Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 62


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Tidak terasa Rudy meneteskan air mata ketika mengingat itu semua. Tapi tiba-tiba saja sebuah suara yang membuat Rudy merasa sakit hati membuat lamunan laki-laki paruh baya itu menjadi buyar.


"Hanya gara-gara Mama tidak mengambilkan air minum ayah malah nangis," ejak Bianca yang entah datang dari mana anak itu. "Tuh, ayah harus lihat, orang yang sakitnya lebih parah dari pada ayah saja bisa ambil makan dan minum sendiri, lah ayah baru sakit begini saja manjanya luar biasa."


"Sudahlah Bianca, ambilkan saja ayahmu air Mama takut kamu menyesal kalau besok ayah kamu sudah tiada." Dengan perkataan Angel yang begitu, wanita itu malah membuat hati Rudy semakin sakit. "Ambilan gih, setelah itu kita pergi shopping, sudah lama sekali Mama tidak pergi berpoya-poya."


"Ma, keuangan kita kan, saat ini sedang menipis jadi aku minta Mama jangan boros du–"


"Mas tidak berhak melarangku, sampai Mas berkata begitu. Lebih baik Mas diam saja. Lagipula aku tidak memakai uang Mas!" potong Angel dengan ketus. "Ayo Bianca kita pergi sekarang saja sampingnya, daripada berlama-lama di sini semakin membuat ayah kamu manja begini." Setelah mengatakan itu Angel benar-benar pergi dari kamar itu bersama dengan Bianca.


"Iya, Ayo Ma. Tapi ngomong-ngomong kita akan pergi pakai mobil siapa?" tanya Bianca sambil terus melangkahkan kaki untuk pergi.


"Mobil kamu saja, Sayang," jawab Angel sambil terkekeh. Karena mood wanita itu langsung berubah ketika ia dan Bianca akan pergi shopping.

__ADS_1


*


Inem yang kebetulan sedang lewat di depan kamar Rudy melihat laki-laki itu yang sedang mencoba untuk bangun dari tidurnya. Inem lalu tanpa berpikir panjang segera menghampiri Rudy karena pintu kamar laki-laki itu tadi sedikit terbuka.


"Tuan, apa Anda haus?" tanya Inem sambil mendekat ke arah ranjang, dimana Rudy mencoba untuk tetap memaksakan dirinya bangun. "Tuan, Anda masih belum cukup pulih dan memiliki banyak tenaga, maka dari itu Anda jangan terlalu banyak bergerak dulu. Sini biar saya yang akan mengambil air minum untuk Anda." Inem lalu dengan segera mengambil segelas air untuk Rudy dan membantu laki-laki itu untuk minum. "Nanti kalau Anda butuh sesuatu, Anda bisa panggil saya saja Tuan," kata Inem yang melihat Rudy menghabiskan segelas air minum itu hingga tidak tersisa lagi, sehingga Inem merasa kalau Rudy benar-benar sangat haus.


"Terima kasih, Bi Inem," ucap Rudy secara tiba-tiba. Padahal selama Inem bekerja di rumah itu Rudy baru kali ini mengucapkan kata terima kasih kepada asisten rumah tangganya itu.


Inem sempat terdiam beberapa detik sebelum berkata, "Tidak usah berterima kasih Tuan, karena kita sebagai sesama manusia harus saling tolong-menolong. Apalagi saya bekerja di rumah ini sudah sejak lama jadi menolong Anda juga itu adalah salah suatu kewajiban bagi saya." Inem yang memang baik tidak pernah sama sekali melukai perasaan siapapun termasuk perasaan Rudy. Meski laki-laki paruh baya itu sering kali membantak Inem jika asisten rumah tangga itu melakukan kesalahan sekecil apapun. "Saya akan tidur di sofa ruang tamu Tuan, jadi seperti kata saya yang tadi. Kalau Anda butuh sesuatu panggil saya saja."


Rudy yang bisa melihat ketulusan pada Inem hanya bisa mengangguk tanda mengiyakan.


