MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
EXTRA CHAPTER 12 MENGAJAK PULANG 2


__ADS_3

Dika sudah mengetahui dimana tempat tinggal Bela, dia akan kembali lagi besok dan mencoba untuk mengajak sang kekasih untuk ikut kembali.


Bela segera masuk ke dalam kamar kosnya, rasanya seluruh badan terasa letih setelah seharian berkutat dengan dokumen yang tidak bisa di tinggalkan.


"Bel, besok aku pagi-pagi pergi ke rumah Mamah dahulu ya." Zia meminta izin kepada teman satu kamarnya itu. Dia ingin mengantarkan uang untuk berobat sang ibu, Bela menganggukkan kepalanya.


"Iya, salam saja sama Tante Mira semoga cepat sembuh," ucap Bela yang langsung merebahkan tubuhnya di kasur.


Rasa lelah yang sangat terasa hingga membuat Bela langsung terpejam, Zia menggelengkan kepalanya saat keluar dari kamar mandi dan melihat wajah terlelap Bela.


"Kamu terlalu baik Bel, semoga bisa mendapatkan cinta yang tulus dan bahagia selalu," gumam Zia saat teringat pertemuannya dengan gadis itu.


Bela yang baru tiba di perusahaan dan mendapatkan posisi tinggi membuat dirinya di serang dari beberapa orang, namun dengan keteguhan dan kerja kerasnya dia membuktikan jika memang mampu bertahan di tempatnya.


Zia memang baru beberapa bulan berkenalan dengan Bela, rasa nyaman dapat dirinya rasakan saat dekat dengan gadis itu.


Pagi-pagi sekali Zia berangkat ke rumah orang tuanya, Bela yang di tinggal sendiri terlihat sedang merapikan dirinya.


"Sarapan di jalan saja deh," ucap Bela sambil melihat pantulan dirinya di cermin.


Dia segera bergegas untuk menuju kantornya, namun baru saja keluar pintu kos dirinya di buat terkejut akan kedatangan Dika di sana.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Bela ketus. Sebenarnya dia tidak ingin berbicara seperti itu kepada Dika, namun entah kenapa pikirannya tidak bisa sejalan dengan hatinya.


Dengan santai Dika masuk kedalam kamar kos milik Bela, gadis itu terkejut saat pria di hadapannya tiba-tiba menarik agar ikut bersamanya.

__ADS_1


"Hey ... Siapa yang suruh masuk?" tanya Bela lagi.


Dika hanya tersenyum mendengar pertanyaan gadis itu, "Salah kalau aku masuk?" bukannya menjawab pertanyaan Bela, Dika dengan santainya duduk di kursi yang berada di dalam kamar.


"Bukan tidak boleh, tapi apa kata orang lain nanti kalau aku bawa pria masuk kedalam kamar." Bela sedikit menjelaskan perasaan tidak nyamannya terlebih dia baru tinggal di sana.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita sarapan bersama dan aku akan mengantarkan kamu bekerja." Dika berlalu meninggalkan Bela yang mematung dengan sikap yang aneh itu.


Bela merapikan barang-barang yang akan di bawanya ke kantor, dia juga tidak bisa terus menghindar dari sang kekasih karena bagaimanapun juga mereka masih memiliki ikatan walau belum jelas ke depannya.


Bela masuk ke dalam mobil Dika yang terparkir tidak jauh dari rumah kos, dengan kecepatan sedang Dika mengendarai mobilnya sambil sesekali bertanya kepada Bela.


"Bel," panggil Dika saat dirinya melihat gadis itu asik dengan ponsel miliknya.


Dika belum menjawab pertanyaan Bela sebab gadis itu masih asik menerima panggilan di ponselnya, hingga dia lupa jika ada seseorang di sebelahnya. Dika memarkirkan mobilnya di salah satu kedai pinggir jalan, dengan sabar dia menunggu Bela yang ternyata terlihat masih sibuk dengan benda pipihnya.


"Eh sudah sampai?" pertanyaan Bela tidak juga di jawab oleh Dika, pria itu sedang menaruh kepalanya di kemudi.


