MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
EXTRA CHAPTER 8 BARU MENGETAHUI


__ADS_3

Dika dengan bersemangat pergi menuju kantor Rian berada, dia sudah tidak sabar bertemu dengan gadis yang selama ini mengisi pikirannya hingga membuat tidak bisa konsentrasi saat bekerja. Mobil yang di kendarai Dika melesat di jalan raya, jalanan hari ini sedikit lenggang sebab masih jam kantor.


Dika berhenti sejenak saat melewati toko bunga, dia membelikan sesuatu untuk Bela. "Semoga kamu suka," ucapnya sambil mencium bunga mawar yang ada di genggamannya. Dika kembali menjalankan mobilnya menuju perusahaan Rian berada, sambil bersenandung pria itu terus mengukir senyum di wajah tampannya.


Tidak butuh waktu lama untuk Dika sampai di kantor Rian, sebab kantornya tidak terlalu jauh dari milik Rian. Dengan senyum yang terus terbit di bibirnya, Dika menekan tombol lift yang ada di depannya. Pria itu memencet lantai di mana ruangan Bela berada, Dika sering datang ke tempat kerja sang kekasih sehingga tidak sulit untuk mencari letak ruangannya.


Dika membuka pintu ruangan Bela, namun dirinya terkejut saat tidak ada siapapun di dalam sana. "Kok sepi? Apa sedang rapat?" tanya Dika pelan.


Saat Dika hendak pergi dari sana, Reyna muncul dan langsung menyapa pria itu.


"Eh Pak Dika, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sambil memaki dalam hati.


Reyna sebenarnya marah dengan Dika, namun dia tidak mungkin menunjukkan kepadanya. "Sepertinya dia tidak tahu jika Bela sudah pindah tugas," gumam Reyna dalam hati. Sedikit merasa lega saat pria di depannya tidak mengetahui tentang kepindahan Bela, Reyna juga tahu jika sahabatnya itu mengganti nomor ponselnya untuk menghindari pria yang sedang berhadapan dengannya.


"Bela kemana Rey?" tanya Dika bingung sebab jika sang kekasih rapat berarti gadis di depannya pun juga berada di sana, namun apa yang di lakukannya di sini.


Dika terus berpikir, perasaannya mendadak menjadi tidak enak seperti akan mendapatkan berita buruk untuknya.


"Kalau mau tahu Bela di mana, Bapak tanya langsung dengan Pak Rian." Reyna sedikit ketus saat mengucapkannya. Dika mengeryitkan dahi, sedikit bingung dengan ucapan gadis itu.


"Terima kasih Rey, kalau begitu saya pamit ke ruangan Rian dahulu." Dika langsung bergegas menuju ruangan Rian, sebab dia tahu jika bertanya kepada sahabat sang kekasih hanya membuatnya semakin penasaran.


Dika langsung berlalu meninggalkan Reyna, dia merasa penasaran dengan maksud dari gadis itu. Pria itu mengetuk sebuah pintu ruangan yang tidak jauh dari ruangan pertama tadi, setelah mendapatkan jawaban dari dalam Dika bergegas masuk dan ingin bertanya tentang keberadaan Bela.

__ADS_1


"Yan," panggil Dika saat melihat Rian yang sedang fokus di depan laptop miliknya.


Rian yang mendengar seseorang memanggilnya, langsung melihat dan berjalan meninggalkan pekerjaannya sebentar.


"Tumben kamu kesini Dik, dan ini apa? Kamu mau kasih aku bunga?" tanya Rian saat melihat sang sahabat membawa seikat bunga mawar yang masih segar.


"Enak saja ... Aku masih normal ya," gerutu Dika.


Rian tidak bisa menahan tawanya, itu membuat Dika sedikit merajuk.


"Sudah duduk dahulu, apa yang ingin kamu tanyakan?" Rian menuntun Dika untuk duduk terlebih dahulu.


Tanpa basa-basi Dika langsung menanyakan keberadaan sang kekasih, sebab sudah beberapa hari ini gadis itu tidak menghubunginya sama sekali. Rian menaikkan sebelah alisnya, apakah pria di depannya tidak tahu jika pujaan hatinya sudah di pindah tugas atau memang Bela tidak berbicara jika dirinya sudah tidak bekerja di sana lagi. Banyak pertanyaan di kepala Rian, sebab setahu dirinya hubungan antara Bela dan Dika baik-baik saja.


