
Andini dan Meli pergi ke Mall terlebih dahulu setelah keluar kantor, gadis itu ingin membeli sesuatu untuk keperluannya di rumah. Tanpa sengaja pandangan Andini melihat ke arah salah satu restoran yang terdapat di dalam Mall itu, "Itu bukannya Andrew ya?" tanyanya pada Meli.
Meli melihat arah yang di tunjuk oleh Andini, di sana terlihat Andrew dan juga Clara yang sedang menikmati makanan di depannya. "Mau kita datangi atau bagaimana?" tanya Meli yang begitu penasaran akan hubungan antara Andrew dan Clara.
"Kita lihat dahulu dari sini, mungkin mereka sedang menunggu seseorang," ucap Andini yang melihat ke arah Andrew dan juga Clara.
Tak berselang lama Reza datang menghampiri mereka berdua, Andini melihat dari kejauhan Reza dan Clara terlihat sangat begitu dekat.
"Apa betul hubungan mereka?" tanya Andini dalam hati, gadis itu merasa sesak saat melihat kedekatan Reza dan juga Clara.
Reza yang awalnya hanya bercanda dengan Andrew dan Clara tanpa sengaja melihat Andini sedang memandangnya, "Andini," ucapnya yang tidak percaya jika gadis itu berada di sana.
"Drew, Andini ada di sini lalu kita harus apa?" tanya Reza panik, "Jangan mencarinya nanti dia bisa tahu bahwa kita melihatnya," sambung Reza saat melihat Andrew ingin melihat yang di bilang oleh sahabatnya itu.
"Aku tidak mau ikut campur, urus saja masalahmu sendiri."
Mendengar pernyataan Andrew, Reza mendengus pelan. "Iya ini salah aku, lalu aku harus bagaimana?" tanya pria itu yang terlihat mulai frustasi dibuatnya.
"Kamu jujur saja tentang semuanya, aku yakin Andini akan memaafkanmu," ujar Clara yang mengeluarkan pendapatnya. Gadis itu hanya diam saat melihat perdebatan antara kedua lelaki tampan di depannya itu kembali terjadi.
"Kalian yang berbicara enak, sedangkan aku?" tanya Reza sambil mengacak rambutnya kasar.
Dari kejauhan Andini melihat wajah frustasi dari Reza, "Apa ada masalah yang rumit sampai dia seperti itu?" tanya Andini kepada Meli yang juga ikut memperhatikan Reza dari kejauhan.
"Sudah yuk Din, kita lanjutkan saja belanjanya nanti tokonya keburu tutup," ajak Meli sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Ya sudah yuk," Andini menarik tangan Meli untuk menjauh dari tempat itu.
Mereka memasuki satu persatu toko yang ada di sana, gadis itu membeli beberapa keperluan yang memang dia butuhkan.
"Aku ke toilet sebentar ya Mel," pamit Andini. Meli menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan sahabatnya itu, "Jangan lama-lama," ucap Meli. Andini bergegas meninggalkan Meli yang masih sibuk memilih di toko itu, dan di saat bersamaan Reza juga pergi menuju toilet yang ada di sebelah toilet yang Andini masuki.
"Sebenarnya perasaan aku itu seperti apa sih?" tanyanya di depan cermin yang ada di toilet Mall. Gadis itu merapikan baju serta wajahnya agar lebih terlihat fresh saat pulang nanti, dia tidak ingin keluarganya mengetahui apa yang sedang dirasakannya sekarang.
Andini yang keluar dari toilet tidak sengaja bertemu dengan Reza yang juga baru keluar dari toilet pria di sebelahnya, gadis itu ingin mengikuti Reza yang tidak tahu keberadaannya sekarang. Tak lama ponsel milik Andini berdering, satu panggilan masuk dari Meli yang tertera di sana.
Andini yang panik karena ponselnya berdering seketika langsung membalikkan badannya, karena jarak antara dirinya dan Reza tidaklah jauh. Andini segera mengangkat panggilan itu, "Hallo, iya ada apa?" tanyanya saat terdengar suara sapaan dari seberang sana.
"Kamu lama banget sih, ayo pulang sudah hampir malam besok kan masih harus bekerja," ucap Meli yang terdengar merajuk karena menunggu Andini tak kunjung kembali.
Andini segera mematikan ponselnya dan berjalan menuju dimana sahabatnya itu menunggu. Reza yang mendengar suara ponsel berdering menghentikan langkahnya, dia mengenali suara ponsel itu, saat dirinya membalikkan badannya terlihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Andini sedang memunggunginya.
Mereka melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda tadi, "Bagaimana dengan kerjasama ini?" tanya Reza di saat dirinya kembali duduk di hadapan Andrew dan juga Clara.
"Aku setuju dengan penawaran yang di ajukan oleh perusahaanmu, nanti akan aku kirim berkas yang harus di tanda tangani oleh kamu," ujar Andrew yang menyetujui penawaran yang Reza berikan untuk kerjasama antara perusahaan dirinya dan juga perusahaan sahabatnya itu.
"Sudah selesai pembicaraan kalian?" tanya Clara yang sebenarnya sudah bosan jika menemani sang kekasih untuk membicarakan tentang kerjasama antar dua perusahaan.
"Sudah sayang, memangnya ada apa?" Andrew bertanya dengan sangat lembut karena melihat wajah Clara yang sudah bosan, pria itu mengerti akan perubahan wajah dan sifat dari kekasihnya itu.
"Aku sudah lapar, tidakkah kita memulai makannya? Dari tadi makanannya hanya dilihat saja," rengek Clara. Andrew mengacak rambut sang kekasih yang terlihat sangat menggemaskan di matanya itu.
__ADS_1
"Tidak usah pamer kemesraan di depan ku, selalu saja aku yang tersiksa di sini," ujar Reza yang pura-pura merajuk karena kemesraan sahabatnya itu.
"Sudah kita mulai makannya, habis itu kita belanja," bujuk Andrew. Clara yang mendengar kata belanja seketika berubah suasana hatinya, dia memakan dengan lahap apa yang ada di atas meja itu.
"Andrew, kamu tahu tadi ada Andini di sini," ucapan Reza membuat Andrew terkejut hingga menyebabkan pria itu tersedak. Clara langsung memberikan Andrew segelas air putih yang ada di depannya.
"Pelan-pelan saja makannya, kan yang lapar aku kenapa kamu yang jadi tersedak?" tanya Clara.
"Aku kaget dengan ucapan Reza barusan sayang, bagaimana kalau Andini sampai tahu semuanya?" tanya Andrew yang terlihat sedikit panik jika menyangkut Andini. Andrew sangat mengetahui bagaimana sifat Andini, gadis itu paling membenci jika ada orang yang membohonginya. Pria itu tidak ingin Andini kembali membencinya kembali setelah apa berbaikan dengannya sangatlah sulit, Andrew meletakkan sendok yang sedang dia gunakan ke atas piringnya.
"Tadi aku sudah melihat dia meninggalkan tempat ini, maka dari itu aku lama pergi ke toilet tadi," tutur Reza yang mengikuti Andini sampai gadis itu benar-benar meninggalkan tempat mereka berada.
"Lebih baik kamu jelaskan semuanya Za, aku tidak mau nanti kena imbas dari masalah kalian," tegas Andrew yang sudah lelah mengikuti permainan sahabatnya itu.
"Iya nanti aku akan menjelaskan semuanya, tapi tidak sekarang," rengek Reza. Andrew hanya bisa menghela nafasnya, "Sampai kapan Za? Kamu tahu bulan depan kita akan menikah," ucap Andrew sambil menatap wajah sang kekasih.
"Iya aku tahu, beri aku waktu sebentar lagi," pinta Reza.
"Terserah kamulah Za, yang pasti pada saat pernikahan aku nanti tidak terjadi masalah," pasrah Andrew yang benar-benar tidak bisa menolak permintaan dari sahabatnya terbaiknya itu.
Reza dan Andrew menjadi sahabat ketika mereka sama-sama menuntut ilmu di universitas yang berada di London, terlebih lagi Reza pernah menolong Andrew saat dirinya mengalami musibah saat di sana. Andrew merasa perlu membalas budi semua kebaikan yang Reza berikan, sehingga dia tidak pernah tega menolak permintaan dari pria itu selagi masih baik dan tidak merepotkan dirinya.
Maafkan baru sempat update, terima kasih telah berkenan meluangkan waktunya untuk membaca ceritaku
Jangan lupa like, vote dan komennya ya
__ADS_1
Salam hangat dari aku😊😊😊😊