
Reza yang tidak bersemangat telah tiba di kantornya, dia segera memasuki ruangannya dan memeriksa berkas yang belum sempat dirinya periksa.
"Ini ...," ucap Reza yang mengambil berkas yang terjatuh dari atas mejanya, di sana tertera bahwa itu adalah sebuah surat pengunduran diri yang telah di tanda tangani oleh dirinya.
"Kapan aku tanda tangani berkas ini?" tanyanya sambil mengingat kapan dirinya menandatangani surat itu, "Astaga, jadi berkas yang waktu itu adalah ini," sambungnya saat teringat kapan dirinya menandatangani surat pernyataan pengunduran diri Andini.
"Surya, datang ke ruangan saya segera," perintah Reza melalui telepon yang ada di ruangannya. Pria itu ingin menanyakan secara langsung tentang alasan pengunduran diri Andini di perusahaan miliknya, karena setahu dirinya Andini tidak pernah bermasalah selama 3 bulan bekerja di sana.
"Permisi Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Surya saat memasuki ruangan sang bos.
"Kamu tahu alasan Andini mengundurkan diri?" tanya Reza kepada asistennya itu.
"Tidak Pak, Andini tidak pernah bercerita apapun tentang pekerjaannya di kantor ini," terang Surya yang memang tidak mengetahui pasti atas pengunduran diri salah satu karyawan di sana. "Tapi saya pernah mendengar jika dia ingin sekali meneruskan S2 di luar Negeri Pak," ucap Surya yang ingat jika gadis itu ingin sekali meneruskan pendidikannya di luar Negeri karena dia ingin mencari pengalaman berada di Negeri orang.
"Terima kasih, lanjutkan pekerjaanmu sekarang," pinta Reza. Pria itu kembali berpikir harus melakukan apalagi untuk membuat Andini mau kembali kepadanya, terlebih sekarang entah di mana keberadaan gadis itu.
Reza mengambil ponsel miliknya dan mencoba menghubungi Rian, orang yang terakhir kali dekat dengan Andini. Reza akan berusaha mencari tahu di mana keberadaan Andini saat ini.
"Hari ini saya ada jadwal tidak?" tanya Reza saat melewati meja asistennya itu.
"Tidak ada Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Surya kepada bosnya itu.
"Jika ada yang mencari saya bilang saya tidak ada di tempat, kosongkan semua jadwal sampai jam pulang kantor," perintah Reza kepada asisten pribadinya itu. Hari ini dia bertujuan ingin mencari tahu tentang keberadaan Andini.
"Baik Pak," jawab Surya.
Reza berjalan meninggalkan Surya, dia bergegas ingin menemui Rian di kantornya. "Kemana kamu Din, apa benar kamu pergi ke luar Negeri hanya untuk menghindar dariku," ucap Reza sambil menjalankan mobilnya menuju tempat di mana Rian berada.
__ADS_1
Setibanya di depan sebuah perusahaan entertainment, Reza segera memarkirkan kendaraannya.
"Permisi saya ingin bertemu dengan Bapak Rian," ucap Reza kepada resepsionis yang berada di depannya.
"Apa sudah membuat janji sebelumnya?" tanya resepsionis tersebut.
"Tolong bilang saja saya ingin bertemu," perintah Reza yang merasa tidak senang dengan karyawan di depannya.
"Maaf Pak, kalau belum membuat janji saya tidak bisa mempersilakan Bapak untuk bertemu dengan Pak Rian," ucapnya sopan.
Rian yang baru kembali dari makan siangnya, merasa risih karena mendengar suara gaduh di kantornya.
"Ela, ada apa ini?" tanya Rian tanpa melihat seseorang yang berada di sebelahnya.
"Maaf Pak, Bapak ini memaksa untuk bertemu dengan Bapak," ucap Ela sambil menunjuk pria yang ada di depannya. Rian segera menengok ke arah yang di maksud oleh karyawannya itu, "Reza," ucap Rian saat melihat pria yang di maksud oleh Ela.
"Ayo kita bicara di ruanganku saja ya," ajak Rian. "Ela, jika Bapak ini datang mencari saya kembali, persilakan langsung menuju ke ruangan saya karena dia sahabat saya," sambung Rian yang memerintahkan kepada karyawannya itu.
