
Morea sudah mengambil ancang-ancang ingin menjambak rambut Ranum. Akan tetapi Al dengan gerakan cepat mendorong wanita itu hingga terjatuh ke lantai.
"Jangan pernah menyentuh istriku dengan tangan kotormu itu!" geram Al yang kini terlihat mengeraskan rahangnya. "Aku tidak seperti kamu Morea, yang tidak pilih lawan main, sehingga Daniel laki-laki tua itu kamu embat juga!" Jika laki-laki itu sudah marah maka ia akan kehilangan kendali. "Jangan kamu pikir aku ini b*doh, yang tidak tahu kelakuan kamu selama ini di belakangku dengan Papa! Kamu wanita yang memang benar-benar murahan! Sehingga mantan mertuamu saja kamu jadikan sebagai lawan mainmu di atas ranjang demi kepuasan nafsu sesaatmu!" Meski Al sangat marah, tapi laki-laki itu tidak melupakan Ranum yang saat ini pasti sangat ketakutan. Tidak lama Al kemudian mendekati Ranum dan membawa wanita itu untuk turun dari atas ranjang.
"Keluar dari kamar ini, karena aku ingin menyelesaikan masalahku dengan wanita ular ini," bisik Al di telinga Ranum. "Bila perlu suruh Bagas untuk membawamu pergi jauh dari apartemen ini dulu, apa kamu paham?"
Tubuh Ranum yang sudah mulai gemetaran mengangguk, sambil melihat wajah Al yang putih mulus kini malah menjadi merah padam ditambah mata laki-laki itu sudah merah menyala.
"Gadis pintar, sekarang pergilah!" Al sempat mengelus lembut rambut Ranum sebelum gadis itu berjalan keluar dengan kaki gemetaran.
Setelah beberapa detik Ranum keluar dari kamar itu Al dengan cepat mengunci pintu kamar itu.
Sedangkan Morea yang melihat itu merasa senang karena ia pikir Al akan mengajaknya berkeringat dingin di pagi buta begini. "Katakan saja kalau kamu merindukan sentuhanku Mas, sehingga kalimat kebohongan yang tadi terlontar begitu saja dari mulutmu." Meski tubuh Morea terasa sakit karena didorong oleh Al. Tapi wanita itu tidak menghiraukan rasa sakit itu lagi di saat melihat Al mengunci pintu kamar itu. "Lihat aku Mas, rasa dan bentuk lekuk pada tubuhku ini masih sama, tidak ada yang berubah sama sekali." Wanita itu kini berusaha untuk berdiri. "Ayo, kita lewati pagi buta ini dengan butiran keringat kita yang menyatu. Seperti dulu ketika kita masih menjadi suami istri Mas." Perlahan Morea mencoba mendekati Al.
__ADS_1
"Jika kamu ingin lenyap di tanganku maka mendekatlah!" Al terlihat sedang memegang dasinya. Sepertinya laki-laki itu ingin berniat membvnvh Morea. "Ayo mendekatlah!" Senyum yang terukir di bibir Al kini terlihat berbeda sehingga pupil mata laki-laki itu juga ikut berubah.
Morea yang baru menyadari itu semua perlahan mundur. Karena wanita itu baru mengingat cerita Daniel yang mengatakan kalau Al memiliki gangguan mental dan bisa saja melukai serta memvnvh siapa saja jika Al merasa terusik dan terganggu.
Tiba-tiba Morea mengingat ucapan Daniel dua minggu yang lalu.
"Al sebenarnya memiliki penyakit kejiwaan, yang sewaktu-waktu bisa saja kambuh bila dia merasa seseorang yang dia sayangi dan cintai diusik. Selama ini dia terlihat normal karena dia selalu meminum obat penenang."
"Benarkah?" tanya Morea yang tidak percaya tentang apa yang ia dengar dari mulut Daniel.
"Kenapa Mas Al bisa memiliki gangguan mental?"
"Karena dulu sewaktu dia masih kecil, pernah mau di lec*hkan oleh pamannya sendiri. Maka dari itu kamu harus hati-hati karena jika pupil mata Al berubah dan dengan raut wajah yang juga sudah sangat memerah itu berarti penyakit kejiwaannya sedang kambuh alias kumat."
__ADS_1
Lamunan Morea buyar ketika Al melempar vas bunga ke arah tembok. "Mas Al, aku minta maaf." Morea tiba-tiba saja meminta maaf kepada Al karena saat ini ia benar-benar merasa takut setelah mengetahui fakta tentang keadaan Al yang memiliki gangguan kejiwaan. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik Mas, dan tenangkan diri Mas."
"Kenapa? Apa kamu takut? Setelah mengetahui kalau mantan suamimu ini memiliki penyakit kejiwaan." Al tertawa terbahak-bahak dengan mata yang semakin memerah. "Apa laki-laki tua itu yang telah memberitahumu? Sorry aku salah, apakah kekasih gelapmu itu yang sudah memberitahumu? Itu adalah kata-kata yang tepat bukan?"
"Bukan begitu Mas, ayo kita selesaikan masalah ini dengan baik-baik atau bisa dengan cara kekeluargaan," ujar Morea yang mencoba untuk berbicara dengan Al dari hati ke hati.
"Bulls***!" umpat Al yang langsung saja menjambak rambut Morea.
***
"Bagas ayo kita pergi saja dari sini, aku takut kalau Tuan Al akan marah jika kita tetap disini," kata Ranum yang terus saja menarik baju Bagas. "Ayolah, kita bisa menunggu Sonia di luar saja, jangan di dalam begini."
Bagas menghela nafas karena ia saat ini tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar itu. Oleh sebab itu Bagas tetap diam di sana meskipun Ranum sudah mengatakan kalau ini atas perintah Al. "Sonia, dimana kamu, kenapa lama sekali? Bisa-bisa Morea akan kehilangan nyawa di dalam sana," batin Bagas yang cemas karena ia takut kalau sampai Al membvnvh lagi untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Bagas, jangan diam terus disini lebih baik kita pergi sekarang." Ranum sekarang menarik tangan Bagas. "Ayolah ...!"