
"Mas sudah lama kita tidak keluar jalan-jalan ke ibu kota," kata Ranum ketika ia dan Al baru saja selesai membuatkan adik untuk Agna.
Al membenarkan posisi tidurnya dengan cara membalik badannya sehingga ia dan Ranum saat ini bertatap muka. "Apa kamu benar-benar pingin jalan-jalan ke ibu kota?" tanya Al pada sang istri.
"Iya Mas, kita ajak Agna dan mama," jawab Ranum yang berharap Al mengabulkan keinginannya yang akan jalan-jalan ke ibu kota. "Kata mama juga, dia pingin jalan-jalan ke sana," lanjut Ranum.
Al terdiam karena saat ini laki-laki itu sedang berpikir keras sebab jika ia mengajak sang ibu. Maka kemungkinan besar Anggun bisa saja bertemu dengan Daniel nanti di sana, mengingat hati wanita paruh baya itu sangat mudah sekali di luluhkan. Apalagi saat ini Daniel sudah jadi gelandangan dan bisa saja Anggun akan mengulurkan tangan pada pria paruh baya itu.
Sehingga membuat Al harus memikirkan ini semua dengan matang-matang dulu, sebelum mengajak Anggun keluar dari rumah yang sangat sederhana itu. Karena sungguh Al sampai sekarang tidak bisa menerima perlakuan Daniel terhadap dirinya yang dulu, bukan cuma itu saja Al juga rupanya tidak bisa menerima perlakuan sang ayah pada Anggun, mengingat pria paruh baya itu telah terlalu dalam menggores luka pada hati sang ibu.
"Mas Al, kenapa Mas malah diam saja?"
__ADS_1
"Begini Ranum, aku belum berani mengajak Mama keluar dulu ke ibu kota. Mengingat Papa dan Morea masih berkeliaran." Al menjawab pertanyaan sang istri. Dan ternyata Al sama sekali tidak menceritakan pada Ranum kalau Daniel dan Morea sudah bercerai sejak perusahaan Ezza Fashion itu hangus terbakar. Bertepatan dengan Ranum yang saat itu berjuang antara hidup dan ma ti. Serta laki-laki itu tidak pernah menceritakan pada sang istri kalau Daniel sudah menjadi gelandangan sejak lima bulan terakhir ini. "Sekarang apa kamu mengerti?" Kini giliran Al yang bertanya pada Ranum.
"Tapi kata mama, dia sudah bisa berdamai dengan keadaan sehingga mama juga mengatakan kalau dia tidak akan merasa sakit hati ataupun sebagainya jika mama melihat Mbak Morea dan papa," jawab Ranum penuh penekanan. Supaya Al mengajak Anggun. "Mas, satu kali saja ya," pinta Ranum sambil mengelus rahang sang suami. "Mama juga mungkin mau jalan-jalan, karena dia juga merasa bosan berdiam diri terus di sini."
"Sekali aku bilang tidak maka tidak Ranum," timpal Al yang tidak mau mengambil resiko. Mengingat ucapan Bagas kalau Daniel bisa ada di mana-mana. "Sekarang tidurlah, berhubung Agna masih bobok," ujar Al.
"Mas ...," panggil Ranum.
"Iya kamu dan Agna akan tetap pergi, tapi kalau Mama. No!" Al saat ini sedang dalam mode yang tidak bisa ditawar-tawar meskipun Ranum sudah berusaha meyakinkan laki-laki itu. "Tidur ya, karena ketika sang mentari terbit maka aku akan mengajakmu jalan-jalan," lanjut Al.
Al menghela nafas. "Tidur Ranum, dan tidak baik kamu malah membelakangi suamimu seperti ini."
__ADS_1
Ranum tidak menghiraukan kalimat Al, karena ibunya Agna itu sangat lelah dan bercampur ngantuk, sehingga membuatnya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk pergi ke dunia kapuk.
***
Pagi pun menjelang, bukannya Al mengajak Ranum jalan-jalan ke ibu kota. Laki-laki itu kini malah terlihat sedang membantu Bagas untuk memasukan barang-barang ke dalam rumah yang akan menjadi tempat tinggal Bagas dan Sonia itu.
"Nati pvkvl 9, baru kita pergi ke ibu kota dan untuk sekarang aku masih membatu Bagas dulu, kamu dan Agna mohon bersabar dulu ya," kata Al yang mengerti arti tatapan sang isri. "Sebentar saja, dan sementara itu kamu sama Agna lebih baik bersiap-siap dulu gih."
"Apa mama tidak marah Mas Al tidak mengajaknya?" Ranum malah bertanya perihal yang semalam itu lagi.
"Tidak sama sekali," jawab Al sebelum laki-laki itu mengangkat kursi meja rias Sonia.
__ADS_1
...****************...