
Pagi ini Reza sudah rapih dengan kemeja kerjanya, namun pria itu akan mengantarkan sang istri periksa kandungan terlebih dahulu. Dia sudah membuat janji dengan dokter, sehingga tidak perlu mendaftarkan lagi.
Di saat sedang menunggu panggilan, Andini pamit kepada Reza untuk ke toilet. Maklum kehamilan yang semakin membesar menyebabkan dirinya lebih mudah merasakan ingin buang air kecil, itu semua di sebabkan bayi yang terus berkembang di dalam kandungannya.
Andini yang sudah selesai dari toilet bergegas menghampiri Reza, namun di saat sedang berjalan tidak sengaja dirinya bertabrakan dengan seseorang. Andini terkejut saat melihat sosok yang tidak sengaja menabraknya, "Andrew."
Reza yang menunggu Andini mencoba untuk mencari keberadaannya setelah lama tidak kunjung kembali, dia mencoba menyusuri toilet terlebih dahulu.
"Kemana dia," tanya Reza saat tidak menemui Andini di sekitar toilet wanita. Dia kembali berjalan, lorong rumah sakit yang ramai sedikit membuatnya kesulitan menemukan istrinya.
"Permisi Sus, apa kamu lihat istri saya?" tanya Reza saat datang ke meja pendaftaran sebab tadi hanya mereka yang melihat sang istri pastinya.
"Maaf Pak saya tidak melihatnya," jawab salah satu suster yang sedang mendata pasien lain.
"Terima kasih," ucap Reza sambil berjalan mencoba mencari keberadaan Andini.
Kedua pandangan mata Reza menyipit untuk memastikan orang yang sedang di lihatnya, dengan tergesa-gesa pria itu datang menghampiri dua orang yang sedang berbicara di ujung lorong.
"Ngapain kamu?" tanya Reza sambil menarik paksa lengan Andini.
Andini terkejut saat melihat sosok sang suami yang terlihat marah, dia juga sedikit merasakan sakit akibat cengkraman di lengannya.
"Aw, aw, sakit." Andini mencoba menahan sakit di lengan kanannya.
__ADS_1
Andrew melihat Andini merintih kesakitan, namun dia juga tidak bisa menolong apapun karena pria itu tahu bagaimana sifat Reza seperti apa.
"Ini semua salah paham Za." Andrew akhirnya membuka suara saat melihat Reza yang terus terlihat marah kepada sang istri.
Reza menghela nafasnya, dia melepaskan cengkraman tangannya yang masih berada di lengan Andini.
"Maaf," ucap Reza sambil mendudukan dirinya di kursi yang tersedia di sana.
Andini datang menghampiri sang suami yang sedang menundukkan kepalanya, kedua tangan pria itu meremas rambutnya. Di pegang bahu Reza hingga membuat kedua matanya menatap wajah manis sang istri yang terlihat berair, Andini langsung mendudukan dirinya di bangku kosong.
"Aku bisa jelaskan, tapi kamu tenangkan diri dulu." Andrew mencoba menenangkan pria yang kini berstatus sahabatnya itu.
Reza menarik nafasnya yang sedikit tersengal, dia dari tadi mencari keberadaan sang istri hingga kedua kakinya terasa lemas tidak bertenaga, Andini menggenggam kedua tangan Reza hingga pria itu mau menatapnya, rasa bersalah tercipta di kedua mata gadis pujaannya.
Reza hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Andini, wanita itu bernafas lega saat Reza mau mendengarkan penjelasannya.
Andini mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Andrew tadi, pertemuan yang tidak di sengaja. Andini yang selesai dari toilet tidak sengaja menabrak seseorang, ternyata sosok yang di tabraknya adalah Andrew. Mengapa Andrew berada di sana dia pun tidak tahu, tapi Andrew menjelaskan tentang keberadaan di rumah sakit yang sama dengannya.
Reza mendengarkan penjelasan sang istri tanpa sedikit pun memotongnya, Andrew yang berada di depan Reza hanya menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Andini.
