MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 43 MULAI DARI AWAL


__ADS_3

Andini yang terlihat lelah setelah seharian ini mengerjakan soal ujiannya kembali kerumah, dia berjalan perlahan kedalam kamarnya setelah mengucapkan salam dan menyapa semua yang ada didalam rumahnya. Andini langsung merebahkan dirinya di kasur kesayangannya tanpa melepaskan seragamnya terlebih dahulu, Andini yang berbaring sambil menatap langit kamarnya sedang memikirkan apakah ini adalah jalan yang terbaik untuknya. Sambil memejamkan matanya Andini kembali teringat akan jadwal pengumuman penerima beasiswa di kampus Kak Raditya, dia bergegas mengambil laptopnya dan mencoba melihat apakah dia mendapatkannya atau tidak. Andini yang seminggu ini terlihat murung akibat kisah cintanya dengan Reza harus berakhir kini dapat tersenyum lagi, sebab dia mendapatkan beasiswa di kampus tempat Kak Raditya menuntut ilmu.


"Kakak..." teriak Andini keras hingga kedua orang tuanya dan juga Raditya segera menghampiri Andini di kamarnya.


"Andini ada apa?" tanya Ibu yang panik mendengar teriakan anak perempuannya itu, Andini bukannya menjawab pertanyaan sang Ibu malah memeluknya dengan erat. Ayah dan juga Raditya yang berada disana merasa heran dengan sikap Andini, tak lama Andini melepaskan pelukannya dari sang Ibu dan bergantian memeluk sang Ayah dan Kakaknya secara bergantian.


"Aku... Aku..." ucap Andini yang menggantung ucapannya dan membuat keluarganya merasa panik.


"Ada apa Andini?" tanya Ayah yang ikut panik melihat Andini yang tiba-tiba menangis tersedu-sedu.


"Aku diterima pengajuan beasiswanya," ujar Andini yang masih tidak bisa menahan air mata bahagianya.


"Apa, kamu serius De?" sekarang Raditya yang bertanya, Andini menganggukkan kepalanya dan segera mengusap air matanya.


"Iya Kak, nagapain aku bohong. Lihat saja sendiri," kata Andini sambil memberikan laptopnya kepada Raditya. Raditya yang sedang memeriksanya langsung tersenyum senang dan tak segan mencium kepala Andini serta memeluknya dengan erat.


"Kakak.. uhuk... uhuk..." rintih Andini yang tidak dapat bernafas akibat Raditya memeluknya dengan erat.


"Maaf De, Kakak bangga sama kamu. Kamu bisa mendapatkan beasiswa di tempat Kakak juga,"  puji Raditya kepada adik tersayangnya itu.

__ADS_1


Ibu dan Ayah yang mendengar penuturan Raditya segera memeluk Andini dan mencium puncak kepala Andini seraya mengucapkan kata selamat serta doa-doa yang mereka berikan, Andini sampai tidak bisa menahan laju air matanya kembali akibat terharu akan doa-doa dari keluarganya.


"Terima kasih semuanya, ini berkat doa Ibu, Ayah dan Kakak juga," imbuh Andini yang merasakan bahagia dikelilingi oleh keluarga yang selalu mendukung keputusannya itu. Walau sudah tidak bersama dengan Reza lagi, Andini mencoba bangkit demi keluarga yang menyayanginya, dia berjanji pada dirinya dan keluarganya untuk tidak larut dalam masalahnya.


Andini yang pagi ini bangun dengan lebih ceria dari hari kemarin-kemarin, saat di sekolah pun senyum Andini kembali terbit. Meli dan Beni yang satu kelas dengan Andini merasa heran, sebab Andini yang seminggu ini selalu murung kembali ceria seperti dahulu. Andini mulai memperhatikan penjelasan yang di berikan oleh gurunya itu, Andini berjanji untuk kembali belajar dengan serius dan giat.


"Din kantin yuk," ajak Meli ketika jam pelajaran sudah berganti dengan jam istirahat.


"Ayo," balas Andini sambil merangkul pundak sahabatnya itu. Selama di perjalanan Beni maupun Meli bertanya-tanya tentang perubahan sikap Andini hari ini, sebab kemarin Andini masih terlihat murung apalagi setelah bercerita tentang kisah cintanya dengan Reza yang harus putus.


