MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 39 PERPISAHAN


__ADS_3

Tak terasa hari ini adalah hari perpisahan untuk murid-murid kelas 3 SMA Pertiwi, Andini ikut hadir membawakan acara tersebut. Satu-persatu murid disekolah itu menyumbangkan kebolehan mereka, Reza yang melihat penampilan Andini hari ini enggan meninggalkannya. Sore ini setelah acara perpisahan selesai, Reza harus segera pergi ke London untuk melanjutkan pendidikannya disana. Andini yang mengetahui kabar tersebut hanya bisa pasrah, dia juga hanya ingin yang terbaik untuk kekasihnya itu.


"Nanti kamu ikutkan buat antarkan aku?" tanya Reza saat melihat Andini duduk seorang diri di belakang panggung, Andini yang mendengar suara Reza hanya diam tidak menjawab pertanyaan kekasihnya itu.


"Kenapa kamu kok diam saja? Kamu marah aku melanjutkan pendidikan disana?" tanya Reza kembali sambil memegang kedua tangan Andini.


"Sebenernya aku tidak masalah kamu mau meneruskan pendidikan dimanapun, tapi kok rasanya berat pisah sama kamu Kak," jujur Andini yang tidak bisa menutupi kegelisahan hatinya itu.


"Aku kan pergi untuk melanjutkan pendidikan disana Din, kamu mau kan menunggu aku sampai kembali kesini lagi?" tanya Reza tulus, dia terus mencoba menyakinkan Andini bahwa perasaannya tidak akan berubah kepada Andini.


"Kamu janji ya Kak, akan kembali lagi kesini dan jangan pernah lupain aku Kak," pinta Andini yang sudah tidak bisa menahan laju air matanya. Andini yang menyadari masih berada disekitar sekolah segera menghapus air matanya itu, Reza yang melihat Andini menangis segera membantu menghapuskan air matanya.


"Aku mohon Din, kamu jangan menangis lagi. Aku janji akan rajin memberi kabar sama kamu," ujar Reza yang berjanji akan menghubungi Andini setiap ada waktu senggang.


Mereka pun melanjutkan acara sekolah tersebut, Andini mencoba untuk berusaha kuat untuk saat ini. Dia berusaha melupakan masalahnya sejenak, karena Andini harus bisa mengesampingkan urusan pribadinya. Andini yang terlihat ceria di atas panggung, dia mencoba tersenyum walau perasaannya sangatlah sedih.


Setelah acara perpisahan selesai, Andini bergegas pulang kerumahnya. Dia segera membersihkan dirinya, karena Andini akan ikut pergi mengantarkan Reza kebandara. Andini terdiam menatap dirinya di pantulan cermin meja rias yang ada dikamarnya, dia mengamati matanya yang sedikit bengkak akibat menangis saat mandi tadi. Andini terus memikirkan kisahnya dengan Reza akan seperti apa, dia tidak dapat berpikir untuk saat ini.

__ADS_1


"Apakah aku harus mengakhirinya atau aku akan sanggup menunggunya," gumam Andini dalam hati. Andini segera bergegas membukakan pintu kamarnya ketika suara ketukan terdengar dari luar, Andini terkejut saat seseorang yang sedang mengisi pikirannya berdiri disana. Ya Reza lah yang mengetuk pintu kamar Andini, dia ingin Andini ikut untuk mengantarkannya kebandara.


"Boleh aku bicara sebentar," pinta Reza saat melihat Andini terdiam saat berada dihadapannya.


"Mau bicara apa Kak?" tanya Andini sambil berjalan menuju balkon dekat kamarnya, Reza yang melihat Andini pergi meninggalkannya segera menyusulnya dari belakang. Andini berdiri dipinggir pagar balkon rumahnya, Reza berdiri tepat disampingnya. Reza membalikkan badan Andini, dia menggenggam kedua tangan Andini.


"Aku mohon jangan seperti ini Din, aku mau kamu seperti dahulu. Seperti Andini yang aku kenal," pinta Reza yang sambil menggenggam kedua tangan Andini. Andini terdiam menatap kedua mata Reza, dia tidak bisa menahan laju air matanya. Reza yang melihat Andini menangis segera menariknya kedalam dekapannya, Reza mencoba memenangkan Adnini.