"Kamu percaya sama aku kan?" tanya Andini. Wanita itu sangat merasa bersalah telah meninggalkan sang suami tanpa memberitahu terlebih dahulu, dia sedikit panik saat mendengar jika ibu dari Andrew sedang di rawat di sana.
"Maafkan aku Za, tadi aku juga lupa bertanya kepada Andini. Ibuku sangat dekat dengan Andini dan selama beberapa hari di rawat hanya Andini yang selalu di tanya olehnya, awalnya aku bimbang akan mengajak Andini. Tapi pas aku sedang bingung Andini berada di hadapanku dan maaf sekali lagi langsung menariknya untuk bertemu dengan Ibu." Andrew menjelaskan semuanya tanpa di tutupi sedikipun.
__ADS_1
Reza memaafkan Andini dan juga Andrew, "Jangan ulangi lagi. Aku sungguh khawatir saat kamu tidak kembali dari toilet," ucap Reza yang merasa takut terjadi sesuatu terhadap istri dan juga anak yang berada di kandungan Andini.
Di tempat lain, Dika terus saja memikirkan tentang ucapan para sahabatnya. Bukan dia tidak mencintai Bela tetapi, cinta masa lalunya kembali hadir dan membuatnya bimbang.
Ponsel milik Dika berdering, pria itu menatap benda pipih miliknya. Tertera nama yang sedang membuatnya dilema, Bela mencoba menghubungi sang kekasih untuk mengajak makan siang bersama. Namun panggilan itu di abaikan oleh pria yang sudah mengisi kekosongan hatinya.
"Kenapa tidak di angkat ya? Kemana dia?" tanya Bela heran, sebab Dika tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bela kembali memasukkan ponsel miliknya kedalam tas, dia bergegas menuju restoran untuk makan siang, tanpa sengaja saat perjalanan keluar dari tempat bekerjanya Bela bertemu dengan teman satu divisinya yang juga ingin makan siang.
Tanpa ragu Bela mengajaknya makan siang bersama, dengan berjalan kaki mereka tiba di sebuah restoran. Bela mengajak temannya itu untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu, setelah mendapatkan tempat duduk mereka memulai memesan beberapa makanan.
Dika yang awalnya tidak ingin pergi kemana-mana namun desakan dari Rere gadis masa lalunya membuat dirinya harus mengikuti, pria itu langsung pergi menuju tempat dimana Rere memintanya datang.
Bela menyantap makan siangnya dengan tidak bersemangat hingga pandangan matanya melihat ke sosok yang baru saja masuk ke dalam sana, namun yang membuat bingung sosok itu ternyata tidak menghampiri dirinya.
Bela sedikit penasaran kemana pria itu pergi, dia pamit kepada teman kantornya untuk ke toilet sebentar.
Bela terkejut saat melihat sosok yang sangat di cintainya bermesraan dengan gadis lain, dengan perasaan tidak menyangka Bela langsung berlari tanpa memperdulikan panggilan temannya. Air mata yang mencoba di bendung, keluar tanpa permisi. Bela terus berlari hingga sampai tidak terasa telah tiba di depan kantornya, dengan menghapus air mata yang sejak dari tadi tidak ingin berhenti dia tetap berlari menuju ruangannya.
Tidak peduli dengan tatapan seluruh karyawan yang melihatnya, mereka semua bertanya ada apa namun tidak satupun yang di jawab oleh gadis itu.
"Kenapa kamu tega sama aku," ucap Bela sambil terus menangis tanpa henti.
Reyna yang menemani makan Bela tadi datang menghampiri, "Kamu kenapa Bel? Kenapa tiba-tiba langsung pergi padahal makananmu belum habis?" tanya Reyna sambil datang menghampiri. Gadis itu terkejut saat melihat wajah sembab Bela, "Ada apa Bel? Cerita sama aku." Reyna memaksa untuk Bela bercerita kepadanya.
__ADS_1
MENGABAIKANMU ADALAH CARAKU UNTUK MEMBUATMU SADAR SIAPA AKU SEBENARNYA DI HATIMU