
"Tawaran apa ya Kak?" tanya Andini, Reza menarik hidung gadis di depannya itu. "Kamu serius lupa dengan lamaran aku Din?" Reza yang tidak percaya Andini akan melupakan dirinya secepat itu.
"Oh kalau itu aku ingat kok Kak, aku fikir tawaran apa," kekeh Andini yang terlihat sangat menggemaskan di mata Reza.
"Lalu bagaimana jawaban kamu sekarang?" tanya Reza yang sudah tidak sabar ingin mengetahui jawaban dari gadis di hadapannya itu.
"Ya ampun Kak, ngelamar anak gadis kayak aku kok tidak ada romantis-romantisnya sih," ledek Andini sambil tertawa karena melihat wajah Reza yang memerah.
"Waktu itu aku lamar dengan romantis kamu tolak, sekarang tidak romantis di tolak juga," pasrah Reza yang berpura-pura menjadi sedih dengan jawaban Andini.
Andini yang mendengar pernyataan Reza segera menampiknya, "Kata siapa aku tolak Kakak? Kan aku cuma bilang tidak romantis bukan tidak mau," ucapnya. Andini yang tersadar akan ucapannya segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, dirinya merasa malu telah mengatakan itu di depan pria yang telah lama dia nantikan.
"Jadinya di terima atau tidak?" tanya Reza sambil menatap wajah Andini.
"Kakak minta izin dulu sama Ayah, Ibu dan Kak Raditya, baru nanti aku kasih jawabannya," pinta Andini. Dia ingin agar Reza terlebih dahulu meminta restu kepada kedua orang tua dan juga Kakaknya.
"Okeh, siapa takut," ucap Reza yang berani dengan tantangan yang di berikan oleh Andini. "Nanti pulang tunggu aku dahulu ya, jangan pulang sebelum aku tiba," perintah Reza.
"Iya aku tunggu, awas ya kalau Kakak tidak datang," rajuk Andini di depan Reza. Di saat mereka sedang asyik berbicara, Rian datang memasuki ruangan miliknya.
"Ternyata masih di sini kalian," ucap Rian sambil berjalan menuju meja kerjanya. "Aku pikir kalian berdua sudah pergi," sambungnya.
"Kamu mengusir aku Kak?" tanya Andini yang mengerucutkan bibirnya.
"Aku tidak mengusir kamu Din, kamu itu kan sudah seperti adik aku sendiri jadi mana mungkin aku mengusir kamu," ucap Rian yang berjalan ke tempat di mana Andini dan Reza sedang duduk. "Kamu tidak kembali ke kantor Za?" tanya Rian dengan tatapan yang sengaja di buat seperti tidak suka dengan keberadaan pria itu.
__ADS_1
"Biasa saja sih tatapanmu," ujar Reza yang tidak terima dengan tatapan Rian.
"Memang ada yang salah sama aku?" tanya Rian dengan nada ketusnya. Tak lama tawa Rian pecah mengisi seluruh ruangan itu, "Tidak usah cemberut seperti itu Za, aku hanya bercanda," ujarnya.
"Sudahlah aku pamit dahulu, mau pergi ke kantor Beni," ucap Reza. "Nanti tunggu aku, jangan pulang lebih dahulu Din," perintah Reza. Pria itu pamit berlalu meninggalkan Andini dan juga Rian, dia ingin membuat kejutan untuk Andini nanti.
Reza meninggalkan gedung perkantoran milik Rian, tujuannya saat ini adalah gedung perkantoran milik Beni yang tak jauh dari kantor Fahmi dan juga Dika. Reza menghubungi satu persatu para sahabatnya, mereka akan bertemu di kantor milik Beni.
"Waw, bos kita sudah tiba saja di sini," ledek Fahmi yang baru tiba di ruangan milik Beni. Di sana sudah terlihat Reza dan Dika yang sedang menunggu kedatangannya, "Lama banget kamu Mi," ucap Reza yang tidak sabar menunggu sahabatnya itu.
"Memang apa yang akan kita bicarakan?" tanya Dika yang masih bingung kenapa dirinya di suruh datang ke sana.
"Kenapa tidak ada yang memberi tahu jika Andini bekerja di kantor milik Rian?" selidik Reza karena beberapa bulan yang lalu Fahmi bercerita jika Andini pergi keluar negeri untuk meneruskan pendidikannya dan bekerja di sana, tapi kenapa tiba-tiba gadis itu muncul di hadapannya ketika dia sedang datang bertamu.
