
Raditya yang sedang fokus pada laptop di depannya seketika teringat tentang masa lalunya bersama Clara, pemuda itu merasa kecewa akan perlakuan gadis yang sangat dia cintai itu.
"Kenapa kamu tega mengkhianatiku Clara," ucap Raditya sambil duduk bersandar di bangku miliknya. Menatap langit-langit ruangan miliknya, pemuda itu memejamkan matanya sejenak. Dalam bayangannya terlihat sangat jelas bagaimana saat pertama kali pemuda itu bertemu dengan gadis pujaan hatinya.
"Aku berangkat sekolah dulu ya Bu," pamit Raditya setelah menyelesaikan sarapannya.
"Hati-hati di jalan," pesan Maya.
"Siap Bu, nanti aku pulang telat ya ada tugas kelompok di rumah Leon," izin Raditya sambil memakai sepatunya.
"Jangan terlalu malam pulangnya, hari ini ayahmu pulang loh," ucap Maya mengingatkan sang anak jika ayah mereka hari ini akan pulang dari tugasnya di luar kota.
"Serius ayah pulang hari ini Bu?" sambung Andini.
"Iya tadi ayah telpon katanya hari ini akan pulang, tugas di sana sudah selesai semua," jelas Maya kepada anak-anaknya.
Andini yang juga telah menyelesaikan sarapannya bergegas pamit kepada sang ibu, "Bu aku berangkat ke sekolah dulu ya."
"Hati-hati di jalan ya, Dit jangan ngebut bawa motornya," pesan Maya kepada anak sulungnya itu.
Raditya yang sudah siap di atas motor menjawab pesan sang ibu, "Siap Bu."
"Kak, aku pulang sama siapa nanti?" tanya Andini saat berada di samping Raditya. Gadis itu sedang memakai helm yang di berikan kakaknya, "Naik ojek online dulu ya De," ucap Raditya yang sebenarnya tidak tega jika sang adik harus naik angkutan umum. Pemuda itu kembali teringat akan kejadian adik bungsunya itu, "Kalau tidak nanti minta antar sama Beni saja," usul Raditya.
"Oh iya nanti aku minta anterin Beni saja ya," timpal Andini.
"Sudah ayo nanti keburu terlambat," ajak Raditya sambil melihat jam yang melekat di tangan kirinya. Andini segera menaiki motor sang kakak dan bergegas pergi menuju ke sekolahnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Terima kasih ya kak, aku masuk dahulu," pamit Andini saat dirinya sudah tiba di depan gerbang sekolah.
Andini menyerahkan helm miliknya kepada sang kakak, "Jangan nakal ya De, belajar yang benar," pesan Raditya yang langsung mendapat anggukan kepala dari adiknya itu.
Raditya bergegas pergi menuju sekolahnya, karena dirinya sudah hampir terlambat. "Untung masih keburu," ucapnya saat tiba di parkiran sekolahnya.
Raditya bergegas turun dan berjalan menuju kelasnya seorang diri, terdengar suara teriakan yang memanggil namanya dari arah belakang. Raditya tidak memperdulikan teriakan dari para sahabatnya itu, hingga Rian dan juga Leon berlari untuk mengejar dirinya.
"Jahat kamu Dit, aku panggil tidak menyahut," dengus Leon dengan nafas yang tersengal-sengal akibat berlari.
"Memang siapa yang suruh berlari, nanti juga ketemu di kelas," jawab Raditya tanpa rasa bersalah dirinya terus berjalan tanpa memperdulikan sang sahabat yang sedang mengomelinya.
"Astaga Yan, kalau bukan teman udah aku gantung itu anak," murka Leon di samping Rian.
Rian yang mendengar sahabat di sebelah mengeluarkan sumpah serapahnya hanya bisa tertawa, "Kan tadi aku bilang tidak usah di kejar tapi kamu maksa. Akhirnya seperti ini kan," protes Rian.
Pemuda itu awalnya tidak setuju dengan usul Leon saat mereka berdua melihat Raditya yang baru tiba di sekolah, mereka berdua berjalan menyusuri lorong kelas yang sudah hampir sepi karena sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai.
