
Sore hari toko kue sang Ibu sedang ramai-ramainya dengan pembeli, Reza yang tiba di rumah Andini merasa tidak tega jika harus mengajak Andini keluar rumah sedangkan sang Ibu sedang membutuhkan bantuannya. Reza segera menghampiri Andini, dia juga membantu Andini melayani para pembeli itu. Satu persatu para pembeli terlayani dengan baik, kue ditoko pun sudah banyak yang habis. Andini mendudukkan dirinya di sofa yang ada di toko itu, dia sejenak beristirahat sebelum para pembeli kembali hadir disana. Reza yang melihat Andini duduk segera menghampiri nya, dia memberikan air mineral kepada Andini yang terlihat kelelahan.
"Minum dahulu," ujar Reza sambil memberikan minuman untuk Andini.
"Terima kasih," tulus Andini yang menenggak setengah botol air tersebut. Reza yang memperhatikan Andini tertawa saat melihat Andini meminum air itu dengan cepat.
"Haus banget ya, lihat sampai tinggal setengah airnya," ledek Reza sambil menunjuk botol minum yang airnya sudah berkurang banyak itu.
"Banget Kak, dari pagi aku kan bantuin Ibu. Terus pas toko belum lama buka, para pembeli sudah banyak. Jadi mana sempat aku minum dahulu," jelas Andini yang meneruskan meminum air tersebut hingga habis.
"Kita tidak jadi pergi ya hari ini, kasian Ibu kalau kita tinggal. Nanti siapa yang bantuin dan jaga toko kalau kita pergi," putus andini yang tidak tega jika harus meninggalkan sang Ibu sendirian ditoko.
"Kamu tidak marahkan jika kita tidak jadi pergi?" sambung Andini takut, dia takut jika Reza akan marah karena dia membatalkan acaranya hari ini.
"Kenapa harus marah, malah aku bangga kamu lebih memilih membantu orang tua daripada pergi sama aku. Berarti kamu sayang sama orang tuamu, aku berharap siapapun nanti yang akan menjadi jodohmu kelak kamu bisa menyayangi orang tuanya ya. Sama seperti kamu menyayangi orang tuamu," terang Reza. Andini yang mendengarnya hanya tersenyum dan berpikir apa maksud dari Reza, sebenarnya Reza ingin mengatakan sesuatu kepada Andini.
"Din, aku mau bilang sesuatu boleh?" tanya Reza yang sedikit berat untuk mengatakannya, dia terus berfikir harus jujur atau tidak.
__ADS_1
"Kamu mau bilang apa kak? Bilang saja, memang ada masalah apa? Kayaknya serius sekali," desak Andini yang penasaran apa yang ingin dikatakan oleh Reza.
Reza terdiam sesaat, dia melihat Andini dengan seksama. Dalam hati Reza banyak pertanyaan yang timbul, Reza merasakan gelisah dari kemarin saat dia menerima surat beasiswa nya.
"Aku mau kuliah di Luar Negeri," lirih Reza yang masih terdengar oleh Andini.
"Kamu serius Kak?" tanya Andini yang merasa berat jika harus berpisah dari Reza.
"Iya, sudah lama aku mengikuti ujian penerimaan mahasiswa baru di London dengan jalur beasiswa. Aku fikir tidak lolos ternyata kemarin aku dapat email bahwa aku diterima disana," terang Reza yang merasa bimbang dengan apa yang ada di depannya.
"Kamu tidak apa-apa jika aku menempuh pendidikan disana?" tanya Reza untuk menyakinkan hatinya bahwa Andini memberinya izin dan semangat untuknya.
"Iya aku tidak apa-apa menjalani pendidikan disini, nanti kalau ada kesempatan aku juga mau ikut," ucap Andini. "Aku berharap kamu disana bisa belajar dengan baik, jangan lupain aku juga ya," pinta Andini yang sebenarnya tidak menyetujui keinginan Reza untuk meneruskan pendidikan disana.
Reza dan Andini yang sedang menjaga toko kue menunda pembicaraan nya ketika ada pelanggan yang datang, dan mereka melanjutkan pembicaraan nya ketika para pembeli sudah tidak ada didalam toko.
"Kapan Kakak berangkat kesana?" tanya Andini ketika para pembeli sudah meninggalkan toko kue sang Ibu.
__ADS_1
"Selepas kelulusan aku mulai menetap disana, tapi bulan depan aku harus kesana untuk mengurus apa saja yang dibutuhkan,"
Andini yang mendengar penjelasan Reza hanya bisa tersenyum walau di dalam hati Andini yang paling dalam dia tidak ingin Reza meninggalkan dirinya sendiri di sini, tapi mau bilang apa semua demi kebaikan Reza dan masa depannya. Reza pamit pulang untuk menyiapkan keperluan nya bulan depan, Andini pun mengiyakan dan Reza berlalu meninggalkan Andini seorang diri di toko.
"Aku berharap yang terbaik untuk mu dan semoga kamu tidak pernah pindah ke lain hati ya Kak," gumam Andini saat Reza mulai hilang dari pandangan nya. Andini kembali disibukkan dengan para pembeli yang tidak ada habisnya, dia bersyukur bisa membantu Ibu nya walau dengan cara seperti ini.
Kue di toko sang Ibu sudah tidak tersisa satupun, Andini segera menutup tokonya dan izin kekamarnya untuk membersihkan diri. Ibu yang melihat perubahan wajah Andini mencoba menanyakannya saat makan malam.
"De, Ibu perhatikan kok cemberut saja ada apa?" tanya Ibu pelan yang merasa heran dengan perubahan sikap anaknya.
"Tidak apa-apa Bu, hanya perasaan Ibu saja," sanggah Andini yang tidak ingin ada yang mengetahui perasaannya untuk saat ini.
Mereka pun memulai makan malamnya dengan diselingi obrolan santai, Ibu yang mengetahui apa yang Andini rasakan lebih memilih diam. Dia akan bersabar jika Andini tidak mau bercerita untuk saat ini, Ibu sudah tahu apa yang Andini fikirkan karena tadi tidak sengaja Ibu mendengarkan percakapan anaknya itu.
Andini yang kembali kedalam kamarnya setelah menyelesaikan makan malamnya, dia terus memikirkan tentang ucapan dari Reza. Andini berharap semua akan baik-baik saja nantinya, dan dia mencoba memejamkan matanya dan mencoba untuk tidak memikirkannya. Andini yang tidak bisa tidur bergerak mengambil laptopnya untuk mencari info tentang beasiswa di London, dia berniat untuk menyusul Reza jika berhasil mendapatkan nya.
Perasaan kecewa di rasakan oleh Andini, karena dia terlambat untuk mendaftarkan diri sebagai calon penerima beasiswa dimana Reza mendaftarkan diri. Tapi Andini tidak akan patah semangat, dia akan mencoba nya kembali tahun depan. Saat perasaan kantuk menyerangnya, Andini langsung memejamkan matanya. Dan tak butuh waktu lama untuk Andini terlelap, dia pun sudah berada didalam mimpinya.
__ADS_1