"Aku janji Din, aku akan kembali lagi hanya untuk kamu. Kita hanya berpisah sementara, jadi aku mohon kamu jangan seperti ini," ucap Reza lembut sambil melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Andini.


Andini pamit izin kekamar mandi terlebih dahulu, dia membersihkan mukanya terlebih dahulu baru setelah itu dia ikut pergi bersama dengan Reza menuju bandara. Selama diperjalanan Reza yang duduk disamping Andini tak melepaskan tangan perempuan itu, Andini merasa sedih dan bahagia disaat yang bersamaan. Sedih karena harus terpisah jauh, bahagia karena merasa amat dicintai oleh Reza. Selama diperjalanan Andini maupun Reza saling bertukar cerita tentang keluarganya, masa kecilnya, serta masa lalunya. Beni yang ikut mengantarkan Reza tersenyum melihat kedekatan mereka berdua, walau pada awalnya Beni merasa sakit karena orang yang disukai tidak menyukai tapi dia berusaha menerima semuanya.


"Ben, aku titip Andini ya selama aku disana," pinta Reza sambil terus menggenggam jemari Andini.


"Tenang saja Za, aku pasti jaga Andini bagaimanapun dia kan juga sahabatku," jawab Beni.


Perjalanan yang mereka tempuh tidaklah lama, kini mereka sudah tiba di bandara. Reza dan Andini segera turun dari mobil Beni, sedangkan Beni memarkirkan kendaraannya. Mereka berdua berjalan menuju ruang tunggu, menunggu keluarga mereka yang masih dalam perjalanan. Reza yang melihat wajah lelah Andini, segera pamit untuk membelikan Andini minum.

__ADS_1


"Reza kemana Din?" tanya Beni saat tiba dimana Andini sedang duduk dan menunggu Reza kembali.


"Kak Reza lagi membeli minuman dahulu katanya," jawab Andini.


Andini mengeluarkan ponselnya, dia melakukan photo selfie seorang diri. Beni yang melihat Andini sedang asik berphoto ikut merecoki sahabatnya itu, Reza yang tiba langsung mendorong pelan tubuh Beni.


"Ngapain kamu dekat-dekat Andini Ben?" tanya Reza yang cemburu melihat Beni dan Andini berdekatan, Beni yang mendengarnya tertawa lepas saat mendengar pertanyaan sepupunya itu.


"Ya ampun Za, aku lagi gangguin Andini yang lagi asyik photo sendiri. Lagian kamu dari mana? Aku sampe malah menghilang," ujar Beni yang langsung mengambil satu botol minuman yang di pegang Reza.


"Punya aku itu Ben, kenapa tidak beli sendiri sih," cibir Reza yang tidak terima minumannya diambil oleh Beni.


"Sudah kamu berdua saja sama aku ya," bujuk Andini. Reza pun mengaggukkan kepalanya dan tak lama keluarga mereka tiba disana. Sebelum Reza memasuki pesawat dia meminta untuk photo berdua bersama Andini, dia pun meminta bantuan Beni untuk memphotonya.


"Ben photoin aku ya," pinta Reza kepada sepupunya itu. Beni pun memphoto mereka berdua diponsel masing-masing, tak lama panggilan keberangkatan terdengar sampai di tempat mereka berada. Reza pamit kepada kedua orang tuanya dan juga Andini, dia berpesan agar Andini mau menunggunya sampai kembali lagi. Andini hanya bisa pasrah menatap kepergian lelaki itu, dia berharap suatu saat mereka akan di pertemukan kembali suatu saat nanti. Andini berharap Reza tidak akan berpaling darinya nanti, dan penantiannya tidak akan sia-sia.


Andini yang sudah tidak melihat tubuh Reza segera mengajak Beni untuk pulang kerumahnya, selama diperjalanan pulang Andini hanya menatap jendela luar. Dia mulai merasa kehilangan walau hanya sementara, dia berharap semua akan indah pada akhirnya.

__ADS_1


"Kita mampir makan dulu ya Din," ajak Beni. Andini hanya mengaggukan kepalanya dan kembali menatap jalanan luar, sesampainya disebuah restoran Beni langsung memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk kedalam untuk memesan makanan. Andini dan Beni menyantap makanannya, walaupun Andini tidak berselera makan tapi dia menghargai Beni sahabatnya. Setelah menyelesaikan makannya, Beni langsung mengantarkan andini pulang.


__ADS_2