Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Kabar Kurang menyenangkan


__ADS_3

Ranum langsung saja berhambur ke dalam pelukan sang suami, wanita itu juga sama sekali tidak peduli dengan Bagas yang saat ini sedang berdiri di sebelah Al. Yang terpenting bagi Ranum, ia bisa memeluk sang suami di saat hatinya beberapa jam yang lalu sempat dibuat gelisah oleh kalimat-kalimat Bagas, yang memberitahu ibunya Agna itu tentang Al yang ter tem bak. Nanum, sekarang Ranum merasa lega setelah melihat Al yang baik-baik saja. Andai saja lengan laki-laki itu dibalut oleh perban dan wajah Al terlihat pucat membuat Ranum benar-benar merasa kasihan serta bercampur menjadi rasa khawatir.


"A-aku, a-aku ...."


"Jangan katakan apapun, menangislah sesukamu," ucap Al sambil membalas pelukan Ranum, karena Al tahu kalau sang istri sedang mencemaskan dirinya.


"Mas, katakan apa yang telah terjadi, sehingga Mas bisa ter tem bak seperti ini?" tanya Ranum yang malah semakin erat memeluk sang suami. Karena Ranum sepertinya mulai merasakan apa yang dirasakan oleh sang suami. Yaitu benih-benih cinta sudah hadir di dalam hati mereka masing-masing. Sehingga mereka sama-sama saling merasakan kalau mereka takut kehilangan satu sama lain. Apalagi sekarang kedua pasangan suami istri itu sudah saling terbuka seperti sekarang ini.


Al menghela nafas dan ia langsung saja menceritakan semuanya pada sang istri, sebab laki-laki itu merasa kalau Ranum harus tahu kenapa ia bisa sampai ter tem bak. Supaya Ranum tidak salah paham dengan dirinya, dan Al juga menceritakan tentang Morea dan Robert yang sudah tidak ada di muka bumi ini. Alias mantan istri dan mertuanya sekaligus musuhnya itu telah meninggal dunia. Al menceritakan itu semua tanpa ada yang terlewat sedikitpun, mengingat sang istri lebih cepat paham dengan cerita yang diceritakan secara detail. Membuat Al melakukan itu semua tanpa di minta oleh Ranum.


"Kita harus mengantarkan mereka ke tempat pemakaman terakhirnya," ujar Ranum yang kaget bukan main saat mendengar penuturan sang suami.


"Tidak Ranum, kita tidak akan pergi," tolak Al yang tidak mau datang ke acara pemakaman dua manusia yang ma ti secara tragis itu. "Cukup kita maafkan saja mereka, untuk hadir di acara pemakannya. Maaf aku tidak bisa, Ranum," ucap Al yang benar-benar tidak mau hadir di acara pemakaman.


"Mas, sudah cukup, jika Mas ingin semuanya berakhir maka kita harus benar-benar memaafkan mereka dengan cara mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan terakhir mereka. Dengan cara begitu, baru kita bisa disebut dengan memaafkan mereka dengan hati yang lapang dada."


"Huh, baiklah, kita akan pergi," timpal Al. "Dan jangan menatapku seperti itu, karena aku merasa getaran di hatiku ini ingin membuatmu mengandung adik untuk Agna," celetuk Al di tengah-tengah percakapan serius mereka. Membuat Ranum mencubit pinggang Al pelan. "Akhh, sakit ...," ringis Al yang berpura-pura kesakitan. "Lenganku sakit, akhhhh ...."


"Aku mencubit pinggang Mas, lalu kenapa yang sakit malah di tempat yang berbeda?"


"Hem, hem ... apa pelukan teletabisnya sudah berakhir?" tanya Bagas yang dari tadi merasa menjadi obat nyamuk di sana.


Mendengar itu Ranum spontan melepaskan pelukannya dari tubuh sang suami. "Maaf Bagas, aku sampai lupa kalau ada kamu."


"Jadi, dari tadi aku berperan sebagai makhluk yang tak kasat mata, begitu?"


"Sonia ada di rumah sakit, sana jemput dia," ujar Al tiba-tiba yang malah menyuruh Bagas menjemput wanita hamil itu. "Sana pergi, nanti Sonia ngambek," sambung Al.

__ADS_1


Bagas kemudian membungkuk hormat. "Baiklah, saya akan pergi, dan bila perlu sini Nona muda Agna saya bawa. Biar Tuan dan Nyonya bisa membuat adik untuk Nona muda tanpa ada halangan," seloroh Bagas.


"Sana pergi Bagas! Enak saja mau bawa Agana," gerutu Al membalas kalimat Bagas. "Mentang-mentang sudah menikah, isi kepalamu sekarang malah menjadi me sum!" desis Al. .


"Saya pergi dulu Tuan!" seru Bagas sambil berlari keluar.


***


Sore menjelang, Ranum dan Al sudah akan bersiap-siap pergi ke acara pemakaman. Namun, kabar tidak menyenangkan malah datang lagi dari rumah sakit membuat pasangan suami istri itu bergegas langsung saja ke rumah sakit dan menunda untuk pergi ke pemakaman.


"Mas, kita harus melihat keadaan papa, karena firasatku tidak enak," kata Ranum saat ia dan sang suami masuk ke dalam mobil. "Mas aku mohon, kali ini jika papa minta maaf maka maafkan lah papa. Karena aku tidak mau melihat Mas nanti malah menyesal."


