MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 72 MASALAH SISKA


__ADS_3

Siska sudah terbiasa dengan nenek dan kakeknya, dia selalu membantu mereka sebelum berangkat ke sekolah. Siska sekolah pada siang hari jadi pagi hari dia dapat membantu sang nenek terlebih dahulu, "Nek aku berangkat sekolah ya," pamit Siska kepada sang nenek yang sedang merajut di kursi depan rumahnya.


"Hati-hati ya nak, jangan main dulu kalau sudah pulang," perintah nenek. Siska memberikan kedua jempol tangan miliknya, "Siap Nek," ucapnya sambil berlalu meninggalkan nenek kesayangannya. Siska berjalan seorang diri, karena jarak sekolah dengan rumah sang nenek tidaklah jauh. Gadis itu berjalan sambil mendengarkan musik hingga tidak menyadari ada seseorang yang sedang mengikutinya, di saat melewati jalan yang lumayan sepi pria itu membekap mulut Siska.


Siska yang terkejut tidak dapat melakukan apa-apa, tubuh pria di belakangnya lebih besar daripada dirinya. Siska mencoba melepaskan diri tapi usahanya sia-sia, tak lama sebuah mobil tiba di depannya. Pria itu menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil itu, "Cepat masuk," perintahnya. Siska yang merasa ketakutan mengikuti kemauan pria itu untuk masuk ke dalam mobil di depannya.


"Mau di bawa kemana aku?" ucap Siska dalam hati karena mulut serta tangannya di ikat.


"Korban sudah ada di tangan bos, kita akan segera menunju ke sana," ujar salah satu pria yang berada juga di dalam mobil. "Siapa bos mereka?" gumam Siska.


"Anak manis nanti setelah ini kamu akan mendapatkan uang banyak, aku juga akan mendapatkan komisi luar biasa jika bisa membawamu ketempatnya," tutur salah satu pria itu. Tawa di dalam mobil pecah tatkala kedua pria berkhayal akan kekayaan yang di dapat jika Siska dapat jatuh ke bos mereka.


Siska yang belum kembali ke rumah hingga malam tiba membuat nenek dan kakeknya menjadi khawatir akan keberadaan gadis itu, "Siska kemana ya? Tidak biasanya jam segini belum pulang?" tanya sang nenek. "Kakek juga tidak tahu, biasanya kan jam segini dia sudah tiba di rumah," pikiran sang Kakek menjadi bimbang.


"Ya sudah Kakek coba ke sekolah Siska dahulu, siapa tahu anak itu masih di sana karena ada pelajaran tambahan," ujar sang kakek yang bersiap-siap untuk melihat apakah Siska masih berada di sekolah atau tidak.

__ADS_1


"Nek, Kakek berangkat dahulu ya. Jangan kemana-mana takut nanti Siska pulang," perintah Kakek. Nenek menganggukan kepalanya, "Hati-hati di jalan kek," ucap nenek.


Kakek pergi ke sekolah Siska seorang diri,namun di tengah perjalanan kakek bertemu dengan seorang pemuda yang sedang kebingungan. Kakek berusaha bertanya kepada pemuda itu, "Ada apa nak? Kok sepertinya kamu sedang bingung?" tanya kakek.


Pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Rian, dia sedang melakukan perjalanan menuju rumahnya untuk menengok sang ibu. Tetapi, di tengah perjalanan dirinya kehabisan bahan bakar. "Ini Kek, motor saya kehabisan bahan bakar. Di sini tempat yang menjual bahan bakar di mana ya?" tanya Rian. Kakek segera mengambil sesuatu di dalam jok motor miliknya, "Ini nak pakai saja dahulu, Kakek selalu membawa cadangan bahan bakar," ucapnya sambil memberikan sebotol bahan bakar kepada Rian.


"Terima kasih," ucap Rian tulus. Pemuda itu segera memasukan bahan bakar ke dalam kendaraan miliknya, setelah kendaraannya dapat hidup kembali Rian ingin pamit kepada kakek. Akan tetapi terlihat wajah cemas dari sang Kakek, "Maaf Kek, Kakek mau kemana malam-malam seperti ini?" tanya Rian hati-hati. Sebenarnya dia ingin bertanya dari tadi tetapi, ada perasaan tidak enak menghantuinya.