"Kebiasaan kamu Leon, hari ini pelajaran Pak Dodit. Siap-siap kamu kena omel lagi," ledek Rian mengingat jika Leon selalu mendapatkan omelan dari guru matematika di kelasnya.
"Tenang, hari ini aku sudah selesai mengerjakan tugas dari tuh guru," ucap Leon dengan penuh percaya diri.
Tak berselang lama, seorang guru memasuki kelas mereka. Raditya yang sedang fokus membaca buku, seketika mengalihkan pandangannya menghadap guru di depannya.
"Selamat pagi anak-anak," sapa guru di depannya.
"Selamat pagi Bu," ucap mereka serempak.
__ADS_1
Leon membisikkan sesuatu kepada Rian yang duduk di sebelahnya, "Kok Bu Rahmi yang masuk? Pak Dodit mana?" tanyanya.
Rian menggendikkan bahu, "Tidak tahu," ucap Rian.
"Hari ini Pak Dodit sedang berhalangan hadir, jadi kalian kerjakan tugas yang di berikan ini," jelas Bu Rahmi sambil memberikan setumpuk kertas kepada Raditya untuk di bagikan ke semua murid yang hadir.
"Raditya, nanti tolong bagikan ini juga ke kelas lainnya ya," perintah Bu Rahmi.
Raditya menganggukkan kepalanya, "Baik Bu," ucapnya.
"Ibu kembali ke ruang guru, ingat kerjakan dan kumpulkan," perintah Bu Rahmi sesaat sebelum dirinya keluar dari kelas.
Seluruh murid tampak senang akan berita itu, tanpa terkecuali Leon. "Asik dah tuh guru tidak masuk, bisa bebas," ucapnya setelah kepergian Bu Rahmi.
"Kata siapa bisa bebas? Nih kerjakan, habis itu harus segera di kumpulkan," ucap Raditya sambil memberikan dua lembar tugas untuk Leon dan juga Rian.
"Nanti sajalah ya kerjakannya," pinta Leon yang wajahnya memelas kepada sahabatnya itu.
"Mana bisa? Mau kamu nanti tidak dapat nilai?" Tanya Raditya mengingatkan jika guru satunya itu lumayan tegas dalam mengajar semua muridnya.
Leon berpikir sejenak dan berkata, "Iya ya, nilai aku di mata pelajaran Pak Dodit sudah hancur bisa tidak naik kelas aku."
Raditya dan Rian membenarkan ucapan Leon yang menurut mereka sedang dalam mode bijaknya, "Tumben itu ucapan," goda Rian. Raditya hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua, pemuda itu melanjutkan tugasnya untuk membagikan tugas ke seluruh kelas.
"Aku ke kelas lain dahulu, kalian berdua kerjakan nanti kita bahas kalau aku sudah selesai," pesan Raditya kepada kedua sahabatnya. Pemuda itu segera menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu, "Lumayan bisa lihat dia," ucap Raditya yang tersenyum saat gadis itu melintasi pikirannya.
Raditya memasuki ruangan kelas satu persatu, setiap pemuda itu masuk tak sedikit banyak gadis yang memanggil dirinya. Tapi Raditya tidak pernah menghiraukan panggilan mereka, dia hanya mengulas senyum manisnya apalagi dirinya adalah ketua OSIS di sekolah itu. Saat Raditya memasuki ruangan kelas yang terakhir, tatapan pertamanya adalah mencari sosok gadis yang selalu mencuri perhatian dan mengganggu pikirannya itu.
__ADS_1
"Kemana dia?" gumam Raditya saat tak menemukan sosok gadis yang di carinya.
Tak lama dua orang wanita memasuki ruangan kelas di mana Raditya sedang sibuk membagikan tugas, mereka langsung mendudukkan diri tanpa melihat jika Raditya sedang mengamatinya dari jauh. Raditya segera menghampiri dan menanyakan dari mana mereka berdua, "Dari mana kalian berdu?" Tanya Raditya tegas. Walaupun dalam hati Raditya tidak merasa tega menegur wanita di depannya, mau tak mau itu harus dirinya lakukan.