MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 70 HARI PERTAMA SISKA


__ADS_3

"Terima kasih Kak," ucap Siska saat mobil yang ditumpangi berhenti tepat di depan sekolah barunya.


"Sama-sama, yakin kamu tidak mau di jemput? Lumayan loh jalannya nanti," tanya Raditya saat kepala sang adik terlihat di kaca jendela mobil sebelah Andini.


"Iya Kakakku sayang, nanti kalau mau aku telpon Kakak ya," pinta Siska.


"Ya sudahlah Kak, nanti kalau dia memang mau di jemput pasti kabarin kita, iyakan Sis?" tanya Andini sambil menatap wajah sang adik kecilnya itu.


"Betul sekali Kakak aku yang cantik," goda Siska. Gadis itu segera pamit untuk memasuki sekolah barunya, Raditya dan Andini melihatnya dari kejauhan setelah sang adik tak terlihat barulah mereka meninggalkan sekolah itu.


"Kita ke supermarket di situ saja Kak," perintah Andini sambil menunjuk salah satu mall yang berbeda tak jauh dari mereka. Raditya segera melajukan mobilnya ke arah mall tersebut, "Okeh, kita ke sana saja," jawab Raditya.


Raditya dan Andini segera menuju supermarket yang berada di dalam mall itu, "Kita belanja apa saja?" tanya Raditya. Andini mencoba mencari kertas yang sempat sang Ibu berikan tadi, "Ini Kak," ucapnya sambil memberikan secarik kertas yang berada di tangannya itu.


Raditya dan Andini mencari seluruh barang yang ada di dalam kertas, satu persatu barang yang mereka cari terkumpul. Andini mengajak Raditya untuk menuju kasir dan membayarnya, setelah selesai gadis itu mengajak sang kakak untuk mampir ke sebuah restoran yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


"Kak, makan dahulu ya," pinta Andini yang langsung berlalu meninggalkan Raditya seorang diri di depan kasir.


"Terima kasih Mba," ucapnya pada kasir yang berada di depannya. Kasir itu tersenyum saat mendapat ucapan yang menurutnya sangat enak di dengar, apalagi yang mengucapkannya adalah seorang pria tampan.


"Kak, lama banget sih ... Aku sudah lapar," ujar Andini yang kembali menghampiri sang kakak. "Siapa yang suruh jalan duluan, hmm?" tanya Raditya. Pria itu membalas dengan meninggalkan sang adik seorang diri dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya, "Kakak," teriak Andini. Raditya yang mendengar teriakan Andini seolah acuh dengan adiknya itu, "Siapa suruh tadi kerjain aku, memang enak," gumam Raditya sambil terkekeh membayangkan wajah kesal Andini.

__ADS_1


Andini yang kesal karena tidak mendapat respon dari sang kakak segera berjalan dengan menghentakkan kakinya, "Dasar Kakak rese," omel Andini. Andini mengikuti Raditya dari belakangnya, "Apa-apaan dia udah enak duduk di sini sedangkan adiknya yang cantik ini harus membawa semua belanjaan," rajuk Andini. Gadis itu menjatuhkan beberapa kantong belanjaan di sampingnya kakaknya itu, "Nanti Kakak yang bawa," rengek Andini.


Raditya memesan beberapa makanan dan minuman untuk dirinya dan juga sang adik, "Setelah ini langsung pulangkan?" tanya Raditya di sela-sela menunggu pesanannya tiba. "Iya Kakakku yang ganteng," puji Andini.


Tak lama makanan pesanan mereka tiba, Andini tidak menyia-nyiakan kesempatan di depannya itu. Dia langsung melahap tanpa melihat snag kakak yang sedang menertawakan dirinya itu, "Pelan-pelan Din," suruh Raditya.


Setelah selesai makan mereka berdua melanjutkan perjalan menuju rumah sang nenek, "Nih Bu pesanannya," ucap Andini saat mereka sudah tiba.


Raditya berjalan ke arah halaman belakang rumah neneknya itu, di sana terdapat kebun kecil yang berisi macam-macam pohon buah. Itulah yang membuat mereka betah jika berlama-lama tinggal di sana, "Kak," panggil Andini yang menyusul sang Kakak ke halaman belakang.


