Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 45


__ADS_3

"Tuan, bangun ini sudah hampir jam delapan pagi," kata Bagas yang membangunkan Al dengan suara yang pelan sambil menepuk-nepuk pundak Al beberapa kali. Rupanya laki-laki itu tertidur dengan cara duduk dan menjadikan lengannya sebagai bantal tepat di dekat lengan Ranum. "Tuan, Anda bisa terlambat datang ke kantor kalau Anda tidak mau membuka mata," ujar Bagas lagi karena ia berharap Al bangun.


Hingga beberapa menit akhirnya Al bangun dan terlihat laki-laki itu menggeliat sambil menguap beberapa kali. "Aku hari ini tidak masuk kerja, karena mau menjaga Ranum disini," kata Al dengan suara yang serak khas orang yang baru bangun dari tidurnya. "Kamu saja sendiri yang masuk Bagas, dan katakan kepada pria tua itu bahwa aku tidak enak badan. Supaya dia tidak terus-terusan mencariku karena tadi malam saja dia menelponku sampai puluhan kali tapi aku abaikan, ditambah pesannya mungkin sudah ratusan di whatsapp tapi itu juga aku abaikan." Al rupanya sekarang benar-benar ingin menjaga jarak dengan ayah kandungnya sendiri.


"Baiklah, Tuan, kalau Anda tidak akan masuk bekerja hari ini tidak apa-apa. Mungkin orang-orang di perusahaan akan memaklumi itu semua karena mereka semua tahu kalau Anda dan saya pasti sangat kecapekan karena terus bekerja di negara A hingga kita tidak kenal waktu," ucap Bagas yang tidak mungkin akan memaksa Al untuk masuk ke kantor hari ini. Mengingat Al selama di negara A sudah bekerja sangat keras sehingga laki-laki itu rela menggadai jam istirahat. Hanya demi pekerjaan mereka cepat selesai dan juga supaya mereka cepat kembali ke Indonesia. "Dan untuk Tuan besar Daniel, pasti juga akan memaklumi Anda Tuan. Mengingat Tuan besar juga pasti tahu bagaimana Anda yang terus saja bekerja sehingga Anda lupa akan


waktu," sambung Bagas, yang mendengar Al tidak mau mengangkat atau sekedar membalas pesan Daniel.


"Apa Mamaku tidak pernah mencariku?" tanya Al yang sekarang menanyakan tentang ibunya, Anggun wanita paling lembut, penyabar, dan penyayang. Wanita yang tidak akan pernah Al biarkan mengeluarkan air mata setetes pun.


"Untuk Nyonya besar Anggun beliau selalu saja menanyakan tentang kabar Anda Tuan. Tapi seperti yang selalu Anda katakan saya akan menjawab Anda baik-baik saja dalam menjalani keseharian menjadi desainer," jawab Bagas.


"Andai saja Mama tidak memiliki riwayat penyakit jantung, mungkin aku sudah membongkar tentang perselingkuhan Papaku sendiri dan juga mantan istriku itu." Tiba-tiba saja Al malah berkata begitu membuat Bagas lagi-lagi menjadi merasa sedikit bersalah karena laki-laki itu telah menyimpan kebenaran sudah sejak lama.


"Tuan, ada kalanya kita memilih untuk tetap diam saja, supaya semua hal buruk yang kita tidak inginkan tidak akan pernah terjadi." Bagas mengatakan itu supaya Al tidak gegabah dalam mengambil tindakan. "Diam bukan berarti tidak punya emosi, kita perlu cukup dewasa Tuan. Karena amarah tidak akan bisa menyelesaikan masalah."

__ADS_1


"Kamu tidak nyambung Bagas! Sudahlah jangan sok-sokan menjadi kang motivator lebih baik kamu sekarang berangkat saja ke kantor. Dan mana baju gantiku?"


