MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 21 LOMBA


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir murid-murid SMA Pertiwi mengikuti ujian semester pertama, mereka bersorak gembira karena sebentar lagi akan liburan semester. Mereka sudah ada yang merencanakan untuk berlibur bersama, sama seperti Andini dan teman-temannya yang akan berlibur di puncak setelah dia menyelesaikan lombanya.


"Liburan kali ini kita kemana?" tanya Meli sambil memakan baksonya saat jam istirahat.


"Aku sih maunya kepuncak saja yang dekat terus juga tempatnya sejuk," ucap Andini sambil membayangkan bagaimana berada di daerah puncak.


"Aku sih setuju saja, Kak Reza kamu ajak tidak Din?" tanya Bela sambil mengaduk minumannya.


"Tidak tahu aku belum tanya sama dia, nanti saja tanyanya," ujar Andini yang memang tidak tahu kapan mereka akan berangkat.


Tak lama Reza dan teman-temannya datang ke meja yang sedang Andini dan yang lainnya tempati, dia langsung meminum jus milik Andini.


"Bagi sedikit kenapa sih, cemberut gitu minumannya aku minta dikit," ujar Reza sambil mencubit pipi Andini karena gemas melihat sikapnya yang cemberut saat Reza meminum jusnya.


Reza berjalan kearah tempat penjual jus untuk mengganti jus Andini yang barusan dia minum.


"Ini sayang jusnya aku ganti, jangan cemberut lagi dong," goda Reza sambil menyerahkan segelas jus yang baru dia beli, Andini yang mendengar Reza mengatakan sayang langsung merona merah wajahnya.

__ADS_1


"Habis kamu jahil sih, minuman aku main minum saja kenapa tidak beli sendiri sih?" tanya Andini yang menyembunyikan perasaan senangnya saat mendengar kata-kata Reza.


"Rasanya beda soalnya, kok bisa ya lebih manis yang punya kamu daripada aku beli sendiri?" tanya Reza yang menggoda Andini kembali. Andini yang mendengarnya langsung memukul lengan Reza.


"Awawaw ... Sakit sayang, jangan dipukul di sayang saja ya?" ucap Reza sambil berlari karena di kejar oleh Andini.


Para sahabatnya yang melihat hanya bisa tertawa akan kelakuan mereka berdua. Mereka juga merasa senang karena akhirnya Reza dan Andini bisa melupakan masa lalunya itu.


Hari ini adalah hari yang mendebarkan bagi Andini, karena dia akan mengikuti lomba Olimpiade matematika di sekolahnya. Andini yang telah siap tiba-tiba merasa gugup dan izin pergi ke toilet sebentar, dari kejauhan Mirna yang melihat Andini pergi ke toilet seorang diri mengikutinya dari belakang. Di saat Andini menutup pintu toilet Mirna langsung menjalankan aksinya yaitu mengunci pintu toiletnya.


Andini yang telah selesai dan akan kembali ke tempat acara merasa terkejut saat mencoba membuka pintu tapi tak kunjung terbuka. Andini yang panik langsung menggedor-gedor pintu toilet itu agar ada yang bisa mendengarnya.


"Ada orang didalam?" tanya Andrew saat menemukan sumber suara itu. "Siapa didalam?" sambung Andrew lagi saat tiba di depan pintu toilet.


"Iya ada, tolong bukakan pintunya," pinta Andini dengan nada bergetar menahan tangisnya.


"Andini apa itu kamu?" tanya Andrew yang merasa tidak asing dengan suaranya.

__ADS_1


"Iya, cepat tolong aku ... Aku takut disini sendiri," ucap Andini yang sudah tidak bisa menahan tangisnya.


"Tunggu aku panggil satpam dulu, kamu tenang dulu di dalam ya," Andrew segera berlari menuju pos satpam yang berada di depan sekolah.


Tak lama Pak satpam, Andrew dan beberapa guru mendatangi toilet di mana Andini berada. Reza yang sedang mencari Andini merasa heran ketika melihat banyak guru yang pergi menuju toilet perempuan, perasaan Reza tiba-tiba langsung tertuju kepada Andini. Dia langsung mengikuti yang lainnya pergi ke tempat itu.


Setelah didobrak pintunya terlihat Andini yang sedang menangis karena telah lama berada di dalam sana. Andini yang melihat pintunya sudah terbuka langsung bergegas keluar dan mengucapkan terima kasih karena sudah menolongnya. Setelah di rasa cukup tenang, Andini memohon agar tetap bisa mengikuti lomba yang sudah dia tunggu sejak lama itu.


"Kamu yakin mau tetap ikut lombanya," tanya Reza sambil memberikan minuman untuk membuatnya lebih tenang. Andini hanya menganggukkan kepalanya dan memohon agar tetap bisa mewakili sekolahnya dilomba itu.


Guru-guru pun mau tidak mau menyetujuinya karena waktu lomba akan segera di mulai. Andini bersiap-siap dan merapikan kembali pakaiannya karena agak sedikit kusut akibat terkunci di kamar mandi tadi.


"Terima kasih atas bantuan kamu tadi, kalau tidak ada kamu ... Aku tidak tahu bagaimana jadinya," ucap Andini ketika melintas di depan Andrew yang sudah duduk ditempat lomba.


"Sama-sama, aku senang bisa bantu kamu tapi siapa yang tega melakukan itu sama kamu Andini?" tanya Andrew yang merasa heran karena Andini terkunci dari luar dengan sengaja.


"Aku tidak tahu, biarkan saja," ujar Andini seraya meninggalkan tempat Andrew menuju ke tempatnya. Lomba pun di mulai, sorak-sorak dari pendukung sekolah masing-masing terdengar memenuhi tempat itu. Andini dan Andrew terus berkonsentrasi demi membawa nama baik sekolahnya.

__ADS_1


Lomba berakhir dengan skor beda tipis antara sekolah Andini dengan sekolah Andrew. Andrew merasa senang walaupun hanya bisa menempati posisi kedua dalam lomba itu, setidaknya dia sudah mencobanya dengan sebaik mungkin.


__ADS_2