
Hallo semuanya, kita sampai juga di cerita terakhir. Maaf kebanyakan ya extra chapter nya😅😅😅😅, mohon maaf ya. Terima kasih sudah mampir dan happy reading guys🤗🤗🤗🤗
☆☆☆☆☆
Raditya merasa terharu saat mengetahui jika sang adik melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik, setelah pekerjaannya selesai dia langsung kembali ke rumah. Tidak seperti biasanya, Raditya akan selalu pulang tepat waktu dan memberikan waktu istirahatnya kepada sang keponakan. Tentu itu membuat Reza sedikit jengkel, bagaimana tidak setiap dirinya sedang bermain dengan sang anak selalu di recoki oleh kehadiran kakak iparnya yang tidak di undang.
"Apa-apaan sih Lo Kak, ganggu aja Gw lagi main sama anak sendiri. Makanya buru kawin biar Lo bisa punya anak juga dan tidak ganggu anak Gw mulu," begitulah ucapan Reza ketika dirinya merasa terganggu dengan kehadiran kakak iparnya.
Raditya selalu mengambil alih gendongan baby Zoya saat bersama Reza, dia tidak perduli dengan ucapan adik iparnya yang selalu menyuruhnya untuk segera menikah.
"Bawel Lo, Gw pinjem bentar lagian sambil belajar jadi bapak kan biar pas nanti Gw nikah udah tidak kaget lagi kalau istri Gw lahiran," kalimat itulah yang selalu di ucap oleh Raditya.
Andini yang setiap hari mendengarkan perdebatan antara sang suami dan kakaknya hanya bisa menggelengkan kepala, bagaimana tidak setiap hari ada saja yang mereka ributkan hingga membuat Andini lebih baik membawa sang anak pergi dari pada harus tertular dengan sifat mereka yang kekanakan.
"Lo sih Za," tuduh Raditya.
"Dih ngapa jadi Gw yang di omelin, gara-gara Lw kan alamat tidak dapet jatah dah ini." Reza berpura-pura memasang wajah sedihnya.
"Woy inget bini baru abis lahiran udah mau Lo terkam aja,"Raditya menoyor kepala adik iparnya sampai terdengar suara mengadu.
"Sakit woy, Gw juga tahu diri kali," ucap reza meninggalkan Raditya seorang diri.
Tidak peduli saat sang kakak iparnya terus meneriaki dirinya, Reza melangkahkan kakinya menyusul sang istri yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam kamar.
"Kakakmu makannya apa sih Din, makin kemari makin ngeselin," keluh Reza.
Pria itu segera masuk kedalam kamar mandi, dia membersihkan diri terlebih dahulu sebelum tidur. Andini mengganti baju baby Zoya terlebih dahulu sebelum menidurkannya, tidak lupa dia memberikan asi eksklusif untuk sang anak.
"Kak Radit sama Lucy bagaimana sih? Kok tidak ada kejelasan?" tanya Reza membuat Andini terkejut.
"Kamu bikin aku kaget tahu, untung tidak jatuh botol susunya," omel Andini yang sedang membuat susu untuk sang anak.
"Habis aku sebel sama Kak Radit, selalu ganggu aku kalau lagi main sama Zoya." Reza mengeluarkan unek-uneknya kepada sang istri.
Andini yang sedang memasang baju tidur hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Dengerin tuh De Papahmu lagi ngomel-ngomel."
__ADS_1
Lima bulan sudah usia Zoya, selama itu pula Raditya mulai mendekati sekertaris sang sahabat. Lucy yang awalnya tidak tertarik, perlahan mulai menyukai ketulusan dari Raditya.
"Sudah siap?" tanya Raditya saat menjemput Lucy untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
Raditya terpaku saat melihat penampilan Lucy yang berbeda dari biasanya, gadis itu menatap dirinya sendiri.
"Cantik," puji Raditya. Itu membuat kedua pipi Lucy merah seketika, dan langsung mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah bagai kepiting rebus.
Raditya yang melihat perubahan wajah Lucy, menarik sudut bibirnya. "Ayo nanti keluargaku menunggu," ajak Raditya.
Pria itu menarik tangan kanan sang kekasih yang baru sebulan ini di pacarinya, Raditya tidak ingin berpacaran lama sebab dia ingin segera membina rumah tangga saat mendapatkan pilihan yang tepat.
"Tidak usah tegang," ujar Raditya saat melihat wajah gugup Lucy.
Raditya menggenggam tangan Lucy, dia menyalurkan kekuatan untuk sang kekasih agar tidak tegang.
Lucy tersenyum saat mendengar perkataan Raditya, walau saat awal dirinya sedikit merasa tidak yakin akan ucapan Raditya. Terlebih gosip beredar di sekitar kantornya tentang pria itu, Lucy berpikir sejenak untuk mulai membuka hatinya.
Andini membantu sang ibu bersama Siska untuk membuat beberapa macam hidangan, mereka menyukai sifat Lucy yang lemah lembut. Beberapa hari terakhir Andini maupun Siska mencari tahu tentang Lucy, bukan maksud jahat hanya saja mereka menginginkan yang terbaik untuk sang kakak tercinta.
"Jangan takut, mereka semua sudah menunggu kamu kok." Raditya menggenggam erat jari jemari Lucy, perlahan mereka mulai masuk ke dalam rumah yang sudah menunggu kedatangan kedua pasangan itu.
