Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 94


__ADS_3

Saat Al merasa suasana hatinya sudah lebih baik, laki-laki itu langsung saja menuju ke ruang rawat inap Ranum setelah tadi ia sempat melihat keadaan Anggun yang terbujur kaku dengan berbagai alat terpasang di tubuh wanita paruh baya itu. Yang ternyata benar-benar koma karena mengalami benturan yang keras di bagian kepala.


Beberapa saat ketika Al sudah sampai di ruangan Ranum ia melihat Bagas dan Sonia juga sudah ada di dalam ruangan itu.


"Tuan, lihat putri Anda dia benar-benar mirip sekali dengan Anda," kata Bagas sambil melihat bayi perempuan mungil itu yang ada di dalam inkubator. "Kira-kira siapa nama Nona muda ini Tuan? Apa Anda sudah menyiapkannya nama?" tanya Bagas dengan sangat antusias. Karena laki-laki itu baru kali ini bisa melihat bayi yang baru lahir dengan jarak sedekat ini.


"Ranum juga pasti ingin memberi nama putri mereka," bisik Sonia di telinga Bagas. Tapi Al dan Ranum mendengarnya.


"Aku serahkan semuanya kepada Tuan Al saja, karena aku merasa Tuan Al lebih berhak memberikan nama untuk bayi kami," ucap Ranum tiba-tiba sambil melirik Al. "Bagaimana Tuan? Siapa nama gadis kecil ini?" Sekarang giliran Ranum yang bertanya kepada Al.


Al mendekati inkubator itu, dimana putri kecilnya sedang terlelap. "Agna Yumna Ezza," jawab Al tanpa menatap Ranum sebab tatapan mata laki-laki itu sedang fokus pada bayi merah yang tadi ia beri nama Agna Yumna Ezza. "Apa menurut kalian nama itu cocok?"


"Agna Yumna Ezza, nama yang sangat cocok untuk Nona muda, Tuan," sahut Bagas dengan wajah yang bahagia, karena ia senang sang pewaris sudah lahir. "Agna atau Yumna, mana nama panggilan yang akan Anda gunakan untuk memanggil Nona muda ini, Tuan?"


Meski suasana hati Al sedang dongkol tapi laki-laki itu merasa tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Oleh sebab itu, ia menjawab dengan tenang. "Biar ibunya saja yang akan menentukan nama panggilan untuk bayi perempuan yang sangat cantik ini."


"Tuh, kamu diminta untuk memberikan nama panggilan," ucap Sonia menyentuh punggung tangan Ranum.


Ranum yang mendengar itu langsung berkata, "Agna saja Tuan, karena nama panggilan itu sangat cocok dengannya."

__ADS_1


"Baiklah Agna, nama panggilan untuk bayi yang masih merah ini. Dan kamu Bagas cepat urus akte kelahirannya, ini tugas baru untukmu." Al menatap Bagas ketika ia mengatakan itu.


"Sepulang dari sini, saya akan segera mengurusnya Tuan, jadi Anda tenang saja," balas Bagas menimpali. "Tuan, saya mau menggendong Nona muda Agna, apa boleh?"


Al langsung menggeleng. "Agna lahir prematur Bagas. Jadi, kita tidak bisa menggendongnya. Sebab paru-parunya belum cukup sempurna untuk menghirup udara bebas seperti bayi yang lahir dengan normal pada umumnya. Sehingga untuk saat ini Agna hanya bisa ada di dalam inkubator saja. Sampai waktu yang tidak bisa ditentukan." Setelah mengatakan itu Al berbalik ingin keluar dari ruangan itu. "Biarkan Sonia di sini, karena kita hari ini ada pekerjaan mendadak, yang harus kita selesaikan dengan segera," kata Al pelan.


"Baik Tuan," sahut Bagas yang sepertinya sudah tahu apa yang di maksud oleh Al yang mengatakan mereka harus melakukan pekerjaan yang mendadak, oleh sebab itu Bagas tidak perlu bertanya tentang hal itu.


***


"Sonia, apa boleh aku minta tolong?"


