
Andini yang sedang duduk sendiri terlihat senang saat para sahabatnya tiba, mereka memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri wanita hamil itu. Rasanya seperti bertahun-tahun tidak jumpa, padahal setiap bulan mereka selalu merencanakan pertemuan.
"Duh calon Mamah muda, makin cantik aja," ledek Bela saat mendudukan dirinya di bangku sebelah Andini.
Siska kembali dengan membawakan makanan serta minuman, namun sedikit terkejut saat melihat para sahabat sang kakak juga berada di sana.
"Loh ada kakak-kakak di sini," tanya Siska sambil menaruh nampan yang di bawanya.
"Mau pada minum apa? Biar aku buatkan," sambung Siska yang akan kembali mengambil minuman serta makanan untuk para sahabat kakaknya.
"Jadi betah nih kalau main ke sini, Siska baik banget sih," puji Meli sambil tertawa. Mereka memang terbiasa untuk berkumpul disana, bukan karena bisa makan dan minum gratis namun baginya hanya tempat itu yang paling nyaman untuk bertemu.
"Huuuss Meli kalau ngomong suka bener," lanjut Yani yang membuat semua tertawa mendengar guyonan recehnya.
"Sudah ah, aku ambil yang seperti biasa saja ya Kakak-kakak," ujar Siska bergegas meninggalkan mereka yang asik bercerita.
Mereka selalu menghabiskan waktu jika sudah berkumpul itu membuat para suami dan pacar mereka mau tidak mau datang menghampiri, seperti sekarang tanpa terasa mereka sudah bercengkrama lebih dari lima jam lamanya. Dari matahari masih terlihat hingga matahari sudah tidak menampakkan dirinya, makanya mereka lebih nyaman jika bertemu di toko roti milik Maya di bandingkan dengan tempat lain.
"Ya ampun kalian masih di sini?" tanya Reza yang tiba-tiba muncul.
Pria itu baru saja pulang dari kantornya, dia menanyakan keberadaan sang istri terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah. Sambil menggelengkan kepalanya, Reza mendatangi meja dimana Andini dan para sahabatnya berada.
"Sini Kak gabung yuk," panggil Andini yang belum ingin beranjak dari sana. Dengan mengajak Reza untuk ikut bersamanya besar kemungkinan masih bisa mengobrol lebih lama lagi, apalagi sambil menunggu para pasangan mereka yang sudah di pastikan akan datang.
Reza duduk di bangku yang berada di belakang Andini, sambil memainkan ponsel miliknya dia mendengarkan percakapan sang istri.
__ADS_1
"Sayang," panggil Reza yang langsung membuat wanitanya menoleh ke arah dimana dirinya berada.
"Sebentar lagi ya," pinta Andini sambil mengedipkan sebelah matanya. Dia sedang mencoba merayu sang suami, bukan dia tidak ingin pulang namun kapan lagi mereka akan kumpul seperti ini.
Apalagi setelah Meli bercerita jika dirinya akan pindah keluar kota dalam waktu dekat, Beni di pindah tugas oleh kantornya sehingga mau tidak mau Meli akan ikut.
"Tapi kan besok kamu ada jadwal kontrol kandungan Din," Reza mengingat jika sang istri yang harus pergi mengecek kandungan. Dia tidak ingin Andini kelelahan sebab sudah dari siang mereka berada di sana, Siska pun sudah mulai terlihat merapikan toko.
Reza pamit keluar sebentar, dia ingin menghubungi para sahabatnya untuk menjemput istri mereka masing-masing.
Tidak berselang lama para pria itu tiba dengan kendaraan mereka masing-masing, Reza langsung menghampiri mereka.
"Lama sekali kalian, tidak tahu apa itu para istri dari tadi masih betah di sana." Reza menunjukkan letak para wanita itu berada.
Terdengar helaan nafas dari para pria, sebenarnya mereka juga merasa kasihan dengan pasangannya namun mau bilang apa. Karena jika mereka bekerja pasti waktu bertemu akan semakin sedikit, itu pernah di alami oleh mereka semua hingga memutuskan untuk menyuruh para wanitanya di rumah saja.
