
"Ayah," panggil Raditya saat menemukan keberadaan sang ayah.
"Iya ada apa nak," ucap Wisnu yang langsung menutup berkas di tangannya.
Raditya mengutarakan maksudnya, "Maaf Ayah, bisakah kita berbicara sebentar ini tentang Siska."
Wisnu yang mendengar sang anak ingin berbicara tentang Siska hanya bisa bertanya apa yang ingin di bicarakan tentang anak itu, apakah Raditya tahu akan siapa Siska sebenernya? Begitu pikiran Wisnu saat ini.
"Ayo kita bicara di ruangan lain," ucap Wisnu yang mengajak Raditya agar mengikuti dirinya pergi ketempat lain. "Apa yang ingin kamu tanyakan tentang Siska?" tanya Wisnu saat sampai di salah satu ruangan di rumah itu, ruangan itu dahulu adalah tempatnya bekerja jika pekerjaan kantornya terlalu menumpuk.
"Apa betul Siska itu bukan anak kandung Ayah dan Ibu?" tanya Raditya, terlihat wajah santai dari sang ayah, karena Wisnu sudah dapat menduga apa yang akan anak lelakinya itu tanyakan.
"Apa kamu ingin mengetahui semuanya?" tanya Wisnu, Raditya menganggukkan kepalanya, "Apa aku boleh tahu semuanya Ayah?"
"Ayah akan menceritakan semuanya, karena bagaimanapun kamu juga harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Wisnu yang memang sudah saatnya sang anak tertua ingin mengetahui segalanya.
"Aku akan mendengarkannya Ayah," ucap Raditya.
"Ayah harap setelah kamu mendengarkan semuanya, kamu tidak akan kecewa terhadap Ayah dan tetap menerima Siska sebagai adikmu juga," pinta Wisnu.
Wisnu mulai menceritakan awal pertemuannya dengan ibu kandung Siska, Wisnu yang pada saat itu bertugas di luar kota terlibat cinta terlarang dengan salah satu teman kantornya. Wisnu yang pada saat itu sudah menikah dan memiliki dua orang anak tidak berpikir jauh dengan apa yang dirinya lakukan, Wisnu menceritakan semuanya tanpa di tutupi sedikit pun. Raditya mulai menampakkan sikap tidak sukanya terhadap sang Ayah, tetapi dia mencoba untuk mendengarkan sampai selesai.
"Ayah minta maaf sebelumnya jika dahulu pernah berbuat jahat pada kalian, Ayah benar-benar khilaf saat melakukan itu semua," terang Wisnu yang menyadari kesalahannya di masa lalu.
__ADS_1
"Lalu sekarang di mana Ibu kandung Siska?" Raditya mulai ambil suara, dia ingin mengetahui keberadaan wanita itu. Karena baginya dia juga turut andil dalam hampir rusaknya hubungan keluarga kecilnya dahulu.
"Ibu kandung Siska meninggal saat melahirkan, dan Ayah telah menceritakan semuanya kepada Ibu. Awalnya Ibu mu tidak mau menerima Siska tetapi lambat laun dia mulai bisa menerima dan mau menganggap Siska sebagai anaknya juga," tutur Wisnu. Dia kembali teringat semua kesalahan yang pernah di perbuatnya dahulu, Wisnu kembali menceritakan kenapa kejadian naas itu terjadi. Kejadian di mana dirinya harus menikahi Sisil, ibu kandung dari Siska.
"Maafkan Ayah Radit, Ayah tahu kesalahan dahulu itu sangat tidak patut kamu contoh tapi Ayah mohon kamu mau memaafkan Ayah dan mau menerima Siska sama seperti kamu menerima Andini nak," pinta Wisnu. Pria paruh baya itu takut jika sang anak akan membedakan kedua adiknya itu, karena ini semua adalah murni kesalahannya di masa lalu.
"Ayah tenang saja, aku bukan orang yang seperti itu karena bagaimana juga Siska tetap adikku," ucap Raditya. Wisnu yang mendengar pernyataan sang anak langsung sujud di hadapannya, "Maafkan Ayah nak, maafkan Ayah," ucapnya.