"Malam semuanya," sapa Lucy saat melihat semua keluarga Raditya sedang berkumpul menonton televisi bersama.
Reza yang sedang asyik menggendong putri kesayangannya langsung mencoba pergi meninggalkan mereka semua, "Mau kemana Lo." Raditya mencoba menghalangi Reza yang ingin bangkit dari duduknya.
"Mau bawa anak Gw main lah, ada Lo rese Kak." Semua yang berada di sana tertawa melihat pertengkaran adik dan kakak ipar itu, mereka juga sudah terbiasa akan perebutan yang dilakukan.
Lucy menatap bingung dengan keluarga di sana yang malah tampak bahagia saat melihat anggota keluarganya bertengkar, dia hanya bisa tersenyum saat semua orang menatap ke arahnya.
"Tidak usah pedulikan mereka Lucy, mending ikut aku yuk." Andini mengajak Lucy untuk membantu dirinya dan sang mamah menyiapkan makan malam.
Lucy mengganggukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Reza dan Raditya yang masih asik berdebat, selama berjalan kedapur Lucy memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak usah di fikirkan, mereka memang seperti itu. Setiap Kak Radit pulang pasti Zoya di ambil dan membuat Reza yang asyik main merasa kesal," Andini mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Lucy terkejut mendengar ucapan gadis yang sudah menjadi seorang ibu itu, sepertinya dia bisa membaca pikiran apa yang sedang ada di dalam kepalanya.
"Nanti juga terbiasa kok, jadi harap maklum melihat ulah mereka berdua." Andini sambil mengambil beberapa piring yang berada di dapur untuk mereka pindahkan ke meja makan.
Makan malam terasa hangat apalagi dengan bertambahnya salah anggota baru di dalam keluarga, Raditya meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk meminang sang kekasih dalam waktu dekat.
Dua bulan waktu yang di butuhkan untuk Raditya menyiapkan segala keperluan pernikahannya, awalnya Lucy menolak apalagi mereka hanya baru beberapa bulan menjalin hubungan namun lambat laun gadis itu bisa menyakini jika sang kekasih memang benar-benar menginginkan dirinya.
Acara di adakan dengan sederhana, sebab Lucy hanya ingin orang terdekat saja yang hadir di acara spesialnya. Lokasi tempat di adakan pesta pernikahan antara Raditya dan Lucy sudah di isi beberapa sanak saudara, Andini dan Siska sedang bersiap membantu sang Mamah yang sedikit kerepotan.
"Akhirnya ya Mah, Kak Radit menikah juga." Siska sambil membantu sang Mamah mengenakan kebayanya, mereka merasa bahagia saat mengetahui jika Raditya sudah memiliki tambatan hati.
Raditya yang juga sedang bersiap-siap merasa sedikit gugup, hari ini adalah hari dimana dirinya akan mengucapkan ikrar janji suci pernikahan. Terlihat wajah tegang Raditya saat duduk di depan penghuni dan ayah dari sang kekasih, dukungan untuknya terdengar saat pria itu mulai menjabat tangan ayah Lucy.
Tidak butuh waktu lama kata SAH terdengar di seluruh ruangan, tepuk tangan serta doa di panjatkan agar mereka dapat membina rumah tangga dengan baik kedepannya. Lucy yang mendengar kata tersebut keluar dari tempat persembunyiaannya, dia menemui pria sudah sah menjadi suaminya.
Satu persatu keluarga dan rekan terdekat memberi ucapan untuk kedua mempelai, Reza dan Rian tidak luput memberi ucapan kepada kakak ipar beserta sahabatnya itu.
"Selamat ya Bro, jangan lupa restu buat deketin adik Lo." Rian mengedipkan sebelah matanya, dan langsung mendapatkan pelototan dari pria di hadapannya.
"Gw restuin kalau si Siska mau sama Lo, tapi kalau dia tidak mau ya maaf Gw tidak bisa maksa dia," ucap Raditya yang membuat sang sahabat mengerucutkan bibirnya.
"Liat saja nanti aku bisa dapatkan adik Lo," ucap Rian sungguh-sungguh sebab dirinya merasa sudah jatuh hati kepada gadis yang ternyata adalah adik dari sahabatnya.
"Woy Kak lama banget sih, tidak lihat di belakang antrian panjang." Reza yang berdiri di belakang Rian mencoba menegur pria di depannya.
Rian yang di tegur oleh mantan saingannya itu hanya menggaruk tengkuknya, "Maaf ... Maklum lagi cari restu," ujar Rian yang langsung turun dengan muka sedikit memerah karena menahan malu
Malam yang panjang dan melelahkan, namun penuh akan kebahagiaan, pada akhirnya satu persatu dari mereka sudah menjadi pasangan dan berharap tidak akan ada yang dapat memisahkan mereka dalam hal apapun.
KETIKA RASA ITU HADIR PERLAHAN MENGISI HATI YANG SEMULA KOSONG, DI SAAT ITU PULA BARU AKU SADARI BETAPA BERHARGA DIRIMU DISISIKU
Terima kasih atas waktu dan dukungan kalian, semoga kedepannya aku bisa membuat cerita yang lebih menarik lagi. Jangan lupa like, komen, dan votenya ya.
Dukungan kalian sangat berarti bagi kami para author receh, sekali lagi terima kasih banyak dan sampai jumpa di ceritaku berikutnya. 🤗🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1