
Keesokan paginya Ranum bangun agak sedikit kesiangan karena ia tadi malam begadang gara-gara menunggu Al pulang. Akan tetapi laki-laki yang ditunggu sampai jam 1 dini hari tak kunjung pulang juga.
"Aku lagi-lagi bangun kesiangan," kata Ranum serak khas orang yang baru bangun sambil menguap beberapa kali. "Apa Tuan Al sudah pulang, ya?" Ia lalu bertanya pada dirinya. Sehingga pada detik berikutnya ia malah mendengar suara orang bercanda gurau di ruang tamu mengusik indra pendengarannya, dan tidak lama ia juga baru sadar kalau di kamar itu sudah tidak menemukan Agna di dalam inkubator. "Agna mana?" Wanita itu terlihat segera turun dengan sangat hati-hati dan segera menuju ruang tamu. "Semoga Agna ada di sana bersama Tuan Al," ucanya yang sudah memegang gagang pintu. Tapi Sonia, gadis itu malah membuka pintu kamar Ranum terlebih dahulu.
"Agna mau ne nen, makanya aku segera kembali membawanya masuk," kata Sonia dan dengan gerakan cepat menutup pintu itu kembali. "Kasih Agna ne nen dulu ya setelah itu baru kamu masukkan lagi ke dalam inkubator." Sonia saat ini terlihat sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Di luar ada apa kenapa terdengar sangat ribut sekali?"
"Tidak ada apa-apa, itu Tuan Al dan Bagas sedang bercanda gurau biasalah. Laki-laki selalu seperti itu, apalagi di saat mereka membahas masalah pekerjaan," jawab Sonia berbohong.
Ranum mengambil Agna dan sedikit menggeser posisi Sonia yang berdiri demi melihat apa sebenarnya yang terjadi di ruang tamu itu. "Aku ingin melihatnya Sonia, apa yang sedang mereka bicarakan sampai terdengar sangat heboh masih pagi seperti ini," sambung Ranum yang benar-benar merasa penasaran.
"Kasih ne nen Agna dulu, nanti saja kamu keluar." Sonia ingin menuntun Ranum untuk duduk di atas ranjang. Tapi mama muda itu malah menggelang kuat. Dan tanpa bisa dicegah oleh Sonia, Ranum dengan mudahnya membuka pintu itu sambil menggendong Agna.
Pada saat itu juga Ranum melihat pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali, dimana Al terlihat sedang menyuapi Flora dengan tatapan mata kedua insan itu saling melempar padangan. Ranum yang merasa tidak bisa melihat pemandangan itu dengan cepat menutup pintu itu kembali dengan dada yang bergemuruh hebat.
"Sudah aku katakan, di luar tidak ada apa-apa," ucap Sonia ketika mendengar Ranum kembali menutup pintu.
"Kamu benar, di luar Tuan Al dan suster Flo terlihat sedang sarapan bersama, aku lihat juga mereka saling menyuapi. Apa itu yang sedang kamu sembunyikan dariku, Sonia?"
Sonia tersentak kaget karena ia tidak tahu kalau Al dan Flora sudah sampai dengan adegan suap-suapan. "Ti-tidak, Ranum, bu-bukan itu," jawab Sonia terbata-bata.
__ADS_1
"Sudah jangan dibahas lagi, karena aku tidak berhak merasa cemburu. Sebab aku sadar diri dengan posisiku saat ini."
Sonia yang mendengar itu malah merasa kesal dengan Al dan Flora. Karena gadis itu tahu kalau saat ini Raum sudah memiliki perasaan pada ayahnya Agna itu. "Apa yang kamu lihat di luar tadi, tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiranmu itu, Ranum."
"Jangan dibahas lagi Sonia, tolong dengarkan aku jangan dibahas lagi. Cukup sampai di sini aku sudah memahami kondisi dan situasi saat ini seperti apa," balas Ranum.
Sonia hanya bisa mengangguk patuh, sebab ia sebagai wanita juga bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Ranum.
****
Dua minggu berlalu dengan begitu cepat dan hari-hari yang di alami Ranum di rumah itu semakin membuat wanita itu merasa kalau Al benar-benar menaruh rasa pada Flora.
Seperti saat ini ketika mereka sedang sarapan bertiga, Al terlihat begitu sangat perhatian dengan Flora sedangkan kepada istrinya sendiri laki-laki itu terlihat biasa saja. Sehingga membuat Ranum dengan cepat-cepat menghabiskan sarapannya.
"Aku sedang terburu-buru suster Flo, mengingat hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah," kilah Ranum dengan cepat. "Lanjutkan saja sarapannya, dan aku titip Agna." Ranum lalu terlihat berdiri dari duduknya. "Aku berangkat dulu." Setelah mengatakan itu Ranum pergi.
Al yang melihat itu terlihat biasa-biasa saja. Laki-laki itu tidak bersuara ataupun sekedar menanyakan Ranum bagaimana perasaan ibunya Agna itu ketika akan masuk kuliah pada hari ini. Al terlihat seperti terkesan cuek sekali tidak seperti biasanya.
***
"Agna apa kabar? Apa keponakanku itu sehat?" tanya Sonia ketika ia melihat Ranum hanya diam saja dari tadi. Setelah mereka masuk ke kelas.
__ADS_1
"Baik, dan sekarang berat badannya sudah bertambah. Dan itu berarti Agna sudah bisa tidur di ranjang bersamaku, tidak di dalam inkubator lagi," jawab Ranum dengan tatapan yang lurus ke depan.
"Wah, ini terdengar sangat luar biasa. Jadi, aku bisa puas-puas menggendong Agna mulai dari sekarang," ucap Sonia yang benar-benar merasa senang mendengar jawaban Ranum. "Sepertinya aku juga harus sering-sering main ke rumahmu, biar aku ini bisa belajar cara menggendong bayi yang benar. Agar nanti kalau aku punya bayi bisa langsung menggendongnya tanpa memerlukan bantuan baby sitter."
Ketika Ranum akan membalas ucapan Sonia, tiba-tiba saja wangi parfum milik Ryder tercium di indra penciuman wanita itu. "Wangi parfum ini, sepertinya wangi parfum milik ...." Ranum menjeda kalimatnya karena mata gadis itu malah melihat Ryder yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kenapa Ry harus kuliah disini juga?" tanya Sonia yang juga melihat Ryder.
"Nanti tanyakan kepada diri--" Kalimat Ranum menggantung di udara karena Ryder sudah berdiri di depannya.
"Apa kabar? Agna juga apa kabar?" Ryder bertanya seperti itu tapi malah hati Ranum yang ketar ketir. "Agna Yumna Ezza, apa kabar dengan keponakanku itu?" Ryder mengulang pertanyaannya.
"Duduk Ry, karena dosen kita sudah datang." Sonia menunjuk ke depan sana.
"Oke, nanti di jam kosong aku akan menanyakan ini lagi," kata Ryder yang kemudian berjalan lagi dan ternyata bangku tempat laki-laki itu duduk tepat berada di belakang Ranum.
Sedangkan Ranum kembali merasakan getaran aneh di jantungnya, ketika melihat tatapan sendu Ryder pada dirinya.
"Kenapa Ry harus hadir lagi, di saat keadaannya seperti ini," batin Ranum.
"Fokus belajar Num, jangan berpikiran untuk mengungkit cinta lama bersemi kembali. Karena itu bisa membuat kamu dan Agna nanti bisa terpisah," kata Sonia tiba-tiba saja.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa Sonia? Dan Cinta siapa yang akan bersemi kembali?" tanya Ranum dengan cara menoleh ke sampaing.