
Delapan bulan berlalu, Andini mulai terbiasa tanpa kehadiran Reza. Reza pun mulai sibuk dengan aktivitasnya disana, dia jarang menghubungi Andini. Andini yang pada awalnya kecewa akan sikap Reza yang berubah, lambat laun mulai menyadari apa yang dia lakukakan adalah salah. Andini selalu di sibukkan oleh les tambahan, karena bulan depan dia akan mengikuti ujian kelulusan. Andini yang pada awalnya ingin ikut kuliah bersama dengan Reza menurungkan niatnya.
"De, kamu jadi ikutan beasiswa buat kuliah diluar Negeri?" tanya Kak Raditya saat memasuki kamar adiknya itu, dia merebahkan dirinya dikasur Andini.
"Sepertinya tidak deh Kak, kalau aku kuliah diluar Negeri siapa yang bantu Ibu di toko?" tanya Andini sambil menatap Kakaknya itu, Raditya yang mendengar jawaban Andiri segera bangkit dari tidurnya. Dia merubah posisinya menjadi duduk menghadap sang adik.
"Kampus tempat Kakak lagi buka pendaftaran beasiswa, kamu coba aja De," usul Kak Raditya.
"Serius Kak?" ujar Andini antusias, Raditya langsung menganggukkan kepalanya. Andini segera mengambil laptopnya dan mencoba mendaftarkan dirinya dikampus sang Kakak, Raditya yang melihat antusias Andini berdoa dalam hati semoga sang adik bisa mendapatkan beasiswa itu.
"Selesai, mudah-mudahan diterima ya Kak," ucap Andini.
Andini dan Raditya keluar dari kamar Andini setelah mendengar suara sang Ibu memanggilnya, Andini segera menghampiri sang Ibu dan mulai membantunya. Andini mulai membuat beberapa macam kue untuk di toko, sedangkan Kak Raditya membantu membersihkan toko kue sebelum dibuka.
"De, kamu jadi ikut beasiswa di luar Negeri?" tanya Ibu sambil menaruh adonannya kedalam loyang.
"Aku daftar di tempat Kak Raditya saja Bu, Kalau aku kuliah diluar negeri siapa yang bantu Ibu nanti," ucap Andini. Ibu yang mendengarnya hanya bisa tersenyum. Andini yang telah selesai membantu sang Ibu meminta izin untuk pergi keluar bersama dengan teman-temannya, Ibu pun memberikannya izin.
Reza yang disibukkan dengan segala aktivitasnya di kampus, menjadi jarang menghubungi Andini. Reza meminta maaf kepada Andini jika dia jarang memberinya kabar, Andini hanya bisa pasrah akan kesibukkan Reza. Reza yang sedang berada di kampusnya, berjalan menuju ruang perpustakaan untuk mencari keberadaan Andrew. Reza ingin menanyakan tentang tugas yang diberikan oleh dosennya itu.
__ADS_1
"Andrew," panggil Reza ketika melihat keberadaan Andrew di depan matanya.
"Hey Reza, sini." Ajak Andrew yang sedang duduk bersama teman-temannya.
"Ada apa cari aku?" tanya Andrew ketika Reza sudah duduk disamping nya.
"Aku cari keperpustakaan malah adanya disini," ujar Reza yang lelah mencari keberadaan Andrew yang ternyata sedang berada di kantin bersama dengan teaman-temannya.
Teman-teman Andrew yang melihat kedekatan antara Reza dan Andrew bertanya-tanya, siapa sosok pria itu. Andrew yang melihat banyak mata yang bertanya tentang Reza segera memperkenalkannya, Andrew menjelaskan siapa Reza dan berasal dari mana.
"Jadi kamu tetangga apartemen Andrew?' tanya seorang perempuan yang memperkenalkan dirinya bernama Clara itu.
"Cukup menarik," gumam Clara dalam hati.
Reza yang sudah mendapatkan apa yang di inginkan segera pamit undur diri, karena dia harus segera mengerjakan tugasnya. Clara yang penasaran akan sosok Reza mulai menanyakan dengan Andrew, Andrew yang mendengarkan pertanyaan Clara mengerti akan maksud darinya.
