MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 40 TANPAMU PART 1


__ADS_3

Seminggu sudah kepergian Reza ke London untuk melanjutkan pendidikannya, Andini yang hari ini mulai kembali kesekolah pergi tanpa semangat. Dia bangun seperti biasa tetapi pikiran dan hatinya seperti ada yang hilang, biarpun semalam mereka berdua bertukar kabar lewat *video call. *Andini yang baru tiba disekolah berjalan dengan lunglai kedalam kelasnya, teman-teman dikelas Andini memerhatikannya dengan seksama. Terlihat wajah lesu Andini saat memasuki kelas, Meli yang sedang duduk dibangkunya langsung terbangun saat Andini menghampirinya.


"Duh yang baru seminggu ditinggal sudah kusut saja itu mukanya," ledek Beni yang baru memasuki kelasnya. Andini hanya diam saat mendengar Beni meledeknya, Beni segera menaruh tasnya di meja dan bergegas menghampiri Andini.


"Kenapa pagi-pagi di tekuk saja itu muka?' tanya Beni, Meli hanya memperhatikan percakapan mereka berdua. Tak lama Bela dan Yani ikut menghampiri Andini yang sedang menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya, mereka mencoba memberi semangat kepada Andini.


"Aku bingung Ben, aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang," sendu Andini. Reza memberi tahu padanya bahwa dia hanya bisa memberi kabar ketika weekend tiba, Andini yang mendengar keputusan Reza hanya bisa pasrah.


Andini yang tidak tahu harus berbuat apa dengan hubungannya kedepan meminta saran dan pendapat kepada para sahabatnya, Meli yang paham akan perasaan Andini mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu. Meli pernah merasakan perasaan yang sama seperti Andini saat ini, saat SMP Meli ditinggal oleh sang kekasih keluar kota. Walaupun hanya keluar kota dan tiap hari memberi kabar tidak menjamin sebuah hubungan akan berjalan seperti biasa, karena ternyata perasaan mereka mulai berubah. Bagaimana dengan Andini yang harus terpisah Negara, tak pernah terbayangkan sebelumnya.


Bel tanda masuk berbunyi, murid-murid mulai memasuki kelasnya masing-masing. Tidak terkecuali Bela dan Yani, mereka harus sgera kembali kekelasnya sebelum sang guru datang. Meli yang duduk di sebelah Andini mencoba memberinya semangat agar tidak berlarut dalam kesedihan, toh jika jodoh tak akan kemana.


"Kekantin yuk Din," ajak Meli ketika jam istirahat tiba. Andini yang awalnya tidak ingin pergi kekantin mau tidak mau ikut karena dipaksa oleh Meli dan Beni, sesampainya dikantin Andini hanya memesan minuman saja. Dia sedang tidak ingin memakan sesuatu.


Beni yang melihat Andini seperti itu memiliki sebuah ide, dia segera izin pergi ketoilet sebentar. Saat kembali Beni tertawa seorang diri, Meli dan Andini yang melihat itu bertanya ada apa dengannya, dan tak lama Beni menunjukkan wajah seseorang dilayar ponselnya. Ternyata Beni mencoba menghubungi Reza, dan dia menceritakan apa yang terjadi dengan Andini beberapa hari terakhir tanpa dirinya.


"Woy Bro, apa kabar?" tanya Beni basa basi, Andini yang melihatnya langsung tersenyum saat seseorang yang dirindukan ada dihadapannya walaupun hanya  lewat ponsel.

__ADS_1


"Lihatnya bagaimana, hhmmm?" tanya balik Reza dari seberang telpon sana.


"Za, ada yang kangen nih sama kamu. Sampai tidak berselera makan," ledek Beni sambil melirik ke arah Andini. Andini yang mendengar Beni meledeknya segera menyanggah ucapan lelaki itu.


"Enak saja, aku lagi tidak lapar Ben. Tadi pas berangkat sekolah aku sarapan dahulu," sanggah Andini yang tidak terima di jelekkan oleh Beni di depan Reza.


Reza yang melihat perdebatan antara Andini dan Beni hanya tertawa, Reza bahagia bisa melihat senyum Andini hari ini. Reza yang mulai merindukan Andini meminta izin kepada Beni untuk mengobrol berdua saja, Beni pun menizinkannya.


"Sudah sana berduaan, asal jangan lupa ponselku pulangkan," canda Beni saat Andini membawa ponselnya menuju kelas.