"Sampai kapan kamu siksa aku seperti ini Bel?" tanya Dika lirih dan masih terdengar ke telinga Bela.


Dia segera mematikan sambungan teleponnya, dan mencoba menatap sang kekasih yang terlihat kusut. Dika dengan perlahan mengangkat kepalanya dan terus menatap wajah Bela, ada rasa penyesalan yang Bela lihat di wajah Dika saat dirinya di juga melihat ke arah pria di sebelahnya.


Bela langsung memutuskan pandangannya dan beralih menatap sekitar, sambil menunduk Bela memberanikan diri agar tidak terus menerus di hantui masa lalu.


"Maafkan aku Bel, aku tahu sudah berlaku jahat dan membuatmu kecewa. Tapi beberapa hari tanpa kabar darimu, jujur hatiku sepi bahkan sangat sepi walau Rere selalu ada di sampingku." Dika menarik nafasnya yang tercekat, semula bukan ini yang akan dirinya lakukan namun keadaan membuatnya mau tidak mau mengungkapkan segalanya.

__ADS_1


"Aku mohon Bel kembali dan aku janji akan membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius," Dika mencoba menggenggam kedua tangan Bela.


Bela semula merasa tegar saat menerima kenyataan di depannya, tapi rupanya hati mulai menghianati. Dia menangis di depan Dika, air mata yang semula selalu di pendamnya tiba-tiba keluar begitu saja.


"Apa salahku sampai kamu tega berselingkuh?" pertanyaan Bela terasa sangat menyayat hati Dika. Dia menyadari kesalahannya, awalnya Dika hanya belum yakin dengan perasaan namun saat Bela memilih pergi dari hidupnya barulah dia menyadari apa yang dirinya rasakan.


"Aku benar-benar minta maaf dan aku mohon kembali ke sisiku Bel, aku sungguh tidak sanggup kehilangan kamu," Bela memperhatikan kedua mata Dika. Tidak ada dusta di dalam kedua bola mata itu, hanya ada ketulusan serta kesedihan yang tersirat di sana.


Bela mengganggukkan kepalanya, dia mencoba memberi kesempatan untuk Dika kembali ke hatinya. "Jangan pernah kecewakan aku lagi, jika itu sampai terjadi ... Jangan salahkan aku jika tidak dapat kembali ke sisimu," ujar Bela.


Dika langsung memeluk tubuh mungil gadis di sebelahnya, "Aku janji Bel, aku janji."


Mereka melanjutkan tujuannya yaitu sarapan bersama di kedai yang berada di depannya, kedai bubur ayam yang berada di pinggir jalan menjadi pilihannya.


"Bel kamu ikut kembali sama aku ya," pinta Dika di sela-sela memakan sarapannya.


Bela terdiam sambil berpikir, dia juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang baru saja di mulainya.


"Maaf untuk saat ini sepertinya aku belum bisa ikut bersamamu, tapi jika tugasku sudah selesai aku akan kembali." Dika mencoba mengerti akan pekerjaan sang kekasih, dia juga berjanji akan setia menunggu gadis itu kembali di sisinya dan membawa Bela menuju ke jenjang pernikahan.


Setelah selesai Dika mengantarkan Bela ke tempatnya bekerja, dia juga memiliki ide untuk membuka cabang kantor di sana agar bisa selalu bersama. Sambil melihat-lihat lokasi yang ada, Dika menelepon Reza dan Fahmi untuk mengajak kerja sama membangun perusahaan atas dasar persahabatan.


CINTAI DIA SAAT BERADA DI SISIMU, JANGAN SAMPAI DIA PERGI MENINGGALKANMU SAAT DIRIMU BARU MENYADARI BETAPA PENTING DIRINYA UNTUKMU.


Happy reading guys, mohon dukungannya ya. Minta vote seikhlasnya, like juga jangan lupa, komentar jika berkenan. Terima kasih sudah mau membaca cerita punyaku dan semoga bisa lebih baik lagi dalam membuat cerita ini semakin menarik untuk di baca.

__ADS_1


__ADS_2