
Andini dan Meli tiba di salah satu restoran yang tidak jauh dari kantornya, mereka tidak ingin terlambat kembali ke kantornya nanti.
"Kamu yakin dengan apa yang dilihat tadi?" tanya Meli setelah mereka memesan makanan untuk menu makan siangnya.
"Yakin, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri tadi Clara menyebut Andrew itu sayang," tutur Andini yang mengingat percakapan mereka tadi.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Meli kembali, dia ingin memastikan apa yang akan dilakukan oleh sahabat di depannya itu.
"Entahlah," jawab Andini bingung. Gadis itu masih belum mengetahui apa yang akan dilakukannya setelah mengetahui kebenaran itu nanti.
"Sebenarnya perasaan kamu terhadap Kak Reza itu seperti apa? Apa kamu masih memiliki rasa yang sama seperti dahulu?" tanya Meli yang penasaran dengan perasaan gadis itu terhadap Reza.
"Rasanya tidak ada yang berubah, selalu hanya ada dia yang ada di hatiku," gumam Andini yang tidak berani mengatakan bahwa dia masih sangat mencintai Reza.
Disaat Meli akan menanyakan kembali, makanan yang mereka pesan telah tiba. Meli mengurungkan niatnya untuk menanyakan itu, dia memilih menyantap makanannya terlebih dahulu.
Setelah selesai menyantap makan siangnya mereka kembali ke kantor tempat di mana pekerjaan sudah menantinya, selama di perjalanan Meli terus menanyakan apa yang akan dia lakukan. "Aku harus bagaimana Din?" tanya Meli sambil berjalan ke arah kantor, "Bagaimana kalau aku coba tanya dengan Beni, siapa tahu dia mengetahui sesuatu?" ucap Meli yang juga ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Mereka kembali ke dalam ruangan masing-masing, "Nanti pulangnya bersama ya," ajak Meli saat Andini akan menaiki lift untuk menuju keruangannya. "Okeh, tunggu di lobby ya kalau aku belum tiba," ucapnya. Andini segera bergegas menaiki lift yang pintunya sudah terbuka itu, dia melanjutkan perjalanan menuju keruangannya.
Saat Andini akan berjalan memasuki ruangan, Reza segera memanggilnya, "Tolong buatkan saya kopi Din, " perintah Reza kepada sekertaris baru nya itu, Andini yang mendengar perintah dari bosnya itu menganggukkan kepalanya. Gadis itu berlalu meninggalkan sang bos yang juga kembali memasuki ruang kerjanya, "Ada lagi yang bisa saya bantu?" ucap Andini saat dirinya memasuki ruangan sang bos.
Andini meletakkan gelas yang dipegangnya tepat di meja kerja Reza, pria itu langsung mencicipi kopi buatan sekertarisnya itu. "Hari ini ada jadwal apalagi?" tanyanya sambil menaruh gelas yang dipegangnya.
__ADS_1
"Hari ini sampai nanti sore tidak ada jadwal apapun Pak," tutur Andini. Dia harus membiasakan memanggil Reza dengan sebutan Pak karena pria itu adalah bosnya di tempat dia bekerja.
"Nanti pulang bareng sama aku," ucap Reza saat melihat Andini akan keluar dari ruangannya.
"Tidak terima kasih Pak, saya sudah memiliki janji dengan teman saya untuk pulang bersama nanti ... Terima kasih atas tawarannya, saya permisi mau melanjutkan pekerjaan," pamit Andini.
Reza memperhatikan Andini dari meja kerjanya, dia ingin sekali mengungkapkan perasaannya kepada Andini tetapi selalu ada saja yang menghalanginya. Pria itu kembali mengingat saat beberapa hari yang lalu sebelum dirinya meminta bantuan Andrew dan Clara untuk membohongi Andini.
