Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 124


__ADS_3

Setelah kejadian lima bulan yang lalu kini Al dan Ranum hidup dengan damai dan tentram di sebuah desa terpencil. Mereka juga terlihat hidup sederhana meskipun Al sama sekali tidak kekurangan harta, mengingat Al sekarang sudah berhenti bekerja sebagai desainer sebab, kantor itu benar-benar terbakar ludes karena perbuatan Daniel waktu itu.


"Mas, Sonia dan Bagas benar akan pindah rumah ke sini juga?" tanya Ranum sambil terlihat meletakkan secangkir teh di atas meja. Karena saat ini sang suami sedang duduk di teras depan sambil membaca koran.


"Iya, aku yang meminta mereka supaya kita semua di sini kumpul bersama-sama, di tambah perut Sonia sudah mulai membesar dan kebetulan juga rumah di sebelah kita ini katanya mau menjual rumahnya, dengan harga yang miring, membuatku menjadi tertarik untuk membelikan Sonia dan Bagas rumah itu, hitung-hitung sebagai hadiah pernikahan mereka," jawab Al panjang lebar membuat Ranum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. "Kamu tidak keberatan kan, kalau aku yang membelikan mereka?" tanya Al pada sang istri.


"Kalau aku sih, ngikut aja, dan sama sekali tidak keberatan dan justru aku merasa senang. Karena kita akan berdekatan tempat tinggal dengan mereka." Mimik wajah Ranum terlihat tidak bisa dibohongi kalau saat ini wanita itu sangat senang hanya karena mendengar Bagas dan Sonia akan tinggal di sebelah rumah mereka. "Kira-kira kapan Sonia dan Bagas akan tiba di sini?" tanya Ranum yang penasaran kapan pasangan gesrek itu akan sampai.


Al terlihat melirik jam di pergelangan tangannya. "Seharusnya, mereka sudah sampai sekarang, kalau tidak terkena macet," jawab Al sambil terus membaca koran. "Ngomong-ngomong anak kita mana?" Al sekarang malah menanyakan tentang keberadaan Agna, bayi yang sudah berumur 8 bulan itu.


"Agna ada sama Mama, Agna juga sedang main sama suster Flo."


Ketika mereka masih asik mengobrol-ngobrol tiba-tiba saja terlihat sebuah mobil berhenti. Dan tidak perlu ditebak karena itu adalah pasangan suami istri yang paling romantis menurut versi mereka masing-masing.


"Hei, apa kabar?" tanya Sonia ketika bumil itu baru saja keluar dari dalam mobil. Ia juga sekarang terlihat kesulitan untuk berjalan karena perutnya.

__ADS_1


"Sonia, bumil satu ini semkain cantik saja," puji Ranum bersungguh-sungguh. Namun, Sonia malah menganggapnya candaan.


"Bagas, tolong kasih Ranum uang receh sebab dia sudah memujiku cantik, karena hanya dia sendiri yang mengatakan kalau aku ini cantik di saat tubuhku ini, semakin melar ke mana-mana," ucap Sonia sambil terkekeh-kekeh.


"Jangan bercanda, ayo lebih baik kita masuk saja karena sepertinya Agna sudah merindukan Auntynya," kata Ranum yang kemudian mengajak Sonia masuk. "Dan biarkan saja Bagas di disini menemani Mas Al yang sedang duduk santai," lanjut Ranum.


"Oke lah, kalau begitu kuy kita masuk saja." Sonia lalu terlihat masuk dan di belakang wanita hamil itu ada Ranum yang mengikutinya. Sambil terus bercanda gurau dua wanita itu terus saja melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Karena saat ini mereka mau menemui Agna.


Sedangkan Bagas yang melihat Ranum dan Sonia sudah masuk, laki-laki itu dengan cepat duduk di sebelah Al sambil berkata, "Tuan, tidakkah Anda kasihan, sekarang Tuan besar sudah menjadi gelandangan."


"Sudah terlalu banyak hati yang dia sakiti Bagas, jadi aku rasa ini salah satu karma yang diterima. Atas perbuatannya itu, oleh karena itu jangan sebut-sebut dia lagi di hadapanku, apalagi di hadapan Mama dan Ranum nanti," sambung Al memperingati Bagas.


"Tuan dia selalu mencari Anda ke rumah itu setiap hari, hanya untuk meminta ma–"


"Cukup Bagas! Jangan membuat suasana hatiku menjadi berantakan. Karena hidup tanpa dia aku dan Mama baik-baik saja," potong Al cepat, karena dia tidak mau mendengar cerita Bagas tentang Daniel terlalu banyak lagi. "Sekarang kita bahas masalah rumah itu saja," kata Al sambil menunjuk rumah di sebelahnya. "Bagaimana apa kamu mau tinggal di sana?" tanya Al yang ingin mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Berapa harganya?" Bukannya menjawab Bagas malah menanyakan berapa harga rumah yang akan ia dan Sonia tempati itu. "Tuan Al, berapa harga rumah itu?"


"Kamu tidak perlu memikirkan harganya Bagas, karena aku sudah membelinya untukmu dan Sonia. Hitung-hidung hadiah pernikahanmu dariku dan juga Ranum," jawab Al.


"Tuan saya merasa tidak enak hati, biarkan saya mengganti uang Anda," ucap Bagas yang merasa tidak enak dengan tuannya itu.


Al menatap Bagas. "Jangan coba-coba Bagas, karena ini aku memberikannya secara sukarela bukan dipaksa oleh siapapun," balas Al menimpali. "Besok pagi kamu dan Sonia bisa langsung pindah kesini, karena sore nanti mereka akan mengosongkan rumah itu," ujar Al.


"Tuan apa ini tidak terlalu berlebihan?"


"Kamu saja yang berpikiran begitu Bagas, kalau aku berpikiran ini biasa saja dan sering terjadi pada atasan dan bawahan." Setelah mengatakan itu Al mengangkat cangkir teh yang tadi di buatkan oleh Ranum. "Segera beritahu Sonia, supaya dia senang," sambung Al.


Bagas tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Al benar-benar akan memberikannya sebuah rumah. "Saya harus berterima kasih dengan cara apa Tuan? Karena kebaikan Anda ini."


"Kamu cukup memerimanya saja dengan sepenuh hati, segenap jiwa dan raga maka itu cara berterima kasih yang sesungguhnya, Bagas dan aku juga minta berhenti membahas pria paruh baya itu, karena itu sangat membuang-buang waktuku saja."

__ADS_1


__ADS_2