
Terlihat baju Morea sudah compang-camping karena Al merobeknya. Sekarang laki-laki itu terlihat sedang membawa pecahan vas bunga yang akan ia arahkan kepada morea mantan istrinya itu. "Apa sekarang kamu masih mau rujuk dengan laki-laki yang memiliki gangguan mental sepertiku?!"
Morea yang ketakutan mengangguk. "Mas Al, aku akan tetap mencintaimu, meskipun Mas Al tidaklah sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah." Morea mendadak menjadi mengingat Allah ketika dalam keadaan begini. "Karena aku mencintai Mas Al karena Allah, bukan karena apapun."
"Morea, Morea … kamu memang benar-benar wanita yang luar biasa Morea kadang-kadang kata-katamu manis seperti madu, tapi kadang-kadang juga kata-katamu itu menjadi seperti racun!" Al mendesis. Sambil menarik pergelangan tangan Morea. rupanya Al berniat ingin mem*tong urat nadi Morea. Ketika Al sudah siap akan melakukannya karena ia melihat sepertinya wanita itu juga sudah pasrah. Akan tetapi satu pvkvlan keras di bagian tengkuk lehernya membuat laki-laki itu langsung jatuh tersungkur dan pingsan. Untung saja pecahan vas bunga yang tadi ia pegang tidak menancap di ulu hatinya karena posisinya terjatuh tengkurap.
__ADS_1
"Apa Nyonya tidak apa-apa?" tanya Bagas yang ternyata berhasil masuk tadi tanpa di sadari oleh Al. "Maaf Nyonya, Anda bisa pakai selimut dulu, karena saya tidak mau kalau sampai mata saya ternoda." Bagas dengan cepat mengambil selimut untuk menutupi tubuh Morea. "Sekali lagi maafkan saya Nyonya, karena saya tidak bermaksud untuk berkata begi–"
"Cuih, aku juga tidak sudi kemontokan tubuhku ini dilihat oleh laki-laki yang tidak normal seperti kamu Bagas!" gerutu Morea yang merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Bagas tadi. "Bilang saja, kamu selama ini diam-diam suka padaku, tapi kamu tidak pernah berani mengungkapkan isi hatimu karena tidak mau bersaing dengan Al. Begitu 'kan?"
"Sudahlah Bagas kalau kamu mau, aku bisa memuaskanmu di pagi hari ini. Mumpung aku sedang baik hati karena kamu telah menolongku tadi." Morea membuka selimut yang tadi Bagas berikan untuk menutup tubuhnya itu. "Sekarang saja Bagas, berhubung Al masih pingsan. Hitung-hitung buat membayar rasa terima kasihku yang tadi."
__ADS_1
"Tuhan, dia benar-benar wanita yang sangat menjijikkan. Apa jangan-jangan dia belum puas telah di ahem-ahem oleh Tuan besar Daniel dan juga Remon?" tanya Bagas di dalam hatinya sambil berusaha untuk membawa Al naik ke atas ranjang.
"Jangan malu-malu nanti kamu menyesal Bagas. Ayolah! Berhubung rahimku terasa sudah bergetar." Morea benar-benar wanita yang tidak memiliki kepuasan. Sehingga Bagas pun mau di embat. "Aku akan membuatmu keluar terlebih dahulu bagaimana?"
"Cukup Nyonya! Pakai kembali selimut Anda. Saya ingatkan bahwa di kamar ini ada cctvnya." Bagas menunjukkan Morea tempat cctv yang yang tersembunyi. "Apakah Anda tidak akan merasa malu dan takut, jika Tuan Al tau ini semua?"
__ADS_1