"Andrew, seberapa dekat kamu dengan Reza?" tanya Clara yang masih penasaran.
"Dekat sih baru-baru ini, dia itu pacarnya mantan aku," jawab Andrew jujur. Karena dia tidak ingin Andini tersakiti untuk yang kedua kalinya, dahulu dia ingin merebut kembali Andini dari tangan Reza tapi setelah lihat senyum Andini saat bersama Reza Andrew mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Serius kamu Drew? Reza pacarnya mantan kamu?" tanya Clara yang tidak percaya akan ucapan sahabatnya itu.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Andrew, "Jangan coba-coba mendekatinya Cla, cukup aku yang membuat Andini terluka dulu," tambah Andrew yang berharap Clara tidak mengambil Reza dari Andini. Clara yang mendengar permintaan Andrew hanya tertawa, "Jodoh siapa yang tahu Drew, aku tidak akan merebutnya tapi bagaimana kalau dia yang datang padaku?" ujar Clara dengan penuh percaya dirinya.
Beberapa bulan berlalu Reza yang selalu sibuk dengan aktivitasnya di kampus mencoba berfikir, akankah dia harus meneruskan hubungannya dengan Andini. Reza segera menghubungi Andini, Reza ingin mencoba untuk lebih fokus akan kuliahnya disana dia tidak ingin mengecewakan keluarganya. Andini yang awalnya merasa gembira karena Reza menhubunginya, seketika berubah suasana hatinya.
"Ada apa, kok tumben kamu telepon?" tanya Andini yang merasa heran Reza menelponnya, karena ada hari-hari tertentu Reza baru bisa menelponnya.
"Maafkan aku Din, aku tidak bisa seperti ini terus. Aku tidak mau membuatmu tambah khawatir karena aku tidak sempat memberimu kabar setiap waktu," jelas Reza yang sebenarnya tidak ingin mengakhiri hubungannya akan tetapi dia juga tidak ingin Andini terus memikirkan dirinya ketika dia tidak bisa memberinya kabar. Andini yang merasa terpukul akan keputusan Reza segera mematikan pangggilan telepon itu, Reza yang merasa bersalah mencoba menghubungi Andini kembali. Tetapi tidak diangkat oleh wanita itu, perasaan bersalah semakin Reza rasakan dia berharap Andini dapat mengerti nantinya.
"Semoga kamu dapat memaafkan kesalahanku saat aku kembali nanti dan semoga kamu mengerti akan keputusanku," lirih Reza yang terus memikirkan Andini. Dia memang bodoh telah memutuskan Andini tapi dia juga tidak ingin Andini merasa terbebani dengan hubungan jarak jauh ini.
Pagi ini Andini berjalan kesekolah dengan perasaan yang tidak menentu, dia masih memikirkan perkataan Reza yang telah memutuskannya secara sepihak. Banyak pertanyaan didalam hati dan pikiran Andini, "Ada apa dengannya? Apa salahku?" gumam Andini dalam hati.
Meli yang baru tiba di kelasnya dan melihat Andini menenggelamkan kepala dibalik tangan segera menyapanya, Meli terkejut melihat kedua mata Andini yang bengkak akibat terlalu banyak menangis. Meli juga melihat dari sorot mata Andini bahwa dia sedang tidak baik-baik saja, Meli mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Kamu kenapa Din, cerita sama aku." pinta Meli yang tidak tega melihat Andini terus menangis. Andini menceritakan semua yang terjadi dengannya dan juga Reza, Meli yang mendengarnya merasa sangat marah. Andai Reza ada disana mungkin dia akan memberi pelajaran kepada pria itu.
"Jadi Reza memutuskan hubungannya dengan kamu," teriak Beni yang tidak sengaja mendengar percakapan Meli dan Andini itu. Beni yang ingin segera menelpon Reza untuk menanyakan tentang hal itu segera mengurungkan niatnya, karena Andini tidak ingin Beni dan Reza bermusuhan. Andini mencoba menyakinkan Beni dan Meli bahwa dia akan baik-baik saja, dia hanya butuh waktu untuk menerimanya. Beni dan Meli berharap semuanya akan baik-baik saja nantinya.
__ADS_1