"Awalnya memang Andini akan berangkat ke luar negeri tetapi pada saat pesawat akan lepas landas dia terlambat datang dan baru ada pesawat lagi besok sore, setelah menunggu akhirnya Andini membatalkan keberangkatannya. Aku juga baru tahu setelah satu Minggu kemudian, itu juga tidak sengaja bertemu," terang Fahmi menjelaskan apa yang dia tahu.
"Maafkan aku Za, aku melakukan ini semua karena Andini yang memintanya. Aku bisa apa jika mereka semua kompak memintanya," pasrah Fahmi saat para sahabat serta kekasihnya meminta bantuan untuk menyembunyikan Andini dari Reza untuk beberapa waktu.
"Ya sudah jangan di pikirkan lagi Za, yang penting sekarang kamu sudah tahu keberadaan Andini dan apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami?" tanya Dika menyudahi perdebatan antara Reza dan Fahmi. Karena bagaimanapun merek berdua adalah sahabat terbaik yang dirinya punya, Beni hanya tersenyum melihat tingkah mereka bertiga.
"Bantu aku untuk melamar Andini kembali, tapi Andini memberi aku syarat untuk meminta restu kepada kedua orang tuanya dan juga Kakaknya," tutur Reza yang meminta pendapat kepada sahabatnya itu agar dirinya tidak mengulangi kesalahan di masa lalu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, saatnya bagi para karyawan untuk pulang ke rumah masing-masing. Reza yang merasa belum menemukan ide yang cocok segera pamit kepada para sahabatnya, "Aku pergi dahulu ya, nanti malam kita bicarakan lagi di tempat biasa."
"Mau kemana kamu?" tanya Beni saat melihat Reza bangun dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Aku sudah janji akan menjemput Andini Ben, nanti malam kita sambung lagi di tempat biasa," ucap Reza yang berlalu meninggalkan para sahabatnya itu.
"Dasar bucin," teriak Fahmi yang langsung mendapat gelakan tawa dari Dika dan Beni. Reza yang mendengarnya hanya acuh menanggapi ejekan mereka ,"Terserah."
"Sorry telat, biasa habis ada yang ngambek," ucap Beni yang baru.
"Santai aja Bro, aku juga belum lama sampai," terang Dika yang baru juga tiba di sana. "Yang ngajak ketemu mana dia ini?" Fahmi yang tadinya hanya diam melihat para sahabatnya, membuka suara menanyakan keberadaan Reza saat ini.
"Tidak tahu aku, kan janji ketemu jam 8 dan ini sudah lewat 30 menit," gerutu Fahmi yang sebenarnya sudah memiliki janji dengan Yani, tetapi mau tidak mau dia harus membatalkan acaranya.
Tak berselang lama orang yang dari tadi sedang di tunggu akhirnya tiba juga, "Maaf telat, biasa ada iklan lewat," ujar Reza tanpa easa bersalahnya dia langsung memesan makanan dan minuman untuk dirinya dan juga para sahabatnya.
"Untung sahabat, kalau bukan males banget aku nunggu kayak gini," cibir Fahmi. Reza hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, "Maaf," ucapnya.
"Terus sekarang kita mau buat rencana apa?" tanya Beni yang sebenarnya sudah memiliki ide bagus untuk Reza.
Beni segera menjelaskan rencana yang dirinya punya, Reza, Dika dan Fahmi mendengarkan dengan seksama dan tak lama terbit senyum manis dari bibir Reza.
"Tidak sia-sia aku memiliki sahabat seperti kalian," ucap Reza dengan haru karena bisa memiliki sahabat seperti mereka.
Merek melanjutkan acara makannya, "Tenang ini semua biar aku yang bayar," imbuh Reza yang mendapatkan jempol dari para pria di hadapannya.
"Itu baru sahabat terbaik," ledek Fahmi. Reza yang mendengar segera menyahuti ucapan sahabatnya itu. "Untung lagi baik, kalau tidak ..., " ucapnya.
Hola semuanya, terima kasih sudah masih mau membaca cerita milik aku. Jangan lupa like, komen dan vote nya ya.
__ADS_1
Aku juga mau ngucapin MINAL AIDIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN