
Andini yang baru selesai mengurus data-datanya segera bergegas menuju kantin, dia sudah merasakan lapar karena belum sempat sarapan tadi pagi. Sesampainya di kantin Andini mengedarkan pandangannya mencari keberadaan para sahabatnya, tak lama mata Andini menangkap keberadaan mereka semua. Andini segera menghampiri mereka dan langsung mendudukan dirinya di bangku yang kosong di sebelah Rian, Rian yang melihat ada seseorang duduk disebelahnya langsung melihatnya. Sebuah senyuman terbesit dibibir Rian saat melihat siapa yang duduk disebelahnya, Andini tidak menyadari keberadaan Rian dan Raditya.
"Eh, ada Kak Radit," ucap Andini yang tidak sengaja matanya bertemu dengan sosok Kakaknya itu.
"Kebiasaan kamu De, kalau sudah lapar tidak lihat kiri kanan dahulu. Apa lagi kalau lihat makanan saja langsung deh," ledek Raditya yang tahu akan kebiasaan adiknya itu.
Andini yang tidak memperdulikan ucapan Kakaknya itu dengan santai memakan makanan yang sudah dipesankan untuknya, saat tengah asik menyantap makanannya Andini terkejut melihat seseorang yang berada disebelahnya.
"Eh, ada Kak Rian juga disini? Maaf ya tidak lihat habis aku lapar banget," kekeh Andini sambil menyantap makanannya. Rian tertawa saat mendengar ucapan Andini, Andini yang mendengar tertawa Rian ikut tersenyum, dia baru kali ini mendengar suara tertawa dari teman Kakaknya itu.
"Gimana sudah beres semua?" tanya Raditya disela-sela menyantap makanannya.
"Udah nanti tinggal masuk saja bulan depan," ucap Andini sambil meminum minuman punyanya.
Mereka semua melanjutkan memakanannya, setelah selesai Andini pamit kepada teman-temannya. Dia akan pulang bersama dengan Kakaknya, selama di perjalanan Raditya mencoba menanyakan perasaan Andini saat ini. Dia tidak ingin adiknya itu berlarut-larut dengan perasaan sakit hatinya, Raditya yang mengerti perasaan adiknya itu hanya bisa bernafas lega akan jawaban dari Andini. Raditya pun tahu alasan Reza harus mengakhiri hubungannya dengan sang adik, menurutnya memang itu jalan yang terbaik saat ini.
"De kamu baik-baik saja kan?" tanya Raditya saat mobil yang mereka naiki mulai meninggalkan parkiran kampus itu.
__ADS_1
"Baik kok Kak, kenapa?" timpal Andini.
"Ya syukurlah kalau kamu lebih baik, Kakak cuma tidak mau adik kesayanganku ini sampai berlarut dalam sakit hati," ledek Raditya. Andini yang mendengarnya hanya mengumpat dalam hati, karena Andini tahu tidak baik juga dia harus merasakan sakit hati toh memang itu keputusan yang terbaik untuk sekarang ini.
Sesampainya dirumah Andini bergegas masuk kedalam kamarnya, dia segera membersihkan dirinya. Andini yang merasa lelah tidak sadar jika dirinya langsung terlelap tidur, di seberang sana ada seseorang yang sedang memikirkan dirinya. Ya Reza memikirkan bagaimana keadaan Andini sekarang, dia merasa bodoh telah menyia-yiakan Andini. Reza tidak menceritakan masalahnya yang terjadi dengan Andrew, walaupun mereka sudah lumayan dekat bukan berarti Andrew tidak akan mencoba mengambil Andini kembali. Reza yang mencoba menghubungi Andini mengurungkan niatnya saat panggilannya tidak mendapatkan jawaban dari seberang sana.
"Kemana dia? Apa dia masih marah sama aku?" banyak pertanyaan di benak Reza, rasa bersalah yang Reza rasakan saat ini sungguh sangat menyiksa dirinya. "Andai waktu bisa aku putar kembali, aku tidak akan mengatakan itu kepadamu Din," sesal Reza yang menyesali perkataannya waktu itu.
Andini yang merasa terganggu akibat poneslnya berdering segera meraba meja disamping kasurnya, setelah mendapatkan ponselnya dia langsung menekan tombol hijau disana tanpa memeperdulikan siapa yang meneleponnya saat ini.
"Hallo,?" tanya Andini dengan suara khas bangun tidurnya.
"Sudah bangun kok, ini siapa ya?" tanya Andini.
"Ini aku Rian," jawab Rian yang terkekeh. Pasti Andini belum mensave nomornya tadi.
"Oh Kak Rian, ada apa Kak? Maaf baru bangun aku," kekeh Andini yang baru menyadari si penelpon
__ADS_1
"Cuma test nomor kamu saja, betul atau tidak," ledek Rian dari seberang sana, tak terasa Andini dan juga Rian berbincang-bincang. Andini mengakhiri panggilannya karena hari sudah sore dan dia ingin memebersihkan dirinya, sebelum panggilannya berakhir Rian menawarkan diri untuk mengantarkan Andini kesekolahnya besok. Andini yang merasa tidak enak jika menolaknya akhirnya mengiyakan ajakan pria itu, karena menurut Andini hanya diantar kesekolah tidak apa.
Rian pagi ini sudah tiba dirumah Andini, dia mendapatkan banyak pertanyaan dari Raditya saat membukakan pintu untuknya. Raditya menanyakan maksud kedatangannya, Rian menceritakan tentang perasaannya terhadap Andini. Raditya yang mendengarkan curhatan sahabatnya itu hanya bisa memberi semangat, karena Raditya tahu hati Andini masih ada nama Reza didalamnya.
"Kamu harus sabar menghadapi adikku ya, dihatinya juga masih tersimpan nama pria itu. Aku sebagai Kakak hanya berharap yang terbaik untuk adikku, siapa pun pilihannya kami semua mencoba menerima," terang Raditya yang tidak pernah melarang siapa pun untuk dekat dengan adiknya selagi Andini merasa nyaman dia akan mendukungnya.
"Aku janji sama kamu Dit, berusaha menjaga Andini walaupun bukan aku yang dia pilih nantinya," ucap Rian yang berharap Andini akan memilihnya kelak. Dia akanĀ berusaha untuk bisa mendapatkan hati Andini walaupun tidaklah mudah, tak lama Andini yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya segera menuruni tangga rumahnya.
"Eh Kak Rian sudah sampai, dari tadi ya Kak?" sapa Andini saat melihat Rian juga berada dimeja makan rumahnya.
"Belum lama, aku juga ada perlu dengan Radit tadi," tutur Rian yang tidak sepenuhnya berbohong.
Andini segera mengambil selembar roti yang berada diatas meja dan mengolesnya dengan selai coklat kesukaannya, Rian yang ikut bergabung sarapan bersama dengan keluarga Andini merasa terharu akan kedekatan keluarga mereka. Rian bisa merasakan kehangatan keluarga yang tak pernah bisa dia rasakan, sebab Rian adalah anak broken home dan dia sendiri tinggal bersama sang Nenek. Rian meminta izin kepada kedua orang tua Andini untuk mengantarkan putri mereka, Andini yang juga pamit kepada orang tuanya menjadi tertawa akan kelakuan teman Kakaknya itu.
Untuk mencairkan suasana selama diperjalanan, Andini banyak menanyakan kesibukan Rian. Rian bekerja paruh waktu disalah satu perusahaan milik temannya, dia akan bekerja pada saat pulang kuliah atau sedang tidak ada mata kuliah. Andini merasa nyaman saat bersama dengan Rian, entah perasaan nyaman apa yang dia rasakan.
"Apa aku bisa melupakanmu Kak?" tanya Andini dalam hatinya, karena sampai saat ini dia masih belum bisa melupakan Reza sepenuhnya. Andini yang tidak ingin ada yang tahu perasaannya saat ini, dia mencoba sekuat tenaga untuk menutupinya.
__ADS_1
Ditempat terpisah Reza selalu memikirkan Andini, dia merasa bersalah karena telah memutuskannya. Awalnya dia berharap dapat menjalaninya dengan mudah tapi sekarang dia malah merasa tersiksa, kampus tempat Reza menuntut ilmu meliburkan seluruh mahasiswanya selama 1 bulan. Kesempatan itu dipergunakan Reza untuk pulang ke Indonesia, dia akan menceritakan semuanya kepada Andini. Dia tidak mau kesalah pahaman ini menyikasanya terlalu lama, Reza menghubungi kedua sahabatnya. Dia bercerita tentang masalahnya dengan Andini dan dia ingin meluruskan apa yang sebenarnya terjadi, Dika dan Fahmi akan mendukung Reza apapun yang terjadi. Reza juga meminta tolong untuk merahasiakan kepulangannya oleh siapa pun, dan dia minta di jemput dibandara besok.