"Aku lagi telpon pacar dulu baru ke kampus nanti," goda Reza yang melihat wajah Andini memerah saat dia menggodanya. "Andini... Kangen," sambung Reza, Andini tertawa saat mendengar Reza berbicara seperti itu.


"Siapa suruh kuliahnya jauh, kenapa tidak disini saja sih?" tanya Andini dengan nada menggodanya.


"Kamu tuh bikin aku bingung tahu tidak? Tidak mungkinkan aku pulang kembali," rajuk Reza saat perasaan dilema sedang melandanya.


"Iya maaf, kamu yang rajin ya kuliahnya. Biar bisa cepat pulang, kamu disana jangan nakal ya," pesan Andini agar Reza bersemangat kuliah disana. Andini dan Reza bertukar cerita, Reza menceritakan bagaimana kehidupannya disana dan Andini menceritakan bagaimana harinya tanpa ada Reza. Reza yang mendengar pengakuan Andini tersenyum bahagia, dia tidak akan bisa melupakan hari ini.

__ADS_1


Bel istirahat berbunyi pertanda murid-murid akan memulaib pelajaran kembali, Andini yang mendengar bel istirahat berbunyi, segera minta izin kepada Reza untuk mengakhiri panggilannya. Sebelum panggilannya dimatikan oleh Andini, Reza berjanji akan menghubungi Andini kembali nanti. Andini yang mendengarnya tersenyum senang, dan akan menantikan panggilan telepon dari lelaki itu.


Andini belajar dengan penuh semangat setelah mendapat semangat dari Reza, Meli yang melihat semangat Andini hari ini tersenyum senang. Karena sudah beberapa hari ini Meli tidak melihat semangat Andini, dia terlihat lebih pendiam dan murung setelah kepergian Reza. Jam pelajaran berakhir Andini dan teman_temannya bergegas menuju parkiran sekolah, mereka semua akan pergi kerumah Andini untuk bekerja kelompok. Beni yang sudah berada di parkiran menggerutu menunggu kedatangan Meli dan juga Andini yang pamit ke toilet terlebih dahulu, Bela dan Yani tertawa mendengar Beni yang sedang mengomel seorang diri itu.


"Lama sekali sih kalian, ketoilet apa makan dulu sih?" omel Beni ketika Andini dan Meli tiba di tempat mereka menunggu.


"Bawel banget sih Ben, kita ketoilet sebentar tadi cuma pas dijalan mau kesini Ratu kita dapat panggilan telpon dari sang Raja jadi ya berhenti dulu," jelas Meli. Andini menerima panggilan telpon dari Reza setelah mereka selesai dari toilet tadi.


"Kan bisa angkat sambil jalan Din, keburu siang kita semua kerumah kamunya," seru Beni yang langsung berlalu meninggalkan mereka semua menuju mobilnya. "Mau menunggu apalagi, ayo cepat naik," omel Beni.


Mereka mulai meninggalkan area sekolah menuju rumah Andini, selama di perjalanan mereka tak henti-hentinya menggoda Beni yang sedang merajuk. Beni yang digoda teman-temannya hanya bisa mengomel dalam hati, "Awas saja kalian ya," gumam Beni dalam hati. Mobil yang Beni kendarai memasuki halaman rumah Andini, bersamaan dengan itu mobil Kak Raditya juga baru tiba. Beni dan Kak Raditya segera memarkirkan mobilnya, dari mobil Raditya turun beberapa temannya yang juga akan main kerumah Andini. Bela yang tidak asing dengan salah satu teman Raditya segera menyapanya.


"Hay Kak Rian, apa kabar? Main kesini juga ya?" sapa Bela.


"Hay juga, aku baik kok. Kita semua kesini ada tugas kampus yang mau di kerjakan," jelas Rian. Tak lama kedua mata Rian menangkap sosok Andini yang berjalan dengan Beni disampingnya, "Siapa pria itu, pernah lihat tapi dimanan ya. Apa itu pacarnya Andini, mereka terlihat sangat dekat" gumam Rian dalam hati saat melihat Andini dan Beni terlihat sangat akrab.


"Hay Andini apa kabar," sapa Rian yang memberanikan diri adik temannya itu. Teman-teman yang datang bersama dengan Rian dan Raditya hanya terdiam melihat percakapan mereka, terkecuali Riska dia bertanya bagaimana bisa Rian terlihat dekat dengan keluarga Raditya. , Mereka semua memasuki rumah Andini dan Raditya dengan bersamaan, mereka pun memperkenalkan dirinya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2