Kak?" tanya Andini.
"Nanti malam bisa bertemu tidak Din?" tanya Rian.
"Hmmmm ... Nanti aku kabarin lagi ya Kak, soalnya aku masih harus temani sahabatku untuk mengurus acara pernikahannya Minggu depan," tutur Andini yang sebenarnya tidak ingin pergi dengan Rian.
Selama Andini menerima panggilan teleponnya, mereka membicarakan mengenai ide Reza. Meli yang mendengar cerita dari Bela dan Yani tersenyum bahagia, dia berharap semua akan berjalan dengan lancar nantinya.
"Kamu serius Bel, Kak Reza mau melamar Andini?" tanya Meli terkejut saat mendengar cerita dari sahabat di depannya itu.
"Serius aku Mel, Kak Reza sendiri yang cerita dan soal Clara itu hanya tipuan Kak Reza supaya Andini cemburu," tutur Yani. Gadis itu menjelaskan semua yang dia tahu dari sang kekasih dan dia juga berjanji akan membatu mantan kakak kelasnya itu.
Di saat mereka sedang asik berbincang-bincang Andini tiba, sehingga membuat mereka sedikit terkejut.
"Pada cerita apa sih? Serius banget," ledek Andini yang langsung duduk di tempatnya semula.
"Biasa bahas untuk acara nanti Din, kan kita harus persiapkan dari sekarang," sanggah Bela. Gadis itu bisa bernafas lega karena Andini tidak mendengar percakapan mereka tadi.
Hari semakin sore, mereka pulang ke rumah masing-masing. Mereka berjanji akan bertemu besok, karena masih ada beberapa keperluan yang belum mereka selesaikan.
__ADS_1
Bela mencoba menghubungi sang kekasih, dia ingin memberikan kabar tentang apa yang di dengarnya tadi.
"Kamu serius Bel?" tanya Dika dari seberang sana. Bela menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi, "Serius, tadi aku tidak salah mendengar kalau dia masih menyukai Kak Reza jadi tidak ada salahnya Kak Reza untuk mencoba ide dia waktu itu," ujar Bela.
Mereka membahas apa yang harus Reza lakukan nanti, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Bela mematikan ponselnya dan segera merebahkan tubuh di atas kasur kesayangan miliknya.
Seminggu telah berlalu, hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Reza. Pria itu akan melamar Andini di depan banyak tamu undangan pernikahan sepupunya, dia tidak ingin berpacaran lagi.
"Waduh sepertinya pengantin kita kalah saing dengan kamu Din," puji Bela yang masuk ke dalam kamar Andini. Dia menjemput Andini untuk pergi ke tempat acara Meli di adakan, mereka akan pergi bersama-sama.
"Tidak usah muji Bel, kamu juga cantik tidak kalah dengan pengantin," ucap Andini yang langsung berdiri setelah di rasa cukup merias dirinya. " Yuk kita langsung berangkat, pasti yang lain sudah menunggu," sambung Andini.
Bela dan Andini pergi ke tempat acara dengan di antarkan oleh Raditya, dia di tugaskan untuk menemani Andini di sana lebih dahulu.
"Akhirnya sampai juga kalian," ucap Meli saat melihat kedua sahabatnya masuk ke dalam kamarnya yang sudah di hias dengan berbagai macam jenis bunga.
"Masuk kamar pengantin kita ya Yan," ujar Bela yang langsung duduk di sebelah Yani.
"Rileks ya Mel, jangan tegang kita berdoa supaya acaranya lancar," pinta Andini. Gadis itu menyuruh teman-temannya untuk ikut berdoa bersama agar acaranya berjalan dengan baik.
Tak lama terdengar suara teriakan dari arah luar kamar Meli, Yani pergi keluar kamar untuk mengecek apakah acara ijab qobul sudah selesai dilaksanakan.
"Ijab qobul sudah selesai, sekarang kamu keluar Mel," suruh Yani.
Meli keluar kamar di bantu oleh Andini dan Bela, dari arah lain seseorang memperhatikan Andini dari kejauhan.
"Mudah-mudahan dia mau menerimanya," gumam pria itu.
Jangan lupa jempolnya ya guys, komen dan kritik juga boleh, vote apalagi boleh banget
Terima kasih sudah bersedia mampir di sini, salam hangat dari aku☺️☺️☺️☺️
__ADS_1