"Jangan pernah mencoba mendekati Andini lagi, biarkan dia bahagia tanpa dirimu," tekan Rian saat tidak sengaja bertemu dengan Reza di salah satu cafe. Reza yang mendengar pernyataan Rian bertanya-tanya akan maksud dari pria yang ada di depannya itu, "Maaf maksud Anda apa ya? Saya betul-betul tidak mengerti," ujar Reza yang memang tidak
mengerti maksud Rian berbicara seperti itu kepadanya.
"Kamu cukup turuti perintahku untuk tidak mendekati Andini lagi, jika kamu melanggarnya jangan salah kan saya akan berbuat sesuatu kepadamu," ancam Rian yang langsung berlalu meninggalkan Reza.
"Sialan, dia sedang mengancam aku? Tidak semudah itu kamu mengancam ku," ucap Reza geram sambil mengepalkan kedua tangannya.
Reza yang saat itu akan menemui Andrew dan Clara di cafe tersebut untuk membicarakan tentang kerjasama seketika langsung menceritakan apa yang baru saja terjadi. Andrew yang mendengar cerita Reza seketika langsung berdiri mengedarkan pandangannya mencari sosok yang diceritakan oleh Reza, "Dia sudah keluar tadi," ucap Reza yang membuat Andrew kembali duduk di bangkunya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Andrew yang ingin Reza tetap berjuang untuk mendapatkan Andini kembali.
"Aku tidak akan mundur dan tidak akan menyerah untuk mendapatkan Andini kembali, tapi aku minta bantuan pada mu Drew," pinta Reza.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Andrew yang penasaran akan rencana dari sahabatnya itu.
__ADS_1
Reza menjelaskan rencana yang dia buat agar Andini bisa menerima nya kembali, dan pria itu juga ingin mengetahui seberapa besar perasaan Andini pada dirinya setelah sekian lama.
"Kamu serius mau menggunakan cara itu? Apa itu tidak akan membuat Andini semakin membenci mu?" Andrew hanya tidak habis pikir dengan rencana yang Reza inginkan.
"Aku serius," imbuh Reza.
Clara hanya bisa tersenyum menanggapi permintaan Reza, karena baginya sahabat Andrew jugalah sahabat dirinya. "Aku tidak masalah sayang, jika itu memang yang terbaik untuk hubungan Reza dan Andini aku siap di caci nantinya," ucap Clara yang hanya dari tadi mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Kamu mau membantu dia?" tunjuk Andrew ke arah Reza yang berada di depannya itu dengan memasang wajah lesu dan sedih nya.
"Iya sayang, kita bantu mereka ya ... Aku yakin semua akan baik-baik saja," pinta Clara sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Baiklah kali ini aku bantu kamu, tapi awas jangan macam-macam dengannya," pasrah Andrew yang mau tidak mau menyetujui keinginan kekasih nya itu.
"Apa aku harus mengakhiri kebohongan ini?" lirih Reza setelah mengingat kebohongan yang dia lakukan. Reza menenggelamkan wajahnya dibalik tangan, dia memikirkan bagaimana cara agar Andini bisa kembali kepadanya.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore itu berarti seluruh karyawan sedang bersiap-siap untuk pulang kerumahnya masing-masing. Andini sedang merapikan meja kerjanya saat satu pesan masuk kedalam ponsel miliknya, pesan itu dari sahabatnya Meli. Gadis itu memberikan kabar jika dirinya sudah berada di lobby kantor itu, Andini pun segera menyusulnya ke sana.
"Bukannya itu Clara dan Andrew," lirih Andini saat tidak sengaja melihat kedua orang itu sedang berada didalam mobil yang sama bahkan mereka terlihat sangat akrab.
"Aku harus cari tahu ada apa sebenarnya," ucap Andini pelan mengingat dirinya berada didalam angkutan umum. Gadis itu lebih memilih untuk menaiki angkutan umum jika sang kakak tidak menjemput nya atau mengantarkan ke tempat yang di tuju.
Hallo semuanya, terima kasih sudah mampir di cerita aku jangan lupa like dan komennya ya, vote nya juga di tunggu
__ADS_1
maaf jika belum bisa up setiap hari, sekali lagi terima kasih 😊😊😊😊