"Aku akan mencoba untuk memaafkannya Ranum, meski rasa kecewaku padanya masih belum memudar hingga detik ini." Al lalu terlihat memutar kunci mobilnya dan detik berikutnya suara deru mobil sport berwarna silver itu mulai terdengar dan meninggalkan halaman rumah yang cukup untuk parkir dua mobil saja.


*


Di tengah-tengah perjalanan Agna, bayi 8 bulan yang biasanya selalu enteng di bawa kemana-mana itu sekarang terlihat mulai rewel dan terus saja menangis di dalam mobil membuat Ranum dan Al berpikir kalau Agna sedang tidak enak badan.


"Coba sini, aku akan mencoba menyentuh dahinya," ucap Al yang terlihat menyentuh dahi putrinya. "Kamu benar Ranum, Agna tidak anget, tapi kenapa dia malah rewel terus?"


Ranum menggeleng tanda wanita itu juga tidak tahu. "Apa ini karena keadaan papa yang di rumah sakit sedang memburuk?" Ranum malah bertanya balik pada sang suami.


"Entahlah Ranum, aku juga tidak tahu," jawab Al, yang sebenarnya juga merasa gelisah saat laki-laki itu mendapat kabar jika Daniel sang ayah akan di operasi karena luka di pa ha pria paruh baya itu membusuk. Sehingga membuat para dokter memutuskan untuk me nga pu tasi kaki Daniel. Sebab jika itu tidak dilakukan maka pembusukan pada pa ha Daniel akan semakin parah. Membuat Al merasa kalau ini adalah balasan atas perbuatan yang dilakukan oleh sang ayah.


"Kalau begitu kita doakan saja yang terbaik untuk papa, Mas. Karena untuk saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan," kata Ranum sambil mencoba menenangkan Agna. "Aku harap Mas bisa sabar ya, dalam menghadapi ujian seperti ini."


"Selama kamu berada di sisiku, maka aku akan selalu sabar," balas Al menimpali sang istri.

__ADS_1


***


30 menit dalam perjalanan akhirnya Ranum dan Al tiba juga di rumah sakit. Dan mereka bisa melihat dengan jelas kalau saat ini Anggun sedang menangis dan di tenangkan oleh Flora.


"Ma," panggil Al sambil mengambil posisi berdiri di belakang sang ibu.


"Al, Papa kamu 'Nak," ucap Anggun dengan suara yang serak. Karena wanita paruh baya itu tidak pernah membayangkan kalau sang suami akan mengalami kejadian seperti ini. Dimana sang suami akan di apu ta si membuat Anggun merasa tidak rela. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah karena wanita paruh baya itu sangat berharap sang suami tetap bertahan untuk hidup.


"Ini sudah menjadi takdirnya, maka Mama harus menerima ini semua." Al mengelus pundak sang ibu. "Mama harus sabar, karena Tuhan sedang menguji kesabaran Mama," ucap Al.


Sedangkan Ranum masih saja berusaha menenangkan Agna, sebelum Flora datang menghampirinya. Karena suster itu ingin mencoba menenangkan bayi 8 bulan itu.


"Nyonya, sini biar saya yang menggendong Nona muda," kata Flora sambil mengulurkan tangan ingin menggendong Angna. "Hei dedek Agna sayang, sini sama suster Flo, kita jalan-jalan ke taman kecil itu ya," kata Flora yang kemudian mengambil Agna dari gendongngan Ranum. "Cup, cup, jangan nangis ya nanti kalau dedek Agna nangis terus suster Flo tidak jadi mau menggendong dedek," ujar Flora yang terlihat mulai membawa Agna menjauh dari Ranum.


"Kalau masih menangis, bawa saja Agna kembali Suster Flo!" seru Ranum memberitahu Flora. Dan pada saat itu juga Ranum terlihat mulai mendekati Anggun setelah tadi melihat Flora membalas kalimatnya tadi dengan anggukan kecil.


"Temani Mama di sini dulu, karena aku mau mengurus sesuatu," ucap Al saat ia melihat sang istri mulai mendekat. "Sebentar saja, tidak apa-apa 'kan?"


"Iya Mas, aku akan menemani mama disini dan sekarang Mas pergi saja." Ranum menjawab sang suami. "Sekalian Mas, belikan mama makanan, kalau Mas kembali karena sepertinya mama tidak pernah makan siang. Dan sekarang ini sudah sore," kata Ranum yang begitu perhatian dengan mertuanya itu. Karena ia baru mengingat kalau kata Sonia Anggun tidak mau makan. Oleh sebab itu, Ranum menyuruh Al untuk membeli makanan.


"Mama tidak lapar," sahut Anggun tiba-tiba.


"Ma, jika Mama tidak mau makan Mama akan ikut-ikutan sakit. Ayolah Ma, jangan begini," ujar Al sebelum laki-laki itu pergi. Karena ada suatu hal yang akan di urus oleh Al sehingga membuat ayahnya Agna itu harus cepat-cepat pergi dari sana.


"Ma, apa yang di katakan oleh Mas Al tadi benar. Jika mama tidak mau makan maka mama bisa saja sakit."


Anggun bukannya membalas kalimat sang menantu, wanita paruh baya itu malah menangis. Karena pikirannya terus saja tertuju pada Daniel. Meskipun pria paruh baya itu pernah melukai hatinya namun Anggun tidak mempermasalahkan itu semua, saking besar rasa cintanya pada sang suami.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2