
Dika mulai menerima saat Bela menyakini dirinya akan kembali nanti, awalnya terasa berat namun demi membuktikan cintanya kepada gadis itu dia mau tidak mau menuruti apa yang di minta.
Reza bukan menolak tawaran kerja sama dengan Dika, saat ini dirinya sedang fokus dengan kehamilan sang istri yang semakin membesar. Jika dia membuka anak perusahaan di kota lain, tidak menutup kemungkinan pekerjaannya semakin bertambah. Waktu untuk bersama dengan istri tercinta juga ikut berkurang, di tambah sekarang ini Andini begitu manja terhadapnya.
"Hey Bro, muka biasa saja dong," ledek Fahmi saat Dika yang baru tiba di ruangan Reza. Mereka memang janji bertemu disana untuk membahas kerja sama yang sedang mereka kerjakan, sambil menunggu Beni tiba obrolan kecil tercipta di sana.
"Gimana Bela?" tanya Reza.
Dika hanya bisa memasang wajah pasrah saat mendengar beberapa pertanyaan dari Reza maupun Fahmi, ini baru mereka berdua yang memberi pertanyaan belum lagi Rian dan juga Beni. Kepalanya serasa pusing saat mendengarnya, namun sebisa mungkin dia akan menjawab semampunya.
"Bela baik, cuma beberapa bulan lagi baru bisa kembali." Dika berubah menjadi lemas ketika mendengar alasan Bela yang menolak kembali bersamanya.
"Sudah sabar, yang penting sudah ada keputusan kedepannya." Beni yang tiba-tiba masuk langsung memberi semangat, Dika berterima kasih memiliki para sahabat yang begitu baik kepadanya.
"Lupakan Rere dan jangan pernah dekati gadis itu lagi jika Lo tidak ingin menyesal nanti," pesan Reza sebelum mereka meninggalkan ruangan itu untuk menuju ruangan dimana mereka akan membicarakan masalah perusahaan dengan serius.
Reza dan para sahabatnya sangat tahu di mana mereka harus mengambil sikap dan keputusan demi kepentingan bersama, mereka juga akan menjadi serius ketika sudah membahas masalah perusahaan masing-masing.
Rapat yang mereka lakukan selesai ketika memasuki jam makan siang, Reza menelepon sekertarisnya untuk membawakan mereka makan siang. Sambil menunggu makanan pesanan mereka tiba, Beni memulai membuka suara menanyakan tentang kehamilan Andini.
"Za, kira-kira Andini kapan lahiran? Lo sudah menyiapkan nama dan peralatan bayi belum?" tanya Beni sambil sesekali mengecek ponsel miliknya.
"Menurut dokter sih dua sampai tiga minggu lagi, kalau nama dan peralatan sudah siap semua," jawab Reza.
Dika hanya mendengarkan obrolan para sahabatnya, sebab hanya dia seorang yang belum berumah tangga.
__ADS_1
"Iya Za, Kak Radit bagaimana dengan Lucy?" tanya Rian yang mengetahui hubungan antara sekertarisnya dengan sahabatnya sewaktu kuliah dahulu.
"Kalian membicarakan Gw?" tanya Raditya yang tiba-tiba muncul saat mereka sedang berbincang-bincang.
"Woah Bos kita hadir juga, tadi saja di ajak rapat katanya sibuk," ledek Rian saat dirinya menghubungi Raditya tadi.
Rian tahu jika di perusahaan milik Raditya sedang di sibukkan dengan pengangkatan sang sahabat menggantikan posisi sang ayah, jadi mereka memaklumi ketidakhadiran Raditya di sana tadi.
Semenjak Reza menikah dengan Andini, pertemanan serta persahabatan mereka terjalin lebih erat terlebih Rian dan juga Reza. Siapa yang akan mengira jika mantan saingan itu dapat bersahabat seperti saat ini.
"Entahlah, ternyata susah untuk mendekati sekertaris Lo Yan," keluh Raditya.
Mereka selalu mengeluarkan unek-unek yang ada di hati, mereka juga sering bertukar pikiran serta pendapat yang di butuhkan.
"Butuh bantuan?" tanya Rian sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Sialan Lo Yan, niat tidak sih bantu Gw," omel Radit sambil melempar bantal sofa yang ada di belakangnya.
