
Tidak terasa sudah satu minggu Andini dan Reza berlibur di villa, hari ini mereka berniat untuk kembali ke rumah. "Kamu sudah siap?" tanya Reza yang melihat Andini sedang merapikan batang-barangnya. "Sudah tinggal sedikit lagi," jawab Andini. Reza berjalan menghampiri sang istri yang terduduk di tepi ranjang setelah selesai membereskan barang bawaan mereka, "Kamu sakit?" tanya Reza sambil menyentuh dahi sang istri.
Wajah cantik Andini terlihat sedikit pucat dan itu membuat Reza khawatir padanya, "Kalau tidak enak badan kita batalkan saja pulangnya hari ini," sambung Reza. Andini menggelengkan kepalanya, "Nanti pekerjaan kamu bagaimana kalau tidak pulang hari ini?" Andini menatap tajam wajah Reza memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.
"Okeh kita pulang hari ini tetapi, kalau merasa tidak enak bilang sama aku," pinta Reza. Andini menganggukkan kepalanya, tidak berselang lama pintu kamar mereka di ketuk oleh Surya. "Maaf Pak mobilnya sudah siap, ada yang bisa saya bantu?" tanya Surya setelah Reza membuka pintu kamarnya. "Tolong bawakan koper itu saja," ucap Reza sambil menunjuk koper yang sudah di siapkan tidak jauh darinya.
Surya segera melaksanakan tugas dari bosnya itu, Reza membantu Andini yang sedikit pusing untuk keluar kamar. Reza menghentikan langkahnya saat bertemu dengan Sarah dan juga Wahyu, "Saya akan pulang hari ini jadi tolong jaga villa ini dengan baik jangan sampai kotor," perintah Reza sebelum dia benar-benar meninggalkan villa miliknya.
Selama di perjalanan Reza tanpa henti-hentinya mengecek keadaaan Andini, Andini terus menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Kita kedokter sebentar ya," ajak Reza. Andini terus menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa hanya kelelahan," ucapnya yang terus menolak untuk di periksa oleh dokter.
"Surya, agak cepat sedikit biar istri saya bisa langsung istirahat," perintah Reza.
Andini mencoba memejamkan kedua matanya, rasa pusing dan mual yang dia rasakan sebisa mungkin di tahannya. Dia tidak mau Reza semakin khawatir akan kesehatannya, mengingat besok pria itu memiliki rapat penting di perusahaan miliknya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba di rumah Andini, Andini yang masih tertidur pulas membuat Reza tidak tega untuk membangunkannya. Reza mengangkat tubuh sang istri untuk di pindahkan ke dalam kamarnya, Surya membantu Reza untuk mengetuk pintu. "Andini kenapa Za?" tanya Maya yang terkejut saat membukakan pintu untuk anak dan menantunya itu. Tanpa menjawab pertanyaan sang mertua Reza bergegas menuju kamarnya terlebih dahulu untuk menaruh tubuh Andini, "Tidur yang nyenyak ya," ucap Reza sambil menaikkan selimut ke tubuh sang istri.
"Andini kenapa Za? Apa dia sakit?" tanya Maya, Reza mengajak ibu mertuanya untuk berbicara di luar kamar. Dia tidak ingin Andini merasa terganggu dengan kehadiran mereka, "Kita bicara di bawah saja Bu."
Reza menutup pintu kamarnya dengan rapat setelah memberikan sedikit ciuman di dahinya, Maya yang melihat perlakuan sang menantu terhadap anaknya merasa bahagia. "Tadi pas kita mau pulang Andini mengeluh pusing dan mual Bu, tapi saat aku ajak berobat dia tidak mau," Reza menjelaskan apa yang terjadi pada istrinya. Reza yang duduk di sofa menyandarkan kepalanya, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya. Maya hanya tersenyum saat mendengar penjelasan Reza, "Besok pagi kita cek ya," ucap Maya yang langsung pergi meninggalkan Reza seorang diri.
"Maaf Pak, ini mau ditaruh mana ya?" tanya Surya sambil membawa koper dan beberapa kantung makanan yang di belinya saat perjalanan pulang. Setelah menaruh semua barang milik bosnya, Surya pamit undur diri. "Besok jangan lupa jemput saya jam tujuh, sekarang kamu bawa saja mobil saya biar besok pagi kamu tidak terlambat," usul Reza. Dia tidak ingin jika rapat besok gagal hanya karena dirinya terlambat datang, Surya mengiyakan usul bosnya itu.
Reza pergi menuju dapur, dia ingin membuatkan Andini jus mangga kesukaannya. "Bu, boleh pinjam blendernya?" tanya Reza, Maya mengerutkan keningnya. "Untuk apa nak?" tanya Maya sambil melihat kantung plastik yang di bawa Reza. "Tadi pas pulang Andini minta di buatkan jus mangga ketika sudah sampai rumah, jadi mumpung Andini masih tidur saya mau buatkan jus mangganya terlebih dahulu," jelas Reza saat mengingat wajah Andini yang merengek minta di buatkan jus mangga kesukaannya.
Reza membawa segelas jus yang telah di buatnya dengan susah payah, "Coba deh, mudah-mudahan enak dan kamu suka," ucap Reza yang ikut duduk di sebelah Andini. Andini mengambil gelas yang di berikan Reza, dengan perlahan Andini mulai mencicipi jus buatan Reza.
