
Raditya yang mendapatkan tugas untuk mengantarkan semua soal yang di berikan Pak Dodit, segera bergegas menuju ke kelas lain. "Raditya," panggil seorang gadis cantik.
Raditya menengok sebentar di saat mendengar seseorang memanggil namanya, "Iya ada apa Sel?" tanya Raditya saat gadis itu berjalan sejajar dengannya. Gadis bernama Sela itu tersenyum saat Raditya mau menjawab panggilan darinya, "Nanti jadi rapat OSIS tidak?" tanya gadis itu.
Raditya terdiam sejenak, "Hari ini tidak ada rapat karena aku ada tugas kelompok, mungkin besok atau lusa baru rapat membahas acara kemah," jelasnya.
"Oh libur ya, kalau begitu temani aku jalan mau tidak?" tanya Sela tanpa malu mengajak Raditya untuk pergi bersamanya. Sela sudah lama menyukai Raditya tetapi, pemuda itu tidak pernah membalas perasaannya.
"Kan sudah aku bilang, hari ini aku ada tugas kelompok," ujar Raditya sambil meninggalkan Sela yang terdiam akan jawaban dari pemuda itu.
Terlihat guratan kecewa terlihat di wajah gadis cantik itu, Raditya selalu menolak ajakan darinya. "Aku tidak akan menyerahkan untuk mendapatkan kamu Dit," gumam Sela yang juga ikut pergi kembali ke kelasnya.
Raditya mulai memasuki kelas terakhir, di mana sebentar lagi tugasnya akan selesai. "Permisi," ucap Raditya saat dirinya akan masuk ke dalam kelas. Guru yang sedang mengajar di kelas itu seketika menoleh, "Iya ada apa?" tanya guru yang sedang mengajar di kelas itu.
"Saya mau mengantarkan ini Pak, tugas dari Pak Dodit," jelas Raditya sambil memberikan beberapa lembar kertas yang di bawanya.
"Terima kasih Dit," ucap guru itu.
Raditya pamit untuk kembali ke kelasnya, sesaat sebelum dirinya keluar kelas kedua matanya menyapu seluruh ruangan. Hingga terlihat senyuman gadis yang sangat di impikan sedang tertawa dengan teman sebangkunya, "Hanya melihat senyumnya yang seperti itu bisa membuat hatiku seketika makin menginginkannya," gumam Raditya sambil berlalu meninggalkan kelas.
"Aku harus bisa mendapatkannya," ucap Raditya pelan. Pemuda itu segera berjalan menuju kelasnya untuk menyelesaikan tugas yang di berikan tadi.
"Lama amat Dit," gerutu Leon yang tiba-tiba duduk di bangku sebelah Raditya. Rian yang duduk sendiri ikut menghimpit sahabatnya itu, "Ketemu dia tidak?" goda Rian. Raditya mendorong kedua sahabatnya hingga tersungkur ke lantai dan semua murid di kelas menertawai mereka berdua, "Jahat kamu Dit," Leon mengomeli sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tahu nih, kan sakit Dit," rintih Rian sambil mengusap bokongnya yang merasa sakit akibat terjatuh di lantai.
"Salah sendiri kenapa kalian mengganggu aku? Pekerjaan kalian sudah selesai belum?" cecar Raditya, dia tahu jika kedua sahabatnya pasti belum selesai mengerjakan semua tugas yang di berikan.
"Dikit lagi Dit, bantuin kita ya," pinta Leon yang juga mendapatkan anggukan kepala dari Rian.
"Ayolah bantu kita, aku beneran tidak paham dengan soal yang ini," tunjuk Rian. Pemuda itu meminta untuk di ajarkan soal yang tidak dapat di mengerti olehnya, Raditya dengan senang hati mengajarkan sahabatnya itu.
Jam istirahat berbunyi itu membuat Leon kegirangan, "Akhirnya istirahat juga," ucapnya. Raditya dan Rian yang melihat kelakuan pemuda di depannya hanya menggelengkan kepala, "Giliran belajar aja ngeluh mulu," ledek Rian.
Leon mendengus mendengar ucapan sahabatnya itu, "Biarin," ketus Leon.
