MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 52 DIKA DAN BELA


__ADS_3

Dika yang sedang merenung seorang diri dibangku taman, entah mengapa hatinya begitu rapuh saat mendengar wanita yang dia cintai meminta putus darinya. Dika berpikir salah apa yang dia lakukan hingga Mega memutuskan dirinya, Rasanya Dika tidak sanggup untuk melupakan masa lalunya bersama dengan Mega. Dika yang sedang melamun sambil melihat pemandangan didepan matanya terkejut saat seseorang menepuk pudaknya dari belakang, Dika segera mellihat siapa yang menepuknya.


"Bela," ucap Dika saat melihat siapa yang menepuknya.


"Kak Dika, maaf aku mengagetkan Kakak ya?" tanya Bela yang merasa tidak enak telah membuat pria itu terkejut.


"Tidak, aku tadi sedang melamun saja jadi agak terkejut sedikit," jujur Dika yang kembali menatap ke arah danau yang ada di depan matanya. Bela yang melihat Dika tidak seperti biasanya ingin bertanya, tetapi dia mengurungkan niatnya saat melihat ada sedikit air mata menetes di wajah tampannya. Bela ikut mendudukkan dirinya disebelah Dika, Bela mencoba memberi semangat untuk mantan Kakak kelasnya itu.


"Yang lalu biarlah berlalu, kita tidak bisa terus terpaku dengan masa lalu. Walaupun berat tetapi kita harus kuat dan jangan lemah dengan keadaan," nasihat Bela yang sebenarnya dia tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh Dika. Dika menatapnya sekilas dengan senyum manis dibibirnya, tak lama dia kembali menatap lurus kedepan.


"Kamu benar Bela, aku tidak boleh lemah untuk saat ini walau rasa sakit dan penasaran menghantuiku aku yakin suatu saat akan ada hal yang terindah terjadi kita hanya perlu bersabar akan datangnya waktu itu," tutur Dika yang mulai perlahan membuka hatinya untuk melupakan yang terjadi padanya. "Terima kasih sudah mengingatkan aku akan hal itu," sambung Dika tulus yang merasa perasaannya jauh lebih baik sekarang.


Mereka mulai bercerita satu sama lain mulai dari sedih sampai tertawa bersama, Dika yang awalnya merasa tidak nyaman dengan perasaannya perlahan sirna akibat candaan yang Bela berikan. Hari beranjak sore Bela pamit kepada Dika untuk pulang kerumahnya, Dika menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.


"Kita makan disitu dahulu yuk," ucap Dika saat perjalanan pulang dia melihat stand penjual mie ayam.


"Boleh Kak, aku juga belum makan dari siang," ucap Bela yang langsung mendapatkan tawa dari Dika.


"Iya kita sampe lupa makan karena keasikan di taman tadi," kekeh Dika mengingat betapa serunya obrolan mereka.

__ADS_1


Bela dan Dika memasuki stand penjual mie ayam itu dan Dika memesan dua mangkuk mie ayam beserta minumnya, sambil menunggu makannya mereka tiba Bela memainkan ponselnya yang penuh dengan chat teman-temannya itu. Dika yang melihat Bela memegang ponselnya memiliki inisiatif untuk meminta nomornya, saat Dika akan meminta nomor ponsel Bela makanan pesanan mereka tiba. Dika mengurungkan niatnya, dia akan memintanya nanti setelah selesai memakan makananya.


"Bela aku boleh minta nomor ponselmu?" tanya Dika saat selesai memakan makanannya.


Bela menyebutkan nomor ponselnya, Dika dengan segera menyimpannya dibuku telepon yang berada di ponselnya. Dika segera mengantarkan Bela pulang kerumahnya, dan dia bergegas pulang karena masih ada pekerjaan kampusnya yang belum selesai dia kerjakan.


"Terima kasih ya Kak sudah mengantarkan aku pulang," ucap Bela.


"Sama-sama, seharusnya aku yang berterima kasih karena sudah menemaniku dan menghiburku hari ini. Lain kali mau kan kamu menemaniku lagi Bel?" tanya Dika, Bela menganggukan kepalanya tanda dia juga setuju. Entah apa yang sedang Bela rasakan saat ini, setelah kepergian Dika dia tersenyum saat meningat kejadian tadi.