"Iya kenapa?" tanya Raditya yang masih fokus melihat pohon yang berada di sana.


"Aku mau buah itu," tunjuk Andini ke arah salah satu pohon yang berada di sana.


Raditya mencari bambu untuk mengambil buah mangga yang di inginkan sang adik, "Nih," ucap Raditya saat buah mangga yang di inginkan Andini sudah bisa dirinya dapatkan.


"Terima kasih Kak," ucapnya. Raditya membalas ucapan sang adik ,"Sama-sama," ujar Raditya yang kembali mengambil buah mangga yang sudah matang itu.


****


Siska terlihat bingung saat pertama kali memasuki sekolah barunya, "Kelasnya yang mana ya?" ucapnya pelan. Gadis itu akhirnya memilih untuk pergi ke ruang administrasi terlebih dahulu, "Permisi," ucap Siska saat berada di depan ruangan yang bertuliskan Bagian Administrasi itu.

__ADS_1


"Iya, ada yang bisa saya bantu," ucap wanita paruh baya yang berada di ruangan itu.


"Maaf Bu, saya murid baru di sini ... Mau bertanya ruangan kelas saya di mana ya?" tanya Siska kepada wanita yang berada di depannya.


"Siapa namamu nak?" tanyanya.


"Nama saya Siska Bu, Siska Cahaya Putri," jawab Siska.


"Saya Bu Lala, saya bagian administrasi di sekolah ini. Biar saya cek dahulu ya, kamu silakan duduk," perintah wanita itu yang bernama Lala. Siska menuruti perintahnya, "Kamu ada di kelas 7A, ruangan nanti kamu dari sini lurus lalu belok kanan dan di situ nanti ada kelas yang bertuliskan 7A," tutur Lala. Siska menganggukkan kepalanya dan segera meninggalkan ruangan itu, "Terima kasih Bu," ujar Siska. Lala mengamati gadis yang baru saja dirinya temui itu, "Sepertinya dia bukan dari daerah sini," ucap Lala.


Siska mengikuti arahan yang di berikan Lala tadi, "Ini dia," ucap Siska saat menemukan keberadaan kelas yang dari tadi di carinya. Siska agak sedikit ragu memasuki ruangan kelas itu, sampai dirinya terkejut saat seseorang menepuk pundaknya.


"Masuk saja tidak apa-apa kok, oh iya kamu anak baru ya?" ucap gadis yang umurnya tidaklah jauh dari Siska.


"Eh iya," ujar Siska yang sedikit terkejut dan malu karena teman barunya itu.


"Perkenalkan namaku Riri, nama kamu siapa?" tanya gadis yang ternyata bernama Riri itu.


"Siska," ucap Siska sambil memberikan tangan kanannya untuk di jabat oleh gadis di depannya.


"Yuk masuk," ajak Riri. Siska mengikuti gadis yang bernama Riri itu, "Kamu duduk sama aku ya," ucap Riri yang menyuruh Siska untuk duduk bersama dengannya. Siska mendudukkan dirinya di bangku kosong yang berada di sebelah Riri, "Tidak usah sungkan jika ada hal yang ingin kamu tanyakan," ujar Riri. Gadis itu juga memperkenalkan satu persatu murid yang ada di dalam kelas itu, Siska mendengarkan apa yang Riri ucapkan. Namun pada saat bersamaan masuk seorang pria ke dalam kelasnya, Siska sejenak memperhatikan pria itu. "Sepertinya itu pria yang tadi di depan deh," gumam Siska. Dirinya mengingat saat pertama kali masuk ke sekolah itu, dirinya tidak sengaja bertemu dengan pria yang baru saja dia lihat.

__ADS_1


Siska melihat pria itu sedang bertengkar dengan seorang gadis manis di ujung koridor sekolah barunya, tapi tak lama Siska melihat adegan yang seharusnya tidak mereka lakukan di sana.


Maaf ya guys ceritanya agak sedikit berantakan, tapi mau gimana Siska dari awal belum masuk ke dalam cerita. Oh iya jangan lupa mampir di cerita terbaru aku yang berjudul MIMPI TERINDAH , disana menceritakan tentang mimpi seorang gadis yang tak pernah putus. Jangan lupa like, komen, rate dan vote nya ya. TERIMA KASIH


__ADS_2