"Cucu Kakek dari tadi belum pulang sekolah, Kakek takut terjadi sesuatu sama dia karena dia bukan warga sini asli," jelas kakek. Rian yang awalnya ingin langsung pergi ke rumahnya menawarkan diri untuk membantu sang kakek, "Aku bantu cari ya Kek," ucap Rian. Kakek mengiyakan bantuan dari Rian, menurutnya Rian terlihat pemuda yang baik walau baru pertama bertemu dengannya.


"Sudah sepi Kek sekolahnya," ucap Rian saat tiba di depan sekolah Siska bersama dengan kakek. "Kamu di mana Sis," ujar kakek lemas.


"Kakek sudah coba telpon ke ponselnya?" tanya Rian, Kakek mengambil ponsel miliknya dan memberikannya kepada Rian. "Sudah tapi tidak aktif, bisakah kamu cek lagi nak?" tanya kakek yang rasanya sudah tidak bertenaga lagi.


Rian mencoba mencari tahu lokasi keberadaan cucu sang kakek dengan maps yang ternyata aktif, "Kek ketemu," ucap Rian yang merasa bahagia telah menemukan keberadaan Siska. "Ayo nak kita langsung ke sana," ajak kakek yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Siska.

__ADS_1


Rian dan kakek bergegas menuju lokasi yang tertera di ponsel milik pria itu, "Kek menurut lokasi ini tempatnya," ucap Rian yang merasa bingung kenapa cucu sang kakek berada di sebuah tempat hiburan malam. "Siska tidak mungkin seperti itu, pasti ada yang tidak beres," tutur kakek.


Rian dan kakek memasuki tempat itu, mereka berdua mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Sampai akhirnya mata kakek tidak sengaja melihat Siska yang sedang duduk dengan salah satu pelanggan di sana, "Nak itu cucu Kakek," ucapnya sambil menunjuk ke salah satu sudut di tempat itu.


Rian berjalan menuju meja yang di tunjuk kakek, "Permisi maaf boleh saya bertanya?" tanya Rian yang berpura-pura menanyakan seseorang di meja itu.


"Iya ada apa?" tanya seorang pria yang duduk di samping Siska. Siska hanya menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap sekelilingnya. "Gimana bos, barang baru ini," ujar salah seorang pemuda yang menurut Rian tidaklah jauh umurnya dengan gadis di sebelahnya. "Okeh juga, tahu saja barang baru," ucap pria paruh baya yang mencoba mencolek dagu Siska namun langsung di tepis oleh gadis itu. Rian yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka mengepalkan kedua tangannya, kakek yang sudah tidak sabar segera menghampiri mereka.


"Siska," ucap kakek. Siska yang merasa namanya terpanggil segera melihat siapa yang memanggilnya, "Kakek," ujar Siska pelan. Terlihat dari mata Siska memohon pertolongan kepada mereka, "Kalian mau apakan cucuku," geram kakek yang mengenal salah satu dari mereka. Rizal merasa terkejut dengan kedatangan kakek Siska, dia mencoba melarikan diri.


Rian yang melihat Rizal akan melarikan diri seketika memukul wajah pemuda itu dengan tangan kanannya, "Kurang ajar kamu apakan gadis itu?" ucap Rian yang sudah memukul dengan membabi buta. Banyak pasang mata yang melihat perkelahian mereka, "Sudah biar ini urusan polisi," ucap kakek yang memang sudah menghubungi polisi saat dirinya melihat Siska.


Mohon maaf baru bisa update hari ini karena ada beberapa hal yang harus di selesaikan 🤧🤧🤧🤧


Terima kasih telah mampu dan membaca ceritaku, jangan lupa like, komen, rate dan vote nya ya. Jangan lupa juga baca cerita baruku yang berjudul MIMPI TERINDAH

__ADS_1


__ADS_2