"Sudah yuk ke kantin, sudah lapar aku," ajak Raditya. Pemuda itu selalu ikut bersemangat saat istirahat tiba, karena dia dapat melihat gadis pujaannya yang selalu saja hadir di pikirannya.
Raditya akan menuju kantin lebih dahulu, padahal Leon dan Rian berjalan tepat berada di belakangnya. "Maklum lagi jatuh cinta," ledek Rian yang terdengar oleh Raditya. Pemuda itu berhenti dan menatap kedua sahabatnya dengan tatapan tajam, Leon dan Rian hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kan kalau sudah di sindir aja," canda Leon.
Selama di perjalanan menuju kantin Leon dan Rian tidak henti-hentinya menggoda Raditya, tapi pemuda itu tidak pernah marah sedikitpun kepada sahabatnya. Sesampainya di kantin Raditya segera mencari tempat duduk yang kosong, hingga pandangan matanya menemukan bangku kosong tepat di depan gadis itu duduk.
"Dekati saja sana," usul Rian yang duduk di sebelah Raditya saat melihat sahabatnya itu terus memperhatikan gadis yang duduk di depannya.
Pemuda itu tidak menghiraukan ucapan dari sahabat di sebelahnya, "Ah kayak bicara dengan tembok," dengus Rian. Seketika Raditya menengok ke arah sahabatnya sebentar, sebelum kembali fokus pada gadis itu.
__ADS_1
"Aku tahu kamu suka dengan Clara, kenapa tidak kamu coba ungkapkan?" tanya Rian yang datang sambil membawa makanan untuk mereka bertiga.
Raditya mengambil makanan yang ada di depannya, "Tapi kamu tahukan Clara sudah punya kekasih, aku bisa apa?" lirih Raditya.
"Kamu populer di sekolah, banyak yang mau jadi pacarmu tapi cuma menaklukkan satu wanita saja tidak bisa," ledek Leon sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Rian setuju dengan ucapan Leon, "Lihat Sela. Dia selalu mencoba mendekati kamu tapi apa, sekarang kamu mau nyerah? Sebelum bendera kuning berkibar masih bisa di tikung kan?" ucap Leon yang juga mengedipkan sebelah matanya.
"Kok bendera kuning sih? Bukannya janur kuning?" tanya Rian bingung.
"Lah kalau sudah bendera kuning siapa yang mau nikung? Kan sudah di tikung malaikat," Leon tidak bisa menahan tawanya hingga seluruh mata memandang ke arah mereka.
Raditya dan Rian yang mendengar lelucon sahabatnya itu dengan sengaja memukul kepala sahabatnya itu pelan, "Apaan sih kalian? Sakit tahu," rengek Leon sambil mengusap kepalanya yang sedikit sakit.
"Lagian kamu ngawur Leon, serem banget nungguin bendera kuning berkibar dulu. Lihat tuh pada melirik ke sini," protes Rian.
Raditya yang hanya diam pada akhirnya buka suara dan berkata, "Tidak gitu juga kali, masa aku ambil milik orang. Kalau dia jodohku maka dia akan datang kepadaku tapi kalau bukan aku bisa apa," jelas Raditya sambil meminum minuman miliknya.
Bel tanda masuk berbunyi, seluruh murid kembali ke kelas masing-masing. "Nanti jadi Dit?" tanya Rian saat mereka bertiga berjalan menuju kelasnya. Banyak panggilan yang terus memanggil nama Raditya, "Tuh fans banyak masih aja ngejar yang tidak pasti," usul Leon. Raditya tidak menghiraukan ucapan sahabatnya itu, "Nanti setelah pulang langsung kerjakan tugasnya karena besok aku sibuk rapat OSIS untuk acara kemah," tutur Raditya yang langsung duduk di bangkunya saat tiba di kelasnya.
"Memang acara kemah jadi Dit?" tanya Rian saat guru yang mengajar di kelasnya belum tiba.
"Jadi, harusnya rapat hari ini karena aku sudah ada janji dengan kalian jadi aku undur rapatnya besok. Makanya hari ini tugasnya harus beres semua ya," Raditya berharap jika tugas mereka dapat selesai dengan segera.
__ADS_1
"Siap," jawab Rian dan Leon bersamaan. Tak berselang lama mereka memulai pelajaran setelah sang guru tiba di sana.