
Sonia semakin berteriak ketika melihat darah yang keluar semakin banyak dari bawah pintu itu bersamaan dengan genangan air yang juga semakin banyak yang keluar sampai air itu sudah sampai di mata kaki gadis itu. "Tuhan, siapa yang akan menolongku untuk menyelamatkan Ranum yang ada di dalam, dan entah bagaimana keadaanya sekarang," ucap Sonia yang sudah mulai lelah berteriak dan menggedor pintu itu hingga ia mencoba mendobraknya. Tapi apa daya kekuatan seorang gadis seperti dirinya tidak akan mungkin bisa membuka pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam itu. "Tuhan, jangan biarkan sesuatu buruk terjadi kepada wanita hamil yang ada di dalam ini." Sonia mundur beberapa langkah karena ia ingin mencoba mendobraknya lagi. Akan tetapi saat ia akan berlari ke arah pintu itu sebuah tangan tiba-tiba menahanya.
"Minggir, biar aku yang akan mendobraknya." Suara laki-laki yang selama ini Sonia rindukan akhirnya datang juga sebagai penolong. "Minggirlah, aku akan mendobraknya sekarang," kata Bagas, yang kemudian mengambil ancang-ancang akan tetapi Al datang membawa kunci untuk membuka pintu kamar mandi itu.
"Jangan didobrak, karena aku punya kunci cadangannya." Al langsung berjalan menuju kamar mandi. Akan tetapi saat laki-laki itu memutar kuncinya, pintu kamar mandi itu sama sekali tidak bisa dibuka. "****! Kita dobrak saja!" Setelah mengatakan itu Al dan Bagas langsung saja mendobrak pintu itu dan dengan hanya satu kali dobrakan pintu itu langsung terbuka.
Sehingga terlihat Ranum sudah menenggelamkan dirinya di dalam bathtub yang sudah berisi air penuh dengan tangan yang keluar dari dalam bathtub itu. Dan Al bisa melihat dengan jelas bahwa pergelangan tangan Ranum mengeluarkan banyak sekali darah.
"Dia benar-benar b*doh!" gerutu Al yang kemudian mengangkat tubuh Ranum dari dalam bathtub itu. "Cepat siapkan mobil Bagas, berhubung detak nadinya masih ada," perintah Al yang menggendong Ranum. "Ayo Bagas!" seru Al yang kemudian berlari. Karena entah mengapa laki-laki itu tidak mau kalau Ranum sampai mati.
***
Di dalam mobil.
__ADS_1
"Lebih cepat Bagas! Karena detak nadinya semakin melemah." Al terlihat panik. Ketika melihat bibir Ranum sudah berwarna kebiru-biruan. "Apa kamu sudah tidak bisa mengemudi lagi Bagas?! Sehingga mobil ini terasa begitu lelet sekali!" Laki-laki itu mengira kalau Bagas membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. "Bagas!!"
"Tuan, ini saya sudah mengemudi di atas standar rata-rata, saya juga sekarang merasa menjadi seorang pembalap. Anda bisa lihat sendiri lampu merah pun saya terobos sehingga sirine polisi sudah mulai terdengar karena di belakang mobil polisi sudah mengikuti mobil kita ini," kata Bagas yang tidak mau kalau Al mengira dirinya tidak mempercepat laju mobilnya.
"Jangan banyak bicara Bagas! Lebih baik kamu tambah lagi kecepatannya dan jangan hiraukan polisi yang saat ini sedang mengejar kita! Anggap saja kita saat ini sedang dikejar-kejar oleh rentenir." Dalam waktu genting seperti ini bisa-bisanya Al berkata begitu. "Apa kamu tuli Bagas! Tambah kecepatannya!" bentak Al yang merasa kesal.
"Aku masih ingin hidup Tuan Al, jadi Anda jangan asal suruh ngebut-ngebut saja!" ujar Sonia yang memejamkan mata dari tadi. Karena gadis itu sangatlah takut untuk saat ini. "Jangan sampai kita berempat yang akan menghembuskan nafas terakhir di dalam mobil ini." Sonia benar-benar takut sehingga tubuhnya gemetaran karena baru kali ini Bagas mengemudi bak pembalap. Nyelip sana nyelip sini supaya mereka cepat sampai di rumah sakit.
"Diam Sonia!" Sekarang gillian Bagas yang menyahut Sonia. "Bukankah ucapan itu adalah … ." Bagas menjeda kalimatnya karena ia ingin Sonia yang melanjutkannya.
"Lebih cepat! Jangan dengarkan Sonia!" Lagi-lagi Al berteriak yang ada di kursi belakang.
***
__ADS_1
Setiba di rumah sakit Al tanpa menunggu Bagas membuka pintu mobil untuknya, laki-laki itu membuka sendiri pintu mobil itu dan setelah itu ia langsung kembali lagi membawa Ranum berlari supaya cepat mendapat penaganan. Sehingga Bagas pun yang memanggilnya tidak di hirukan oleh Al.
"Bisa-bisanya Tuan Al tidak mengingat kalau dirinya tidak memakai baju, karena kemaja yang dia kenakan tadi dia gunakan untuk mengingat pergelangan tangan Ranum. Agar darah Ranum tidak banyak yang keluar, karena kalau itu sampai terjadi maka tidak ada harapan untuk Ranum bertahan hidup di saat pendarahan di pergelangan tangannya tidak cepat di tangani." Meski Bagas berkata begitu akan tetapi Sonia tidak menjawab karena tubuh gadis itu masih gemetaran. "Sonia, ayo kita turun!" ajak Bangas tanpa melihat ke arah Sonia. "Ayo kita turun jangan diam saja. Nanti Tuan Al akan memarahiku gara-gara masalah baju."
"Kamu saja yang pergi Bagas, karena kakiku saat ini masih telemor," balas Sonia menimpali Bagas. "Sana pergi saja, jangan hiraukan aku." Sonia benar-benar menyuruh Bagas untuk pergi menyusul Al.
"Kita harus bersama-sama kesana." Bagas kemudian melirik Sonia. Detik itu juga Bagas rasanya mau tertawa terbahak-bahak karena ia melihat tubuh kekasihnya itu gemetaran gara-gara ia ngebut tadi. Akan tetapi Bagas menahan tawanya agar tidak pecah, karena ia takut kalau sampai itu terjadi maka Sonia akan langsung berubah menjadi wanita yang sudah siap akan menelan seseorang secara hidup-hidup, maka dari itu Bagas lebih memilih mencari aman. Dengan cara mencoba menawarkan jasa gensong. "Apa perlu aku gendong seperti Tuan Al yang menggendong Ranum tadi?"
"Tidak usah bicara Bagas, karena aku tahu kamu pasti tidak akan melakukan semua itu kepadaku!" katus Sonia yang tahu kalau ucapan Bagas hanya omong kosong.
Bagas tersenyum karena rupanya Sonia tahu akal-akalannya. "Ya sudah, kalau kamu mau tetap disini, karena aku mau masuk cuma untuk mengantarkan baju ini saja kepada Tuan Al, setelah itu aku berjanji akan menemani kamu disini."
"Bagaimana aku bisa percaya kepadamu Bagas, karena kamu juga mengatakan akan pulang dalam waktu dua minggu tapi nyatanya kamu malah pulang tepat setelah tiga minggu kamu meninggalkanku," gerutu Sonia.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau ikut masuk, tidak usah terlalu banyak bicara Sonia, karena aku tidak suka mendengar ocehanmu itu, karena bisa membuat darahku naik. Apa jangan-jangan kamu tidak senang kalau aku sudah pulang?" tanya Al asal menebak-nebak.