"Tidak bisakah Anda membuat suasana hati saya hari ini senang Tuan Al? Karena saya sudah bersusah payah mengumpulkan kata-kata itu, tapi apa? Anda malah tega mengatakan kata-kata saya itu tidak nyambung. Sungguh Anda benar-benar bos yang kejam." Bagas hanya bisa mengatakan ini semua di dalam benaknya, karena laki-laki itu tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan itu secara langsung.


"Hai, aku tanya mana baju gantiku?"


"Maaf Tuan, saya lupa membawanya untuk Anda," jawab Bagas yang memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Tidak apa-apa, nanti aku pulang, dan mengambilnya sendiri."


***


Sesaat setelah Al sudah keluar dari ruang rawat inapnya, detik itu juga Ranum langsung saja membuka mata rupanya gadis itu ikut terbangun gara-gara mendengar Bagas membangunkan Al tadi. "Kenapa hidup Tuan Al begitu miris sekali? sehingga ayahnya sendiri rela selingkuh dengan mantan istrinya." Ranum juga rupanya lagi-lagi harus mendengar percakapan antara Bagas dan Al tadi dengan sangat jelas. "Tuan Al sangat kasihan sekali, akan tetapi hidupku jauh lebih kasihan lagi dari pada dirinya," gumam Ranum pelan. "Dia pria tampan dan kaya, pasti dia akan cepat mendapat pengganti calon istri sesuai dengan kriteria yang dicari. Sedangkan aku kalau sudah melahirkan bayi ini, aku akan langsung pergi dari kehidupan Tuan Al. Dan entah kemana lagi arah tujuanku." Ranum menghela nafas hingga beberapa detik gadis itu kembali menghembuskannya dengan kasar.


"Maafkan Ibu sayang, karena telah mencoba mau membvnvh diri." Ranum mengelus perutnya. "Maaf, maaf dan maaf yang sebesar-besarnya sayang, karena Ibu lagi-lagi berlaku b*doh! Kini Ibu baru sadar setelah mendengar kata-kata ayah kamu kalau Ibu harus bisa menunjukkan kepada mereka kalau Ibu bukanlah wanita yang lamah. Maka dari itu mulai sekarang Ibu tidak akan pernah lagi berpikiran sempit seperti kemarin." Ranum bangun dari tidurnya karena gadis itu merasa badannya begitu sakit. Sebab sebelum ia melakukan adegan bvnvh diri kemarin gadis itu sempat membentur-benturkan badannya dulu ke dinding tembok kamar mandi. Dengan cara itu Ranum rupanya menyakiti dirinya sendiri saking frustrasinya karena ia merasa tidak akan pernah bisa mengungkapkan kebenaran tentang kematian adiknya, Aish.

__ADS_1


"Kebenaran akan terungkap, dan ibu tiriku harus mendekam di penjara atas tindakan kejahatan yang telah dia lakukan, aku berjanji akan membuktikan kepada semua orang bahwa tante Angel adalah wanita yang benar-benar sangat jahat dan begitu licik sehingga dia dengan tega melenyapkan adikku dengan cara mendorongnya dari atas tangga." Ranum membatin.


***


Dib sini lain Al baru saja akan berangkat lagi ke rumah sakit tapi tiba-tiba saja. Anggun datang ke apartemennya wanita paruh baya itu terlihat membawa paper bag yang isinya makanan kesukaan putranya itu.


"Mama, kenapa tidak bilang-bilang mau datang ke sini?" tanya Al ketika melihat Anggun sudah berdiri di ambang pintu.


"Mama kesini cuma mau nganterin kamu makanan kesukaan kamu sayang, jadi Mama rasa tidak perlu memberitahumu dulu," jawab wanita paruh baya itu dengan lembut. "Ajak Mama masuk dong, dari tadi Mama berdiri di sini kaki Mama menjadi sedikit pegal," ucap Anggun yang meminta untuk Al ajak masuk ke dalam apartemen itu.


"Kenapa tidak langsung masuk saja sih, Ma? Mama kan, tahu kode apartemen ini."


"Mama takut masuk, nanti ada istri kamu." Tiba-tiba saja Anggun berkata begitu.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2