
"Sayang," panggil Maya saat ibu tiga orang anak itu masuk ke dalam ruangan di mana Andini berada. Reza yang sedang memberikan air minum untuk sang istri sedikit terkejut, "Mamah," jawab Andini sambil memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Kamu kenapa bisa seperti ini sih?" tanya Maya.
"Tadi Andini pingsan Mah, makanya aku langsung bawa Andini ke rumah sakit," Reza menjawab pertanyaan sang Mamah mertua.
Maya menatap wajah Andini, "Terus bagaimana keadaannya sekarang Za?" tanya Maya yang ingin mengetahui keadaan sang anak.
"Alhamdulillah kata dokter tidak apa-apa, cuma memang beberapa hari ini Andini sibuk di kantor jadi makan siangnya sedikit berantakan." Reza memberitahu keadaan Andini kepada sang ibu mertua, sebab dia sudah bingung memberitahu agar wanita itu memikirkan kondisinya juga.
"Maaf," ucap Andini yang merasa bersalah karena tidak mendengarkan perintah sang suami.
Reza meminta Andini untuk mengundurkan diri dari perusahaan sang ayah, tapi dengan alasan bosan jika di rumah saja sehingga mau tidak mau Reza mengizinkannya untuk tetap bekerja dengan beberapa perjanjian.
Maya duduk di brangkar tempat Andini sedang menyenderkan tubuhnya, wanita paruh baya itu segera memeluk sang anak dan memberi beberapa nasihat yang membuat Andini menganggukkan kepalanya.
"Suami kamu benar sayang, bukan dia mau mengurungmu tapi itu semua di lakukan demi buah hati yang berada di perutmu," ujar Maya sambil mengelus perut rata Andini.
Andini merasa bersalah karena hampir saja kehilangan calon buah cintanya dengan Reza, "Maafkan aku Mah," ucap Andini sambil menggenggam tangan Maya.
"Jika kamu tetap ingin bekerja, perhatikan kondisi badanmu dahulu. Mamah tidak ingin terjadi sesuatu dengan calon cucu Mamah," Maya mengerti akan perasaan sang anak terlebih saat hamil seperti ini.
Andini menganggukkan kepalanya, "Nanti aku izin cuti dulu sama Kak Radit," putusnya yang membuat Reza dan Maya bernafas lega.
Maya memberikan beberapa saran kepada sang anak, mengingat ini adalah hal pertama yang di rasakan Andini. Orang tua mana yang tega melihat anaknya sakit, terlebih saat melihat Andini yang terus memuntahkan makanannya.
Dengan perlahan Maya memijit tengkuk Andini agar merasa lebih baik, setelah itu dia memberi segelas air hangat yang tersedia di sana. Reza pamit ke kantor untuk melaksanakan rapat terlebih dahulu, awalnya pria itu berat meninggalkan sang istri namun karena desakan ibu mertua yang bilang akan berada di sana sampai dirinya kembali nanti.
__ADS_1
"Mah," panggil Andini saat merasakan sedikit mual namun dia menahan agar tidak muntah kembali.
Maya yang sedang membaca majalah di sofa langsung menghampiri sang anak, "Ada apa?" tanyanya lembut.
Andini sedikit berpikir dengan perasaan saat ini, ingin makan sesuatu tapi takut untuk mengungkapkannya. "Ada apa sayang?" tanya Maya lagi saat Andini tidak menjawab pertanyaannya.
"Rasanya ngidam itu seperti apa sih Mah? Terus haruskah di turuti?" tanya Andini ragu, sebab dari awal dirinya mengetahui sedang mengandung dia tidak pernah meminta hal macam-macam kepada Reza.
"Kamu sedang ingin makan sesuatu?" tanya Maya yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari anak keduanya.
"Kamu mau apa biar Mamah carikan," sambung Maya yang ingin mengambil tas miliknya namun di cegah oleh Andini.
" Mamah di sini aja temeni aku, jangan kemana-mana," pinta Andini yang membuat kening Maya mengkerut.
"Loh, bukannya kamu ingin makan sesuatu lalu kenapa Mamah tidak boleh pergi?" tanyanya.