Malam telah tiba Andini tidak dapat tidur dengan nyenyak, beberapa kali dia bangun hanya untuk memuntahkan kembali apa yang sudah di makannya. Maya yang mendengar suara Andini segera datang menghampiri sambil membawa alat tes kehamilan, Maya yakin jika sang anak sedang mengandung karena sejak siang tadi Andini tidak henti-hentinya mengeluh tentang bau yang mengganggu penciumannya, "Besok pagi kamu coba ini ya sayang, ini juga ibu buatkan teh hangat untuk mengurangi mual," ucap Maya. Andini segera mengambil teh dan juga benda yang di berikan sang ibu, tanpa mau mengganggu Reza yang terlelap Andini mencoba untuk memejamkan matanya kembali.
__ADS_1
Pagi ini Andini bangun terlambat karena semalam dia benar-benar tidak dapat tidur dengan nyenyak, "Bu Kak Reza sudah berangkat ya?" tanya Andini yang tiba-tiba berada di dapur. Sebenarnya dia ingin mencari keberadaan sang suami tetapi, setelah melihat meja makan yang sedikit berantakan dirinya yakin jika sang suami sudah berangkat menuju kantornya.
"Iya, Reza sudah berangkat tadi. Dia ingin membangunkan kamu tapi ibu bilang semalam kamu tidak bisa tidur jadi dia mengurungkan niatnya, oh iya alat tes yang ibu beri semalam sudah kamu coba?" tanya Maya. Andini menggelengkan kepalanya, "Belum bu," jawab Andini. Maya menyuruh Andini untuk menggunakan alat tes kehamilan yang di berikannya semalam, "Bu," teriak Andini yang membuat Maya terlonjak kaget. Dia segera menghampiri Andini yang berada di kamar mandi dekat dapur, "Ada apa sayang?" tanya Maya khawatir. Andini menyerahkan alat yang sang ibu berikan semalam, senyum bahagia terbit di wajah wanita paruh baya itu saat melihat dua garis yang tergambar di alat tes kehamilan sang anak. "Selamat ya sayang," ucap Maya sambil mencium wajah sang anak. Andini yang heran dengan tingkah sang ibu bertanya dalam hati, "Sekarang kamu mandi dan ganti baju setelah itu kita berangkat ke dokter," sambung Maya yang masih dengan senyum bahagianya.
Reza merasa bahagia ketika mendapat kabar dari ibu mertuanya, dia tidak sabar ingin segera pulang kerumah. "Nanti mampir ke toko buah dulu ya," ucap Reza ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang. Reza yang tidak sabar ingin bertemu dengan Andini langsung bergegas pulang setelah semua pekerjaannya selesai, "Sayang," panggil Reza setelah tiba di rumahnya. Andini yang sedang menonton televisi sepulang dari dokter terkejut dengan kepulangan sang suami yang pulang sebelum waktunya, "Kamu kok sudah pulang?" tanya Andini heran. Tanpa menjawab pertanyaan sang istri Reza menciumi seluruh wajah Andini dan mengucap banyak terima kasih, "Terima kasih sayang," ucapnya sambil memeluk Andini dengan erat. Andini membalas pelukan Reza saat dia mengerti dengan sikapnya yang berubah tiba-tiba.
"Maaf Pak, ini buahnya," ucap Surya. Reza menepuk keningnya pelan, "Ya ampun aku sampai lupa," kekeh Reza. Reza mengupas salah satu buah yang di belinya dan segera memberikannya kepada Andini, "Sehat terus ya sayang," Reza menciumi perut Andini yang masih rata. Rasa bahagia akhirnya tercipta dengan kabar kehamilan Andini, Reza mengucap syukur atas nikmat yang di berikan untuk keluarga kecilnya itu.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kehamilan Andini semakin membesar dan itu mulai membuat Andini merasa kesulitan dalam bergerak, hubungan Raditya dan juga Lucy banyak kemajuan. Raditya sudah bisa menaklukan hati Lucy hingga mereka memutuskan untuk menuju ke hubungan yang lebih serius, Andini yang sedang duduk sambil menonton televisi merasa tidak nyaman karena merasakan perutnya yang terasa sangat sakit. "Bu, sakit," teriak Andini. Maya yang sedang memasak segera mematikan kompornya lebih dulu dan segera berlari melihat keadaan sang anak, Andini sedang memegang perutnya yang semakin terasa sakit. "Kamu kenapa Din?" tanya Maya khawatir, "Sakit bu," ucap Andini sambil terus memegang perutnya. Maya yang mengerti langsung menelpon Reza untuk segera pulang mengantarkan sang istri, Reza sedikit terkejut saat mendengar Andini akan segera melahirkan. Pria itu langsung bergegas menuju rumahnya, tidak peduli masih banyak rapat yang sedang menunggunya. Tangis haru dan bahagia tercipta saat anak yang di kandung Andini telah lahir ke dunia, merasa sempurna dengan kehadiran bayi perempuan yang cantik. "Selamat datang di dunia ini cantik," ucap Reza setelah menjalankan kewajibannya sebagai muslim ketika seorang bayi lahir ke dunia. "Terima kasih sayang telah memberikan kado terindah buatku," ucap Reza sambil mencium kening Andini lama.
CINTA DATANG DENGAN TIBA-TIBA, TERKADANG KITA TIDAK PERNAH TAHU KAPAN CINTA ITU AKAN HADIR. BANYAK HAL YANG MEMBUAT KITA BAHAGIA TETAPI, BANYAK JUGA HAL YANG MEMBUAT KITA BERSEDIH.
KEEP SMILING EVEN THOUGH LIFE IS NOT ALWAYS SWEET
__ADS_1
Terima kasih telah berkunjung di cerita ku, mohon maaf jika endingnya terkesan memaksakan. Sampai jumpa di cerita ku yang lainnya.
SEE YOU AGAIN