Raditya yang terkejut dengan keberadaan sang ayah langsung segera mengangkat bahu sang ayah dan menuntunnya untuk kembali duduk di sebelahnya. "Ayah tidak perlu seperti itu, aku akan mencoba menerima semuanya demi kalian," ucap Raditya yang langsung mendapat pelukan dari sang ayah.
"Terima kasih nak, terima kasih," ucap Wisnu dengan haru karena anak sulungnya itu mau menerima kenyataan jika dirinya dan Siska berbeda Ibu.
Raditya pamit untuk menuju kamarnya, dia merasa lelah akan kenyataan yang sedang di hadapinya saat ini. "Tolong rahasiakan ini dari Andini," pinta Wisnu saat Raditya pergi meninggalkan dirinya di dalam ruangan itu. Raditya seketika menolehkan kepalanya dan mengiyakan permintaan sang ayah, saat Raditya keluar tidak sengaja dirinya bertemu dengan sang Ibu. "Kamu lihat Ayah di mana Dit?" tanya Maya.
"Ada apa?" tanya Maya saat melihat wajah bimbang dari sang suami.
"Raditya sudah tahu semuanya," ucap lelaki itu dengan nada yang penuh dengan penyesalan.
Maya segera menghampiri sang suami yang terduduk dengan wajah penuh air mata, Maya segera memeluk sang suami.
"Yang lalu biarlah berlalu, kita kan sudah berjanji untuk melupakan semuanya dan lagi pula aku sudah menerima kenyataan ini," tutur Maya. Wisnu yang mendengar pernyataan Maya segera memandang wajah teduh sang istri, "Maafkan aku Maya, andai semua ini tidak pernah terjadi," sesal Wisnu.
Maya segera menghapus air mata yang menetes di wajah sang suami, "Kamu sudah berjanji untuk melupakannya bukan? Jadi untuk apa di ingat kembali, Siska tetap anakku," ucap Maya. Wanita itu segera mengajak sang suami untuk beristirahat di kamar mereka, "Kita istirahat dahulu, besok kan harus mengantarkan Siska ke sekolah barunya," ajak Maya. Wisnu mengiyakan ajakan istrinya itu, mereka pergi meninggalkan ruangan yang penuh dengan kenangan pahitnya di masa lalu.
__ADS_1
"Aku harus bisa terima semuanya," gumam Raditya. Pria itu segera merebahkan tubuhnya di atas kasur yang selalu membuatnya merindukan daerah itu, Raditya dan Andini selalu merasa bahagia jika berkunjung ke sana.
"Selamat pagi semuanya," ucap Siska yang sudah rapih dengan seragam sekolah barunya. Hari ini adalah hari pertama gadis itu akan memasuki sekolah menengah pertama, Raditya dan Andini akan ikut mengantarkan gadis itu ke sekolah barunya.
"Kak nanti aku tidak usah di tunggu ya, biar aku pulang sendiri saja," ujar Siska sambil memakan sarapannya.
"Memang kenapa kalau kita tunggu?" tanya Andini. "Aku sudah dewasa Kak," sambung Siska.
"Baiklah kalau begitu, Kakak tidak akan menunggumu," putus Raditya. Siska yang mendengar ucapan sang kakak merasa sangat senang, "Terima kasih Kak."
"Din, nanti setelah selesai mengantarkan Siska kamu tolong belanjakan ini ya," ucap ibu sambil memberikan secarik kertas dan
beberapa lembar uang untuk membeli keperluan mereka selama berada di tempat itu.
"Okeh Bu, ada yang lain?" tanya Andini sambil membaca daftar apa saja yang harus dirinya beli nanti, Maya kembali berfikir lalu dia menggelengkan kepalanya. "Tidak sudah cukup," ucapnya.
Raditya segera memanaskan mesin mobilnya, "Jangan lupa pesanan Ibu Kak," ujar Andini yang mengingatkan sang kakak.
"Iya bawel," ledek Raditya yang menarik hidung sang adik gemas.
PERGI JIKA MEMANG INGIN PERGI, BERTAHAN JIKA MEMANG HARUS BERTAHAN
Terima kasih semuanya sudah berkenan meluangkan waktunya untuk mampir, jangan lupa like, komen, rate dan vote nya ya. TERIMA KASIH 🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1