Di hotel tepat pukul 0:00 Ranum masih saja duduk di pinggir ranjang karena gadis yang sedang hamil 5 bulan itu tidak pernah menyangka kalau ia akan tidur sekamar dengan Al seperti sekarang ini.


"Ranum, berbaringlah, jangan terus-terusan duduk di pinggir ranjang. Seperti itu," kata Al sambil memejamkan mata. "Lagipula aku sudah berjanji tadi, bahwa aku tidak akan macam-macam denganmu, oleh sebab itu kamu tidak usah takut." Al tahu saat ini Raum pasti sudah berpikiran yang bukan-bukan. "Aku tegaskan sekali lagi kalau aku tidak mencari kesempatan dalam kesempitan, seperti ini Ranum."

__ADS_1


"Tuan, aku mau tidur di sofa saja. Karena aku kalau tidur suka seperti jarum jam. Jadi, aku takut kalau sampai tidur Anda terganggu," ucap Ranum secara tiba-tiba.


"Tidak masalah Ranum, aku sudah membuat bantal guling sebagai pembatas tempat kita tidur masing-masing. Sekarang tidurlah jangan berpikiran kalau kamu mau tidur di sofa, karena aku tidak akan membiarkan itu. Sebab bayi yang ada di dalam perutmu bisa saja tidak nyaman." Meski Al memejamkan mata, mulut laki-laki itu terus saja berbicara.


"Selama aku merasa nyaman, pasti bayi kita akan merasa nyaman juga Tuan," sahut Ranum menimpali Al. "Jadi, biarkan aku tidur di sofa, Anda tetap di sini saja." Ranum lalu berniat ingin berdiri tapi suara Al membuatnya mengurungkan niatnya.


"Besok pagi aku akan mengumumkan kepada publik kalau ibu tirimu telah mendorong adikmu dari atas tangga, sehingga menyebabkan adikmu itu kehilangan nyawa."


"Tuan, ini tidak ada hubunganya dengan itu, perkara aku tidak mau tidur di ranjang ini. Anda malah membawa-bawa masalah yang tadi sudah kita bahas untuk tidak mengungkit-ngungkitnya lagi." Ranum menoleh supaya bisa melihat Al. "Tadi Anda sendiri yang berjanji untuk tidak akan membahas masalah ini, setelah aku menceritakan semuanya tapi sekarang … Anda malah berkata begitu."


"Aku hanya ingin kebenaran terungkap Ranum, oleh sebab itu kamu bisa memilih tidur sekarang atau aku akan benar-benar membongkar kebusukan ibu tirimu itu tepat besok pagi. Jangan anggap kalimat ini sebagai ancaman, karena kamu salah besar Ranum."


Ranum secepat kilat membaringkan tubuhnya tanpa mengucapkan sepatah kata, karena gadis itu saat ini memilih mencari aman saja.


"Nah begitu dong, sekarang pejamkan matamu karena waktu terus saja berjalan, detik demi detik hingga menit demi menit." Al tiba-tiba saja menjadi merasa lega karena Ranum rupanya mau juga tidur di ranjang bersamanya meski dibatasi oleh bantal guling. "Aku sebenarnya dari tadi ngantuk sekali Ranum, sehingga mataku saja sangat berat untuk dibuka, tapi kenapa mulutku ini tidak berhenti berbicara?" gumam Al pelan bertanya kepada Ranum. Yang saat ini sedang membelakanginya.

__ADS_1


"Aku juga sudah sangat ngantuk Tuan, jadi aku berharap Tuan berhentilah untuk terus berbicara, supaya kita bisa sama-sama masuk ke alam bawah sadar," jawab Ranum sambil mengelus-ngelus perut buncitnya. "Besok pagi Anda harus bangun pagi-pagi untuk mengantarkanku pulang, karena aku mau sekolah," lanjut Ranum yang kini membahas masalah ia yang akan pergi sekolah.


"Biar Sonia yang akan menjemputmu kesini, karena aku tidak bisa pulang kerumah itu untuk sementara waktu. Dan jangan tanyakan tentang Bagas, karena dia sangat sibuk."


__ADS_2