MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
EXTRA CHAPTER 4 DATANG BERKUNJUNG


__ADS_3

Hallo semua, selamat datang di cerita pertama ku. Kalau ada yang bingung kok ini cerita kenapa ada ngidamnya ya, bukan nya udah lahir. Fix kmrn memang udah di tamatin untuk cerita ini, tapi kok pengen ya bikin beberapa extra chapter pas Andini hamil dan akhirnya, jadi deh extra chapter pas Andini hamil. Jadi di extra chapter ini berisi tentang Andini waktu hamil ya guys jadi stay terus buat baca kisah selanjutnya. Soal kisah kak Radit, Rian maupun sahabatnya liat nanti ya😅😅😅😅😅


☆☆☆☆☆


Andini pagi-pagi sekali sudah bangun dari tidurnya, dia merasa bersemangat karena semalem mendapatkan pesan jika para sahabatnya akan datang berkunjung. Reza yang melihat semangat Andini tersenyum, selama beberapa hari ini Andini terlihat sedikit murung sebab dia hanya berdiam diri di rumah tanpa mengerjakan sesuatu.


Maya bukan tidak memperbolehkan sang anak mengerjakan sesuatu tetapi, dia juga tidak ingin kejadian beberapa hari yang lalu terulang kembali. Andini yang kala itu membantu sang Mamah membuatkan sarapan merasakan perutnya sedikit keram, karena tidak ingin mengambil resiko lebih jauh lagi Maya segera menyuruh Andini untuk beristirahat.


Dan sejak saat itu pula Andini di larang untuk melakukan aktivitas yang berlebihan, awalnya dia menolak dan memberi alasan tidak akan terjadi apa-apa namun Maya tetap melarangnya.


"Sudah ada bibi yang bantu, jadi kamu istirahat saja," ucap Maya.


Andini hanya bisa pasrah saat mendengar ucapan sang Mamah, karena membantah pun percuma.


"Pagi Mah, pagi Pah dan pagi juga Kak Radit," sapa Andini saat masuk ke dalam ruang makan. Semenjak pulang dari rumah sakit waktu itu Andini memutuskan untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya namun sesekali mereka akan menginap di rumah Reza, saat Andini dan Reza berada di sana ruang makan yang semula sepi mendadak menjadi ramai.


"Siska mana Mah?" tanya Andini saat menyadari tidak ada keberadaan sang adik di sana.


"Tadi pagi-pagi sudah berangkat katanya sih ada pemahaman materi di kampusnya, maklum anak baru," bukan Maya yang menjawab melainkan Raditya.


"Tumben anak Mamah sudah rapih," ujar Maya saat melihat wajah dan pakaian Andini tidak seperti biasanya.


"Gimana tidak rapih, semalam biasa geng nya memberi kabar ingin main kesini." Reza ikut bersuara karena memang benar apa yang di katakan oleh mertuanya.


"Pantas sudah bangun dan rapih pula, biasanya jam segini masih asik di kasur," ledek Raditya. Andini mencebikkan bibirnya, Maya hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua anaknya yang terus bertengkar.


"Sudah-sudah, sarapan dahulu nanti kamu terlambat ke kantor," ujar Wisnu sambil mengambil sarapan yang di berikan sang istri.


"Kak Radit duluan tuh Pah," adu Andini. Wanita yang sedang hamil itu menjulurkan lidahnya, Reza awalnya bingung dengan kedua kakak berada itu namun lambat laun dia mulai paham dengan sikap sang istri juga kakak iparnya.


"Oh iya Pah nanti yang pergi rapat dengan perusahaan Pak Doni siapa?" tanya Raditya di sela-sela memakan sarapannya.

__ADS_1


"Urusan Pak Doni biar Papah yang tangani, kamu urus perusahaan Mika group. Mereka agak sedikit rewel," Wisnu langsung menghabiskan sarapan miliknya setelah Raditya menyetujui ide yang di berikannya.


"Mah, Papah berangkat kerja dahulu ya," pamit Wisnu yang sudah menghabiskan sarapan serta kopi miliknya.


Raditya langsung bergegas bangun dari duduknya, dia menyusul sang Papah yang sudah menunggunya di teras. "Yakin Papah mau tangani langsung perusahaan Pak Doni?" tanya Raditya. Dia sedikit takut jika sang papah tidak dapat mengambil hati Doni, sebab Raditya sangat kenal dengan sifat Doni.


"Iya Papah yakin, doakan saja semoga kali ini dia tidak berulah," jawab Wisnu sambil berjalan ke arah mobilnya berada.


Awalnya mereka akan berangkat bersama, namun karena berbeda tujuan Wisnu mengendarai mobilnya sendiri.


"Papah berangkat ya Mah," ucap Wisnu saat Maya datang menghampiri membawakan tas kerja miliknya.


"Hati-hati ya Pah," ucap Maya yang mengantarkan sang suami sampai mobilnya tidak terlihat lagi.


