
"Apa kamu sudah menemukannya? tanya Al pada Bagas dari seberang telepon.
"Belum Tuan, saya dan Sonia masih berusaha mencari keberadaan Ranum," jawab Bagas sambil tetap fokus menyetir.
"Pergi kemana kira-kira gadis itu, sampai malam begini? Dan tidak seperti biasanya dia tidak meminta izin kepadaku terlebih dahulu." Al saat ini benar-benar mencemaskan Ranum. Karena ia takut Ranum berbuat nekat lagi. "Coba kamu cari dia di makam almarhum ibunya, siapa tahu dia ketiduran di sana. Makanya sampai malam begini belum pulang," ujar Al yang malah menyuruh Bagas mencari Ranum ke makam Rita.
"Saya rasa Ranum tidak ada di makam Tuan, karena tadi saya sudah lewat di kuburan tidak ada tanda-tanda dia tidur atau duduk di sana," balas Bagas menimpali Al.
"Apa dia pergi ke rumah ibu tirinya?" tanya Al karena entah mengapa ia menjadi mengingat cerita Ranum yang mengatakan ingin bertemu dengan Rudy. "Kamu cari dia kesana Bagas, kalau benar dia ada di sana segera hubungi aku," pinta Al.
"Baik, Tuan kalau begitu saya tutup dulu panggilan ini," ucap Bagas yang lalu menekan tombol merah.
"Apa kata Tuan Al," tanya Sonia ketika ia mendengar Bagas sudah mengakhiri teleponnya.
"Kita harus mencarinya ke rumah ibu tirinya, mungkin saja Ranum ada di sana," jawab Bagas. Sambil mencuri-curi pandang ke samping di mana Sonia sedang memperhatikan dirinya. "Apa menurutmu Ranum ada di sana juga?"
"Mungkin saja, karena kemarin Ranum sempat bercerita tentang dirinya yang ingin melihat sang ayah. Sebab dia memimpikan ayahnya yang terus saja meminta tolong." Sonia menjawab sambil mengotak atik ponselnya ia mencoba ingin menghubungi Ranum. "Aku ingin mencoba meneleponnya dulu siapa tahu nomor ponselnya aktif." Sesaat setelah mengatakan itu justru ponsel Sonia lah yang terlebih dahulu berdering dengan nomor pemanggil tanpa nama.
"Nomor baru siapa yang meneleponmu?" tanya Bagas ketika ia tidak sengaja melihat sekilas layar ponsel kekasih pujaan hatinya itu.
"Aku nggak tau, karena nggak ada nomornya. Mungkin orang salah sambung." Sonia memilih mengabaikan panggilan itu.
"Angkat saja, siapa tahu itu selingkuhanmu," kata Bagas dengan nada suara yang terdengar sedikit sewot.
__ADS_1
Sonia yang mendengar itu menarik rambut Bagas, sehingga laki-laki itu terdengar meringis. "Andai kamu tahu! Punya pacar satu kayak kamu saja sudah bikin sakit mata dan hati serta telinga, bagaimana jika aku mempunyai yang lain mungkin aku sudah tinggal nama saja saking gizi buruknya aku ini karena memikirkan masalah cinta-cintaan mulu!" gerutu Sonia sambil terus menarik rambut Bagas. "Lain kali kalau kamu bicara itu, moncongmu dijaga!" Kini Sonia beralih menunjuk bibir Bagas. "Jangan asal bicara!" ketusnya sambil memalingkan wajahnya dari Bagas.
"Makanya di angkat, supaya kita tahu itu siapa," ucap Bagas yang terus saja menyuruh Sonia mengangkat panggilan telepon itu. "Buruan gih!" kata Al sambil terus mengelus rambutnya bekas jambakan Sonia yang terasa sangat sakit di kulit kepalanya. "Angkat, dan besarkan volumenya," sambung laki-laki itu lagi.
Sonia yang mula-mula ragu tapi setelah mendengar ucapan Bagas, gadis itu segera menggeser tombol hijau.