"Mamah tahu kok perasaan kamu, kan Mamah juga pernah merasakan," ledek Maya yang membuat muka Andini memerah seketika.
"Kalau ingin makan sesuatu bilang saja sama Reza, Mamah yakin dia akan langsung membelikan terlebih jika itu keinginan anak yang ada di perutmu," sambung Maya.
Andini mengelus perutnya yang masih rata, iya usia kehamilan Andini baru menginjak bulan ketiga sehingga belum terlalu terlihat perut buncitnya. Andini tanpa ragu langsung mengambil ponsel miliknya dan menghubungi suami tercinta, dia mengutarakan keinginannya kepada Reza.
"Bagaimana?" tanya Maya yang penasaran dengan hasilnya, tadi saat sang anak menelepon menantunya dia sedang berada di dalam kamar mandi.
"Kak Reza mau kok beliin, malah katanya sebentar lagi sampai sini." Terlihat wajah ceria Andini saat keinginannya di penuhi oleh sang suami, Maya yang melihat itu tersenyum apalagi melihat wajah bahagia sang anak.
Tidak berselang lama pintu ruangan itu terbuka, pria yang dari tadi di tunggu datang sambil membawa beberapa kantung makanan pesanannya.
__ADS_1
"Bawa kesini Kak," perintah Andini saat melihat sang suami yang malah menaruh kantong makanan itu ke atas meja.
"Sabar dong, kan tidak semuanya untuk kamu," ucapnya sambil mengambil satu kotak makanan dan di berikan kepada sang istri.
Wajah Andini berubah seketika, dia terlihat senang saat melihat makanan yang sebenarnya beberapa hari ini dia inginkan.
"Gimana enak?" tanya Reza yang melihat sang istri makan dengan lahapnya.
"Enak banget, kamu beli dimana?" tanya Andini di sela-sela makannya. Dia tidak pernah merasakan masakan seenak itu, padahal di lihat dari kotaknya pasti sama saja hanya berbeda lokasi pembelian.
"Segitunya ya kalau orang ngidam, perasaan itu toko tempat aku beli sama aja deh." Reza menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Dia merasa takjub dengan wanita hamil karena dia rela membuat tubuhnya tidak seperti dahulu, dan nafsu makan yang bisa tiba-tiba berubah.
"Mamah juga makan ya, itu tadi aku beli beberapa," ucap Reza kepada ibu mertuanya.
"Tidak usah Za, Mamah tadi sudah makan di kantin bawah saat Andini tidur tadi," jujur Maya yang membuat Andini melepas sendoknya saat makanan di hadapannya telah habis tidak tersisa.
"Mamah kenapa harus nunggu aku tidur sih, kan aku tadi bilang tidak apa-apa sendiri di sini," Andini sedikit cemberut yang membuat Maya tertawa melihatnya.
"Iya maaf, Mamah tadi baru berasa lapar saat kamu tidur jadi ya Mamah turun saja," kekeh Maya membuat Reza menggelengkan kepalanya.
Maya pamit untuk kembali ke rumahnya, dia berjanji akan kembali lagi besok untuk menemani sang anak. Sepeninggal Maya, Andini menceritakan jika dirinya ingin makanan itu dari beberapa hari yang lalu.
"Kenapa tidak bilang hmmmm?" tanya Reza sambil menyelipkan rambut Andini yang menutupi wajah cantiknya.
"Kan aku pikir itu cuma keinginanku saja, tadi Mamah cerita tentang ngidam dan mungkin aku ngidam," ujar Andini yang memeluk lengan Reza. Reza juga bercerita tentang dirinya yang tiba-tiba ingin makan sesuatu saat di kantor tadi, bukan Reza namanya jika dia tidak dapat apa yang di inginkannya.
Hallo semua, baru lanjut bikin extra chapter di sini. Asli ya kalau udah niat bisa langsung jadi ini bab😅😅😅😅😅
__ADS_1
Mohon dukunganya dengan cara like, komen dan vote tapi yang paling aku tunggu itu like kalian. Like itu gratis kok, jadi plis ya like semua karya aku. Terima kasih juga sudah mau mampir dan membaca cerita aku, miss you all.🤗🤗🤗🤗🤗