
Setelah acara semalam selesai, Andini langsung bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak karena nanti sore mereka semua akan kembali ke rumah masing-masing. Sebelum pulang dia membereskan barang-barang bawaannya agar tidak ada yang tertinggal di sana, Meli dan Yani yang baru selesai membantu membersihkan sisa acara semalam ikut bergabung merebahkan tubuhnya di samping Andini dan Bela.
"Capeknya," keluh Yani.
"Iya, pegel banget bersihin ruangan yang luas seperti itu. Untung tadi di bantuin sama yang lain kalau tidak, bisa remuk tulang aku," jawab Meli yang mendramatisasi. Mereka semua tertawa mendengar ucapan Meli.
"Lebay banget sih kamu Mel, baru juga segitu," ucap Bela meledek, tidak terasa mereka pun terlelap karena mengantuk yang tak tertahankan.
Andini terbangun dari tidurnya akibat ketukan pintu itu mengumpat dalam hati, siapa yang mengganggu tidurnya. Raditya yang mengetuk pintunya terkekeh saat pintu kamar Andini terbuka, dia melihat wajah Andini yang terlihat kesal karena merasa terganggu.
"Ada apa sih Kak, ganggu aku lagi tidur saja," ketus Andini saat membuka pintu kamarnya yang di ketuk oleh Raditya.
"Maaf dek, aku ke sini cuma mau beritahu makan siang dulu sebelum pulang. Jam tiga kita berangkat dari sini, kamu mau naik mobil sama siapa?" tanya Raditya.
__ADS_1
"Sama Kakak saja deh, kan biar tidak merepotkan Reza Kak," ujar Andini yang kembali menutup pintunya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur bersama yang lainnya.
Raditya pun kembali ke kamarnya untuk membereskan barang-barang miliknya, Rian yang sedang duduk di sofa sedang memainkan ponselnya langsung melihat ke arah Raditya.
"Darimana kamu Dit?" tanya Rian yang masih asyik memainkan ponselnya.
"Tadi abis dari kamar Andini, aku habis tanya pulang bareng sama siapa itu anak," tutur Raditya.
"Rasanya aku malas pulang deh Dit, disini lumayan nyaman dan udaranya juga sejuk tidak seperti di kota," tukas Rian yang merasa nyaman tinggal di puncak.
Waktu sore pun tiba Andini yang sudah bersiap untuk pulang mengeluarkan tasnya dari dalam kamar, dia akan membawanya ke dalam mobil Raditya. Rian yang melihat Andini kesusahan langsung mengambil alih tas tersebut.
"Sini biar aku bantu," ujar Rian.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Kak, aku bisa sendiri kok," tolak Andini.
"Sudah biar aku saja, kamu lebih baik makan saja dulu sebelum pulang," sela Rian sambil berlalu meninggalkan Andini yang diam melihat tasnya di bawa paksa oleh teman kakaknya itu.
Andini yang pasrah berjalan menuju meja makan untuk mengisi perutnya sebelum pulang nanti, di sana sudah ada Reza dan Dika sedangkan yang lainnya masih sibuk membereskan barang-barang bawaannya.
"Din, kamu pulang bersama siapa nanti?" tanya Reza yang telah selesai menyantap makanannya.
"Aku bareng sama Kak Raditya, maaf ya Kak tidak bisa pulang bareng," tutur Andini yang merasa tidak enak karena dia tidak mau merepotkan Reza jika harus mengantar dia dahulu. "Tidak apa-apa kan Kak? Kasihan kalau kakak harus antar aku pulang dulu, lagian ada Kak Raditya ini jadi tidak perlu capek-capek. Kakak antar yang lain saja ya," sambung Andini.
Reza paham dengan maksud Andini, dia juga tidak mau memaksa Andini ikut pulang bersamanya karena dia tahu Andini pulang dengan kakaknya bukan dengan pria lain.
Perjalanan pulang mereka tidak terhambat macet, karena mereka kembali bukan di saat weekend. Andini yang merasa lelah langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak sebelum makan malam. Sebelum pulang ke rumah Reza mengantarkan para sahabatnya terlebih dahulu barulah dia menuju rumahnya bersama dengan Beni.
__ADS_1
Rian yang ikut di mobil Andini dan Raditya mengikuti mereka pulang ke rumahnya karena sebelum berangkat Rian membawa sepeda motor dan menitipkannya di rumah Andini. Rian pun langsung pamit untuk pulang ke rumahnya karena hari sudah semakin sore.