"Aku juga berangkat ya Mah," pamit Raditya dan langsung bergegas menuju kantor.


Maya kembali melangkahkan kakinya ke arah dapur berada, dia mulai merapikan meja yang berantakan setelah sarapan tadi. Wanita paruh baya sedang sibuk dengan pekerjaan seketika menengok saat Andini memanggil dirinya, dia melepaskan pekerjaannya dan datang menghampiri sang anak terlebih dahulu.


"Iya Mah, aku mau ke toko roti saja cari kesibukan di sana boleh?" tanya Andini hati-hati sebab sang Mamah belum tentu mengizinkannya.


"Mau ngapain ke sana? Kan sudah ada Siska yang bantu-bantu," jawab Maya. Bukan tidak mengizinkannya pergi, namun memang toko roti itu sekarang di pegang oleh Siska.


"Mereka mau ketemu di sana Mah," ucap Reza yang baru turun setelah mengganti kemeja.


" Loh kamu belum berangkat ke kantor Za?" tanya Maya heran. Dia berfikir menantunya juga sudah pergi saat dirinya di dapur tadi.


"Ini baru mau berangkat Mah,sekalian antar Andini ke toko roti," jawab Reza sambil memakai sepatunya.


"Ya sudah hati-hati ya, jangan terlalu capek di sana nanti," pesan Maya sebelum anak dan menantunya pamit.


Andini menganggukkan kepalanya, dia juga berjanji tidak akan mengerjakan pekerjaan berat disana. Mobil yang dikendarai Reza tiba di parkiran toko, pria itu segera turun dan membukakan pintu untuk sang istri.

__ADS_1


"Terima kasih Kak," ucap Andini.


Reza terus memperhatikan wajah sang istri hingga menimbulkan pertanyaan di kepalanya, "Ada apa sih kok lihatin aku seperti itu?" tanya Andini yang tidak mau pikirannya terus menjelajah.


Reza tertawa saat mendengar pertanyaan wanita yang sudah bersedia menjadi pendamping hidupnya, dia masih tidak menyangka bisa mendapatkan hati Andini kembali bahkan ada buah cintanya di dalam tubuh wanita itu.


"Ish Kak Reza kenapa sih lihat aku seperti itu, sudah ah sana pergi ke kantor nanti telat." Andini memerintahkan sang suami untuk segera pergi.


"Kamu ngusir aku? Kok tega sih," rajuk Reza setelah beberapa waktu hanya menatap wajah istri tercinta.


"Habis aku tanya kamu diam saja," jawab Andini saat pertanyaan darinya tidak di jawab sang suami.


"Iya maaf, aku dari tadi perhatikan wajah cantik istriku ini. Memang salah?" pertanyaan Reza membuat Andini tersipu malu. Wajahnya merah seketika dan itu membuat Reza semakin gemas, jika tidak Andini yang mendorong suaminya untuk kembali masuk ke dalam mobil mungkin akan ada sesuatu terjadi disana.


Setelah kepergian Reza yang penuh drama, Andini melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toko roti sang Mamah. Di dorong pintu kaca itu hingga lonceng yang berada di atasnya berbunyi, Siska langsung menyambutnya dengan senyuman.


"Loh Kakak kesini? Sama siapa?" tanya Siska beruntun membuat Andini menggelengkan kepalanya.


"Iya aku bosen di rumah terus Sis, lagi pula nanti Bela, Yani dan Meli mau datang ke sini," jawab Andini. Siska mengerti akan perasaan sang Kakak namun dia juga tidak bisa berbuat banyak, karena dia juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan kakaknya.


"Kakak sama siapa ke sini? Tidak naik angkutan umum kan?" tanya Siska lagi setelah pertanyaannya tadi tidak di jawab Andini.


"Tadi di antar Kak Reza kok cuma langsung berangkat ke kantor sudah siang soalnya," kekeh Andini.


Siska mengajak Andini untuk duduk di bangku yang berada di pojok, itu tempat kesukaan Andini saat berada di sana dan beruntung tidak ada yang menempati saat ini.


"Tunggu di sini aku ambil makanan dan minuman dahulu," pesan Siska sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan kakaknya.


Andini menatap luar jendela dimana ingatannya kembali saat beberapa tahun lalu, ketika dirinya yang mengelola toko roti itu. Pertemuan pertama dengan Reza setelah pria itu meninggalkan dirinya, namun lamunan itu buyar ketika para sahabatnya telah tiba disana.


TERKADANG CINTA ITU BUTA, TIDAK DAPAT MELIHAT KENYATAAN YANG ADA.

__ADS_1


TERKADANG CINTA JUGA SULIT, TIDAK DAPAT LANGSUNG DI MENGERTI. NAMUN AKANKAH CINTA ITU SELALU ADA? ADA DI SAAT BUTUH DAN ADA DI SAAT MAU.


__ADS_2