"Baik Pak, maaf saya tidak tahu jika Bapak ini sahabat Bapak," ucap Ela yang merasa tidak enak akan sikapnya tadi.
"Tidak masalah, saya memakluminya karena itu termasuk prosedur perusahaan bukan?" ucap Reza sambil mengikuti Rian berada di depannya. Ela yang mendengar ucapan Reza seketika tersenyum, "Coba pria seperti itu ada satu buat aku," gumam Ela yang langsung mendapatkan tawa dari teman yang berada di sampingnya. "Jangan mimpi tinggi-tinggi Ela, kamu tidak lihat sepertinya dia sama seperti bos," ucap teman Ela yang tak bisa berhenti mentertawakan dirinya.
"Diem deh pada, kenapa sih kok malah di tertawakan? Emang ada yang salah?" tanya Ela dengan polosnya.
"Ada apa tumben kamu datang ke tempatku? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Rian setelah mereka berdua sampai di ruangan miliknya.
"Apa kamu tahu keberadaan Andini sekarang? Aku sudah 3 bulan ini mencari Andini tetapi tidak dapat menemukannya," ucap Reza yang frustasi karena di buat merasa bersalah akan kepergiaan gadis itu.
__ADS_1
"Kamu tahu darimana jika Andini pergi jauh?" tanya Rian yang sudah tidak tahan melihat kebodohan pria di hadapannya itu.
"Maksud kamu apa? Apa Andini sebenarnya tidak pergi jauh?" tanyanya yang membuat Rian tertawa seketika dengan pertanyaan dari Reza.
"Jadi kamu benar-benar tidak tahu Andini berada di mana? Ternyata semua sahabat terbaikmu pintar menyembunyikan kenyataan yang ada," tutur Rian. Reza yang mendengar pernyataan Rian merasa heran dengan maksud dari pria di depannya itu.
"Kamu coba tanya dengan sahabat-sahabatmu, apa benar jika mereka tidak tahu keberadaan Andini," perintah Rian. Pria itu bergegas berjalan menuju meja kerjanya, "Tolong bawakan minuman ke ruangan saya," perintah Rian setelah sambungan teleponnya terhubung dengan sang sekertarisnya.
Rian kembali berjalan menghampiri Reza yang masih terdiam karena masih mencerna ucapannya, "Kamu tunggu saja sebentar lagi juga kamu akan tahu jawabannya," ucap Rian dengan tawa yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Masuk," ucap Rian saat mendengar suara ketukan pintu di luar ruangannya.
"Andini," ujar Reza yang terkejut melihat gadis yang selama ini di tunggu-tunggu kehadirannya.
Andini yang melihat keberadaan Reza di sana sama terkejutnya dengan pria itu, "Kak Reza," ucap Andini sambil membawakan nampan yang berisi minuman pesanan Rian.
"Kamu berbicara berdua dahulu, saya ada janji sebentar," pamit Rian. Dia ingin Reza dan juga Andini menyelesaikan masalah yang sebenarnya tidaklah rumit, hanya salah paham yang terjadi saat ini.
"Kenapa kamu meninggalkan aku Andini?" tanya Reza yang sudah tidak bisa menahan rindu dengan gadis di hadapannya itu.
Andini yang mendengar pertanyaan Reza hanya bisa menundukkan kepalanya, "Maafkan aku Kak," ucapnya.
Reza menghampiri Andini yang duduk di sofa depannya, "Kamu tidak salah Andini, aku yang salah," ucap Reza sambil memegang tangan Andini. Andini hanya terdiam tanpa berani melihat ke arah pria di depannya itu.
"Andini, kamu mau kan menerima tawaran aku beberapa bulan lalu?" tanya Reza, Andini terdiam memikirkan tawaran apa yang di berikan oleh Reza. "Tawaran apa ya Kak?" tanyanya.
Terima kasih sudah mau mampir, jangan lupa like dan komen nya ya, di tunggu juga vote nya, oh iya aku juga minta maaf jika tidak bisa up setiap hari tapi jika ada waktu senggang aku pasti up kok 😉😉😉😉
__ADS_1