Tidak lama makanan pesanan mereka tiba, Surya sang sekertaris membawakan beberapa makanan serta minuman untuk bosnya dan para sahabat rempong itu.
"Loh kok punya buat Gw mana?" tanya Raditya saat melihat makanan di depannya tidak tersedia untuknya.
"Lagian Lo telat datang Kak, dikira tidak datang jadi ya tidak Gw pesankan," kekeh Reza yang langsung mendapatkan pelototan dari kakak iparnya itu.
"Ya udah makanan Lo buat Gw aja ya Za," Raditya menarik makanan milik Reza dan langsung menyantapnya tanpa perduli makian dari adik iparnya.
__ADS_1
"Kampret Lo Kak, makanan Gue tuh main Lo makan aja." Reza terus saja mengomel hingga ponsel miliknya berdering.
Raut wajah Reza berubah seketika, itu membuat mereka yang berada di sana saling lempar pertanyaan melalui tatapan mata.
"Gw ke rumah sakit duluan ya, Lo bantuin urus kerjaan ya Kak." Reza merapikan barang-barang miliknya, dia bergegas kerumah sakit setelah mendapat telepon dari sang mamah yang memberitahu jika Andini akan melahirkan.
"Mau kemana Lo Za? Jangan bilang gara-gara makanan Lo di ambil jadi ngambek, cih kayak anak kecil Lo makanan di ambil mau kabur," cibir Raditya yang tetap memakan makanan miliknya walau mulutnya tidak berhenti meledek adik iparnya.
"Gw tidak kayak gitu ya Kak, barusan Mamah telpon katanya Andini mau melahirkan makanya Gw mau nyusul ke sana," jelas Reza sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia mengambil jas yang tersampir di kursi, mengambil kunci mobil dan berlalu meninggalkan mereka semua yang masih mencerna ucapan Reza.
Raditya yang tersadar hampir saja tersedak, dia langsung mengambil minum di depannya. "Sialan banget kerjaan di kasih ke Gw, dia malah kabur duluan," lagi-lagi Raditya mengomel adik ipar kesayangannya.
Beni, Fahmi, Dika serta Rian hanya tertawa mendengar Raditya yang terus saja mengomel.
"Wajar kali Kak dia pergi namanya juga suami siaga, emang Lo masih aja jomblo." ucapan Beni membuat mereka semua yang berada di sana tertawa terbahak-bahak.
Awalnya mereka merasa sungkan saat harus memanggil seperti itu, namun dengan seiring waktu dan kedekatan yang terjalin menjadi lebih kekeluargaan. Raditya maupun Rian tidak pernah sekalipun menganggap Reza dan sahabatnya sebagai adik tetapi, mereka menjadikan keluarga kedua apalagi Reza dan Raditya yang menjadi saudara ipar.
Reza bergegas meninggalkan kantor menuju dimana Andini berada, selama perjalanan hanya doa yang bisa dia panjatkan. "Sabar ya sayang," ucapnya sambil terus fokus menatap jalanan di depannya.
Menanti kelahiran sang buah hati adalah pengalaman pertama Reza, terlebih dia sangat mencintai Andini dan buah hatinya. Dia tidak ingin apapun terjadi kepada keduanya, merasakan pernah meninggalkan Andini menjadi ketakutannya saat ini.
Mobil yang di kendarai Reza tiba dengan selamat di parkiran rumah sakit, dengan tergesa-gesa Reza berlari ke ruangan yang telah di sebutkan sang mamah tadi. Saat Reza tiba di koridor terlihat sang mamah dan mertuanya sedang menunggu di depan sebuah ruangan, dengan perlahan Reza datang menghampiri.
"Bagaimana Mah?" suara seseorang membuat Maya dan Lili segera menengok.
__ADS_1
"Untunglah kamu sudah datang, sekarang cepat masuk dan beri dukungan kepada istrimu." Maya menyuruh sang anak agar melihat bagaimana perjuangan istrinya demi buah cinta yang berada di perutnya.
SELAMAT MALAM SEMUANYA, HAPPY READING GUYS... JANGAN LUPA MINTA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA YA, GA APA-APA DIKIT JUGA YANG PENTING IKHLAS DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH MAU MENYUMBANGKAN LIKE DAN VOTENYA. SALAM SAYANG DARI AKU🤗🤗🤗🤗🤗