"Bukan itu Sonia, aku ingin minta tolong kalau aku ingin melihat keadaan mama. Sekarang apa kamu bisa membawaku ke ruangannya?" Ranum menatap Sonia dengan penuh harap. Karena saat ini Ranum benar-benar ingin melihat keadaan Anggun.


"Kita tidak bisa pergi sekarang, karena Bagas sudah berpesan kepadaku untuk tidak membiarkan Agna sendirian di dalam ruangan ini," kata Sonia menjawab Ranum. "Kita tunggu saja mereka, yang sebentar lagi pasti akan datang. Dan setelah itu aku akan menemanimu untuk pergi ke ruangan Tante Anggun. Apa kamu setuju?"


"Aku setuju, karena aku juga merasa tidak enak hati meninggalkan Agna di sini sendirian. Mengingat Mbak Morea pasti saat ini mengincar bayiku ini." Ranum rupanya juga masih selalu waspada dengan Morea, wanita yang pernah mengancamnya dua bulan yang lalu.


"Nah, maka dari itu. Kita tunggu Bagas dan Tuan Al dulu." Sonia kembali mengambil gambar bayi yang masih merah itu. Sambil berkata, "Ngomong-ngomong kenapa sikap Tuan Al menjadi dingin lagi? Sejak keluar dari ruang operasi beberapa jam yang lalu. Apa kamu salah ngomong sama dia?"

__ADS_1


"Aku tidak ingat apapun Sonia, karena setelah aku masuk ruang operasi aku di bius total," jawab Ranum dengan bersungguh-sungguh. "Jadi, aku tidak tahu, kalau aku sudah salah ngomong atau tidak," lanjut Ranum yang benar-benar tidak mengingat apapun yang dia ucapkan setelah di bius total waktu akan melakukan operasi sesar.


"Sepertinya aku harus menanyakan ini kepada Bagas," celetus Sonia yang mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Tidak seperti biasanya Tuan Al seperti ini."


"Ini hanya perasaanmu saja Sonia, mungkin Tuan Al bersikap dingin karena mendapat musibah, mama yang mengalami kecelakaan dan sekarang kondisinya dalam keadaan koma." Ranum berusaha berpikir positif.


***


Di perjalanan menuju ke rumah sakit Bagas tidak henti-hentinya mengingatkan Al untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan tentang apapun itu.


"Tuan, pikirkan Nona muda Agna, bagaimana bisa Anda berpikiran tentang berpisah dengan Ranum. Tidakkah Anda memikirkan hal apa yang akan berdampak kepada Nona muda Agna?"


"Sudah kukatakan Bagas, aku tidak bisa bertahan dengan gadis yang mengharapkan laki-laki lain." Saat ini pikiran Al sudah di bantai habis-habisan oleh kenyataan pahit yang ia dengar dari mulut gadis tempatnya mulai menaruh sedikit rasa itu. "Aku yakin bahwa aku bisa hidup berdua dengan Agna, sampai akhir hayatku Bagas. Dan untuk ibunya terserah aku tidak ingin ikut campur."


"Nona muda Agna harus tumbuh besar dengan kasih sayang kedua orang tuanya, Tuan. Jika Anda ingin melihatnya tumbuh besar menjadi gadis yang penyayang dan penyabar bukan pemarah," ucap Bagas memberikan Al sedikit gambaran tentang kehidupan.


"Semua bisa diatur jika ada uang Bagas, kamu pasti sudah mengerti apa maksudku ini," balas Al yang tidak mau mengalah.


"Tuan, saya mohon ... jangan berpikiran semua bisa di selesaikan dengan uang." Bagas terlihat menghela nafas. "Ranum adalah satu wanita di dunia ini yang sengaja di kirimkan untuk Anda. Meskipun cara pertemuan Anda dengannya sangat salah, tapi percayalah ini adalah salah satu rencana Sang pemilik alam semesta ini."

__ADS_1


"Jangan membuat kepalaku semakin pusing saja Bagas, kamu lebih baik tinggal urus semuanya. Tanpa banyak bicara," kata Al yang menoleh ke samping.


__ADS_2