Dika terlihat kaget saat mendengar kenyataan yang ada, segitunya tidak perdulikah dia sampai-sampai tidak mengetahui jika sang kekasih sudah tidak berada di kota yang sama.


"Kapan dia berangkat?" tanya Dika lemah.


"Kira-kira satu minggu yang lalu dia berangkat, awalnya dia bimbang dan tidak mau tapi tidak lama dia merubah keputusannya," jelas Rian yang tidak tahu menahu masalah apa antara Dika dan Bela.


"Apa aku boleh minta alamatnya?" tanya Dika dengan sangat merasa bersalah, dia baru sadar seminggu ini dirinya tidak berkabar dengan sang kekasih sebab dia sedang dekat dengan Rere cinta masa lalunya. Selama itu juga Dika merasa tidak nyaman hingga dia lebih memilih Bela, namun di saat Dika ingin memperbaiki kesalahannya dia malah mendapat kabar yang membuatnya tidak dapat mengampuni dirinya sendiri.


"Maaf Dik ...." Rian kembali teringat akan janjinya pada gadis itu, dia berpesan agar tidak memberi tahu siapapun dimana dirinya berada.

__ADS_1


"Maaf kenapa Yan? Aku hanya minta alamat kantor yang disana saja tidak lebih," desak Dika.


Rian menggelengkan kepalanya, pria itu terus meminta maaf karena tidak dapat membantunya. Walau sebenarnya dia juga tidak tega melihat wajah sang sahabat yang menjadi kacau, namun jadi tetaplah janji dan dia akan menepati sampai kapanpun.


Dika berlalu meninggalkan ruangan Rian dengan perasaan sangat kacau sebab saat dia ingin kembali memperjuangkan cintanya malah di tinggal pergi oleh sang kekasih. Dering ponsel milik Dika berdering, dengan cepat dia mengambil benda pipih itu dan berharap Bela lah yang menghubunginya. Namun senyum itu pudar saat tertera nama Reza di sana, dengan malas dia mengangkatnya.


"Ada apa?" tanyanya tanpa semangat.


Reza yang mendengar suara Dika hanya tertawa, jahat bukan? Di saat sang sahabat sedang bersedih dia malah mendapat cibiran dari para sahabatnya.


Ya di sini sekarang, Dika dan Reza bertemu dengan Fahmi dan juga Beni. Mereka bertemu di kantor milik Reza, hanya di sana mereka bisa leluasa bercerita maupun bekerja bersama.


"Kan dari awal sudah aku bilang, tinggalkan Rere ...." Fahmi awalnya hanya diam apalagi saat Dika bercerita tentang hubungannya dengan Rere yang kembali terjalin, sebagai seorang sahabat Fahmi hanya ingin yang terbaik untuk masa depan Dika.


"Iya aku salah Mi, terus apa yang harus aku lakukan sekarang?" keluh Dika sambil mengacak-ngacak rambut miliknya.


Reza dan Beni sedikit merasa iba pada pria di depannya, tapi mereka juga bahagia karena pada akhirnya Dika sadar akan kesalahan yang telah di perbuatny.


"Kamu tenang dahulu, nanti biar aku coba tanya sama Andini siapa tahu mereka masih sering bertukar kabar." Reza memberi ide yang sangat bagus dan itu berhasil membuat senyum Dika kembali terbit.


"Kenapa aku tidak terpikirkan sampai kesana ya," ucap Dika antusias.


Dia yakin jika pasti akan mendapatkan informasi dari para sahabatnya, hanya mereka yang Bela punya. Dika juga berjanji tidak akan pernah menyia-yiakan kesempatan untuk menebus semua kesalahannya selama ini, dia juga berjanji akan mencari dimanapun keberadaan Bela.

__ADS_1


KETIKA CINTA DAN SAYANG TIDAK BISA DI PAKSAKAN, KETIKA RASA YANG TIBA-TIBA HILANG, DAPATKAH KAMU MENGERTI AKAN HADIRMU DALAM HIDUPKU


__ADS_2