"Apa aku suka dengan Kak Dika ya?" tanyanya dalam hati.


"Tumben kamu baru sampai," ucap Yani ketika Bela baru tiba di dalam kelas. Semalam Dika memberi pesan kepada Bela bahwa dia akan mengantarkannya kesekolah, tetapi sampai hampir jam tujuh pria itu tak kunjung tiba.


"Tahu ah... Aku lagi bete," ketus Bela yang merasa kesal dengan sikap Dika yang tidak menepati janji.


Di tempat lain, Dika yang baru saja bangun tidak menyadari akan janjinya kepada Bela. Pria itu melakukan aktivitasnya seperti biasa namun pada saat dia sedang mencari letak ponselnya barulah dia menyadari sesuatu, "astaga... Aku lupa jemput Bela untuk mengantarkan dia kesekolah," ujar Dika sambil menepuk dahinya. Dika melihat jam dinding yang ada dikamarnya, "siap-siap kena marah nih," ucapnya. Dika melihat jam dinding yang ada dikamarnya sudah menunjukkan pukul delapan pagi, dan itu berarti gadis itu sudah berada di sekolahnya jika dia tidak menunggunya.


"Nanti pulang sekolah aku jemput saja deh," putusnya. Dika bergegas merapikan dirinya dan pergi menuju kampus, walau pikirannya saat ini masih dipenuhi dengan Bela. Pria itu berharap semoga gadisnya tidak marah kepadanya hanya karena dia melupakan janjinya untuk mengantarnya kesekolah, sesampainya dikampus Dika langsung bergegas mencari sahabatnya Fahmi. Dia ingin menanyakan bagaimana cara membujuk wanita yang sedang marah, karena diantara mereka hanya Fahmi lah yang memiliki kekasih sejak lama.

__ADS_1


"Woy Bro," teriak Dika saat menemukan keberadaan sahabatnya. Fahmi yang sudah mengetahui itu suara Dika diam saja ketika pria itu berteriak tadi, Dika yang geram segera menepuk kepala Fahmi pelan.


"Biasa aja kali tidak usah tepuk kepala," omel Fahmi sambil mengusap kepalanya yang ditepuk Dika.


"Maaf deh, habis kamu aku panggil bukannya menengok malah diam saja," ketus Dika yang tidak mau di salahkan oleh Fahmi. Fahmi yang mendengar sahabatnya itu merajuk, tertawa dengan kerasnya hingga seluruh pengunjung dikantin menatap kearahnya.


"Itu suara tidak bisa di pelankan apa? Tidak tahu kita dimana, lihat tuh pada memandang kesini semua," tunjuk Dika. Fahmi yang baru menyadari kelakuannya segera menutup mulutnya itu, dia kembali menyantap makanan yang sudah dia pesan dari tadi.


"Lagian kamu Dik, datang-datang mengganggu aktivitas sarapanku saja," ucap Fahmi yang terus fokus menyantap sarapannya itu.


"Bantuin aku dong, aku bingung nih harus bagimana," ujar Dika sambil mengambil sendok dari tangan Fahmi dan ikut menyantap makanan milik sahabatnya itu.


"Makanan aku tuh, main suap saja," tukas Fahmi sambil merebut sendoknya dari tangan sahabatnya yang menyebalkan itu.


"Ayolah bantuin aku, kamu kan lebih pengalaman secara pacaran dengan Sisil saja bisa bertahan lama sedangkan aku..." terang Dika yang merasa tidak seberuntung pria didepannya itu.


"Kata siapa? Aku dan Sisil sudah putus seminggu yang lalu," jujur Fahmi yang tidak menutupi bahwa hubungannya dengan Sisil sudah berakhir.


Dika yang mendengar pengakuan sahabatnya itu terdiam seketika, dia mencerna apa yang barusan dibilang oleh sahabatnya itu hanyalah salah. Karena Dika mengetahui bagaimana perasaan Fahmi terhadap Sisil begitu pula sebaliknya, dia tidak menyangka jika sahabatnya itu sedang merasa sedih sama dengan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2