
Reza yang sudah merasa puas mendengar perkataan Andini kepada Andrew segera meninggalkan cafe tersebut, dia berencana ingin membelikan sesuatu untuk Andini. Reza menuju ke sebuah mall, dia berniat untuk membelikan sebuah kalung untuk Andini. Reza memasuki sebuah toko perhiasan, dia melihat-lihat kalung yang ada di etalase kaca toko perhiasan itu. Matanya tertuju pada sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang sangat indah, dia langsung memanggil pelayan di toko tersebut untuk membungkusnya.
Andini yang baru tiba di rumahnya segera masuk ke dalam kamarnya, dia berniat istirahat sejenak. Andini memperhatikan ponselnya tidak ada pesan ataupun panggilan dari Reza untuknya, Andini menghela nafasnya kasar.
"Dia lagi di mana ya, tidak memberi kabar seharian kepadaku," lirih Andini yang merasa heran tidak ada pesan dari Reza, karena biasanya lelaki itu akan memberi kabar setiap waktu. Andini mencoba memejamkan matanya karena lelah, dia terus memikirkan perkataan Andrew yang akan kembali dan mencoba untuk membuat jatuh hati kepadanya lagi. Andini mulai merasa nyaman dengan keberadaan Reza di sisinya dan tidak memungkiri bahwa perasaannya terhadap Andrew semakin berkurang.
Andini terkejut karena ketukan di pintu kamarnya, segera membukakan pintunya dan dia melihat Raditya berdiri di depan pintu kamarnya.
"De, ada Reza di bawah lagi nungguin kamu," ujar Raditya, Andini bergegas turun menemui Reza.
"Kenapa Kak, malam-malam ke sini?"
"Aku mau beri ini untuk kamu," ucap Reza seraya memberikan kotak kecil berwarna biru.
Andini yang menerima kotak tersebut terkejut saat melihat benda di dalamnya, dia terharu akan hadiah yang di berikan oleh Reza untuknya.
"Ini serius buat aku?" tanya Andini tidak percaya akan hadiah yang diberikan Reza.
"Kenapa kamu tidak suka ya?" ujar Reza lesu.
"Bukan begitu Kak, aku suka sekali cuma ini beneran buat aku?" tanya Andini masih tidak percaya. Reza langsung mengambil alih kalung yang di pegang Andini dan langsung memakaikannya di leher Andini.
__ADS_1
"Cantik, cocok sekali sama kamu ... Makin cantik kamunya" puji Reza, Andini yang mendengarnya langsung tersenyum dengan muka yang merah merona. Mereka membicarakan kegiatannya seharian ini dan Reza mulai memberanikan diri untuk menanyakan apa yang dia lihat tadi.
"Din, tadi aku lihat kamu pergi ke cafe. Mau ketemu sama siapa sore-sore pergi ke sana?" tanya Reza, Andini yang sempat terkejut dengan pertanyaan Reza mulai menceritakan apa yang dilakukannya tadi.
Andini menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi ataupun di bohongi, karena Andini yakin menjalin sebuah hubungan harus dari kejujuran. Reza yang mendengar pernyataan Andini tidak ada yang di tutupi bisa tersenyum lega, dia merasa puas dengan apa yang di ucapkan oleh Andini. Tak terasa waktu sudah hampir tengah malam, Reza pamit pulang kepada Andini. Di dalam kamar Andini terus tersenyum mengingat hadiah yang di berikan oleh Reza untuknya, tak butuh waktu lama Andini pun segera terlelap.
Pagi hari seperti biasa Andini menyapa keluarganya yang berbeda hanyalah senyum yang terus mengembang di bibirnya, Andini segera mengambil tempat duduk untuk sarapan bersama dengan keluarganya. Raditya merasa heran melihat senyum Andini yang terus mengembang dan membuat merona kedua pipinya.
"De tumben banget senyum terus, ada apa sih?" tanya Raditya yang terus menatap wajah Andini.
"Iya De tumben sekali dari pagi senyum terus, biasanya suka complain kalau Ibu cuma buat roti bakar," ucap Ibu yang heran karena biasanya Andini akan merengek meminta di buatkan nasi goreng oleh Ibunya.
"Sudah, sudah kita sarapan dulu nanti pada terlambat masuk bagaimana?" potong Ayah yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak-anaknya.
Andini yang telah menyelesaikan sarapannya bergegas keluar rumah, tidak lupa dia pamit kepada kedua orang tuanya dan juga kakaknya. Andini berjalan keluar pintu gerbang rumahnya, di sana sudah ada Reza yang sedang menunggunya.
"Kok tidak masuk ke dalam?" tegur Andini seraya mengambil helm yang di berikan oleh Reza.
"Tadi Ibu membuat sarapan juga, masa iya anaknya sarapan di rumah orang lain?" ucap Reza sambil mengkaitkan pengunci pada helm Andini, Andini langsung menaiki motor Reza dan bergegas menuju sekolahnya.
Sesampainya di sekolah Andini langsung menuju ke kelasnya bersama dengan Reza, Reza mengantarkan Andini sampai depan kelasnya. Setelah mengantar Andini barulah dia menuju kelasnya sendiri, Reza berpesan untuk menunggunya saat istirahat tiba. Bela dan Yani yang sedang bermain di kelasnya nampak bingung melihat senyum Andini yang terus mengembang.
__ADS_1
"Kamu sehat Din?" tukas Bela yang memegang kening Andini dengan telapak tangannya, dia mengukur suhu tubuh Andini.
"Apaan sih, aku lagi tidak sakit Bel," sanggah Andini dan menepis pelan tangan Bela dari keningnya.
"Habis aku bingung, masuk kelas langsung senyum-senyum saja," jelas Yani yang ikut bersuara.
Andini menceritakan ada apa dengan dirinya, para sahabatnya hanya tertawa menanggapi cerita Andini.
"Kok malah pada ketawa sih?" ujar Andini sambil mengerutkan bibirnya.
"Kirain ada apa pagi-pagi senyum terus, ternyata lagi bahagia toh," sela Meli saat Andini mulai akan merajuk kembali.
"Sini peluk, semoga bahagia terus ya sayang nya aku," kata Bela sambil memeluk para sahabatnya itu.
Beni yang baru tiba langsung ikut berpelukan dengan mereka, namun tidak berlangsung lama karena di dorong oleh para sahabatnya itu.
"Mau nya kamu, sudah sana ini urusan perempuan," tekan Yani yang langsung menarik Beni untuk menjauhi mereka. Beni yang pura-pura sedih segera pergi duduk di bangkunya sendiri, Andini menceritakan apa yang sedang di rasakannya saat ini.
Beni yang melihat senyum Andini merasa lega karena ada yang benar-benar bisa menjaga dirinya, walaupun dia harus tersakiti tapi melihat orang yang di cintai bahagia itu sudah cukup baginya. Bel tanda masuk berbunyi Bela dan Yani bergegas kembali ke kelasnya, Meli yang melihat senyum dan semangat Andini selama pelajaran berlangsung terlihat ikut bahagia.
"Semoga kamu bahagia selalu ya sahabatku, dan akupun bisa mendapatkan kebahagiaan sepertimu" gumam Meli dalam hati.
__ADS_1