Diantara mereka hanya Dika yang masih berstatus pacaran dengan Bela, selebihnya mereka sudah menikah bahkan sedang menunggu kehadiran buah cintanya.
"Aku masih belum membicarakan ini dengan Bela, aku sih maunya tahun ini." Dika berharap jika Bela mau menerima sebagai pendamping hidupnya, tapi masih ada beberapa hal yang mengganjal di hati hingga belum berani mengungkapkannya.
"Coba kamu lihat dia Dik," tunjuk Beni ke arah dimana Bela sedang tertawa.
Beni tahu sebenarnya gadis itu sudah ingin memiliki keluarga, namun apalah daya sang kekasih belum membicarakan sampai saat ini.
"Kamu tahu tidak Dik, Bela jika di kantor akan menyingkir jika mereka sedang membicarakan tentang kekasihnya yang sudah melamar. Kamu mau Bela di ambil orang lain?" tanya Beni.
__ADS_1
Pria itu tahu keseharian Bela sebab mereka berada satu kantor, dan itu tidak bisa di pungkiri untuk mereka tidak mengetahui satu sama lain. Meli mengetahui jika sang suami satu pekerjaan dengan sahabatnya, namun dia percaya jika hanya dirinya yang berada di hati Beni.
Dika menundukkan kepalanya, dia juga merasa bersalah selama ini tidak pernah memberi keputusan pasti tentang hubungan mereka.
"Pikirkan baik-baik Dik, sebentar lagi aku pindah tugas jadi tidak bisa memantau Bela lagi dan aku serahkan semua ke kamu." Beni pamit untuk memanggil sang istri.
Fahmi yang mendengar penuturan Beni menepuk pundak Dika, dia memberi semangat kepada sahabat juga rekan kerjanya itu. Reza yang bersandar di mobil miliknya hanya tersenyum mendengar ucapan Beni barusan, dia tahu sifat sepupunya seperti apa.
"Kamu renungkan semua yang Beni katakan, itu semua demi kebaikanmu dan jika kamu memang tidak bisa berkomitmen lebih jauh ... Tinggalkan dia," Reza kembali masuk kedalan toko.
"Sis, mau bareng tidak pulangnya?" tanya Reza yang menawarkan tumpangan kepada adik iparnya.
Siska yang sedang merapikan meja kasir langsung menoleh saat Reza bertanya kepadanya, "Terima kasih Kak. Aku bawa kendaraan tadi," jawab Siska sopan sambil menunjuk mobil putih miliknya.
Reza berlalu meninggalkan Siska, dia berjalan dan membantu sang istri yang sudah siap untuk di ajaknya pulang. Yani dan Bela juga ikut pamit setelah Meli yang pulang terlebih dahulu, sebab anak mereka sudah terlalu lama di tinggal dengan sang Mamah.
Awalnya Meli ingin mengajak buah hatinya untuk ikut berkumpul disana, namun karena sang Mamah melarangnya dan berkata akan menjaga bocah kecil itu sehingga Meli dengan santai berangkat seorang diri.
Satu persatu mulai meninggalkan toko kue Maya, termasuk Dika yang juga sudah membawa Bela untuk di antarkan pulang ke rumahnya. Selama di perjalanan hanya hening yang tercipta, sebab di pikiran Dika saat ini terus terngiang ucapan para sahabatnya. Dia sendiri belum yakin akan menjadi imam yang baik untuk Bela, karena tanpa sepengetahuan Bela pria itu sedang dekat dengan masa lalunya.
ADA MASA DIMANA RASA ITU AKAN SELALU HADIR, NAMUN TIDAK MENUTUP KEMUNGKINAN JIKA RASA ITU AKAN HILANG SEIRING WAKTU BERJALAN. SAYANGI DIA YANG BERADA DI DEKATMU, SEBAB JIKA DIA PERGI BELUM TENTU DIA AKAN KEMBALI KEPADAMU.
kalau ada yang keluar jalur atw ceritanya rada ngawur komen ya, soalnya otakku lagi kebagi sama tugas di dunia nyataπ π π π π
jangan lupa like,komen dan votenya ya. sedikit berbagi dan mohon klik tombol likenya biar aku juga semangat buat nulis lebih baik lagi.
__ADS_1
terima kasih semuanya π€π€π€π€π€