"Sonia, ini aku Ranum," ucap Ranum tiba-tiba di seberang telepon. "Kamu datanglah ke rumah sakit, kasih ibu yang ada di jalan cempaka nomor 24."
Sonia dan Bagas saling pandang sebelum gadis itu membuka suara.
"Ranum, benarkah ini kamu? Dan sedang apa kamu di rumah sakit itu?" tanya Sonia.
"Datanglah, nanti kamu akan tahu sendiri," jawab Ranum singkat. "Aku cuma mau memberitahumu, dan cepatlah datang kesini." Setelah mengatakan itu panggilan itu Ranum putuskan.
"Kamu yakin di sana aman? Karena aku takut disana nanti ada begal, mana saat ini kita pakai mobil Tuan Al."
"Badan saja kekar, takut begal, ah … lemah!" seloroh Sonia.
"Kalau terjadi apa-apa denganku, maka kamu akan kehilangan kekasihmu ini." Bagas mendesis ketika mengatakan itu. Sambil memutar balik mobil itu menuju jalan yang ditunjuk oleh Sonia tadi.
***
"Udah?"
__ADS_1
"Iya, sebentar lagi temanku itu pasti datang, kamu boleh pulang sekarang. Karena pasti kedua orang tuamu, nyariin kamu Ry."
"Aku akan pulang kalau teman kamu itu datang, untuk saat ini biarkan aku menemamimu dulu," balas Ryder. Yang tidak mau pulang meskipun Ranum sendiri yang menyuruhnya.
"Aku tidak apa-apa sendiri di sini. Kamu lebih baik pulang. Karena nanti kedua orang tua kamu mengira anak mereka keluyuran," kata Ranum. Yang rupanya tidak mau kalau sampai Sonia dan Bagas melihat Ryder. Karena gadis itu tahu kalau Sonia pasti akan datang bersama dengan Bagas, sekertaris sekaligus asisten suaminya itu.
"Tidak, Ranum. Aku akan tetap disini dulu. Sampai temanmu itu datang," ucap Ryder yang benar-benar tidak mau meninggalkan Ranum sendirian di rumah sakit itu. "
Ranum yang merasa tidak bisa menyuruh Ryder untuk pulang, pada akhirnya memutuskan untuk membiarkan saja Ryder di sana menemaninya. "Ya sudah, kamu tunggu aku disini sebentar, karena aku mau pergi ke toilet dulu." Ranum lalu berdiri.
"Ayo, aku akan menemanimu untuk pergi ke toilet," kata Ryder yang juga ikut berdiri dari duduknya. Karena entah mengapa Ryder merasa ia harus menemani Ranum ke toilet.
"Jangan aneh-aneh Ry, kamu duduk saja disini. Lagipula toiletnya ada di ujung saja." Ranum lalu berjalan setelah mengatakan itu sambil berkata, "Aku akan segera kembali, kamu tunggu saja aku disini."
*
Ryder mondar-mandir karena sudah hampir 30 menit Ranum belum juga kembali dari toilet. "Apa aku harus menyusulnya saja," gumam Ryder pelan. Akan tetapi saat ia akan melngkahkan kakinya ponselnya tiba-tiba saja berdering. Dengan nomor Sonia yang tadi Ranum hubungi, tangan laki-laki itu lalu dengan cepat menggangkatnya.
"Halo, kamu ada di mana Ranum? Aku sekarang sudah sampai," kata Sonia yang mengira kalau yang mengangkat telepon itu adalah Ranum. "Ranum, cepat katakan di mana kamu, karena aku dan Bagas sudah muter-muter dari tadi malah tidak bisa menemukan keberadaan kamu."
Ryder terdiam karena ia tidak tahu harus memjawab ucapan Sonia dengan apa. Di saat hatinya juga saat ini sedang gelisah gara-gara Ranum yang belum kembali dari toilet.
"Ranum, jangan diam saja. Apa jangan-jangan kamu telah membohongiku yang mengatakan kalau kamu ada di rumah sakit kasih ibu?!" Sonia bertanya dengan suara yang sedikit meninggi.
__ADS_1