"Din, kamu sehat kan?" tanya Bela sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Andini. Bela dan Yani pun di buat heran akan tingkah sahabatnya itu.


"Aku juga tidak tahu, dari tadi pagi sikapnya sudah berubah tidak seperti kemarin-kemarin," jawab Meli yang paham akan tatapan dari para sahabatnya itu.


"Kalian mau tahu kenapa aku seperti ini?" tanya Andini dengan senyum khasnya, yang lain hanya bisa mengaggukan kepalanya bersama-sama.


"Pengajuan beasiswaku di kampus Kak Raditya di terima, minggu depan selesai ujian aku harus kesana buat urus data-data yang di perlukan," papar Andini menjelaskan tentang perubahan sikapnya hari ini.


"Din, kamu serius? Selamat ya," ucap Meli yang menyadari apa yang di bicarakan Andini.

__ADS_1


Semua teman-temannya langsung memberikan ucapan selamat, Andini yang mendengarnya hanya bisa terharu karena memiliki sahabat yang begitu baik dan perhatian. Mereka tidak memperdulikan keberadaannya sekarang, mereka semua berpelukan dengan tangis haru. Beni yang dilarang ikut gabung hanya bisa tersenyum melihat kelakuan para sahabatnya itu, dia berharap Andini bisa seperti itu selamanya.


"Mulailah kisahmu dari awal lagi ya Din, aku selalu berharap yang terbaik untukmu," gumam Beni dalam hati.


Seminggu berlalu hari ini Andini bersama dengan teman-temannya pergi menuju kampus Kak Raditya, Andini menyerahkan data-data yang diperlukan untuk pengajuan beasiswanya. Andini pergi kesana ditemani oleh para sahabatnya yang juga sekalian mendaftar di tempat yang sama, Andini merasa bahagia memiliki sahabat seperti mereka. Saat telah tiba di kampus Kak Raditya mereka semua menuju ruang administrasi kampus tersebut, Andini yang belum selesai dengan urusannya menyuruh para sahabatnya menunggu dikantin kampus.


"Aku masih belum selesai, kalian tunggu dikantin saja ya. Nanti menyusul kalau sudah selesai dan sekalian pesankan aku makanan," pinta Andini yang menyuruh mereka semua menunggunya di kantin.


Beni dan yang lainnya bergegas menuju ke kantin kampus tersebut, Beni dan Meli segera memesankan mereka makanan. Disaat Bela dan Yani mencari bangku yang kosong matanya tidak sengaja bertemu dengan Kak Raditya dan temannya yang juga sedang makan di kantin kampus.


"Kak Radit," sapa Bela saat tiba di samping meja yang Raditya tempati.


"Loh kalian sedang apa disini?" tanya Kak Raditya yang heran ada teman-teman Andini disana, Bela dan Yani menceritakan maksud kedatangan mereka ke kampus itu.


"Kita boleh numpang duduk disini Kak?" tanya Yani saat melihat banyak bangku kosong disamping Kak Raditya dan Rian.


"Silakan saja, iya Andininya mana?" tanya Raditya kepada Bela, Rian yang mendengar nama Andini langsung terkejut.


"Tadi masih di ruang administrasi Kak, tapi tadi dia suruh pesankan makanan terlebih dahulu," ujar Meli yang tiba sambil membawa makanan dan minuman di tangannya. Beni yang berada dibelakangnya langsung menaruh makananan yang berada di tangannya juga. Sambil menunggu kedatangan Andini mereka berbincang-bincang tentang sikap Andini setelah kisah cintanya berakhir dengan Reza, Rian yang mendengarkan tersenyum senang akan berita tersebut. Dia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan cinta Andini, Rian akan berusaha untuk membuat Andini menyukainya nanti. Raditya awalnya kecewa dengan sikap Reza yang memutuskan hubungannya dengan adiknya itu, tapi mungkin itu adalah jalan yang terbaik untuk kedua. Raditya mulai memaklumi sikap yang di ambil oleh Reza, dan dia sudah memaafkan Reza.

__ADS_1


__ADS_2