Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 105


__ADS_3

Setelah melihat anak dan ayah itu pergi Ranum langsung merasa bisa bernafas dengan lega, karena apa yang telah diajarkan tadi oleh Bagas berjalan dengan lancar sehingga. Ia sendiri merasa heran pada dirinya sendiri, sebab ia bisa seberani itu kepada Nino dan Safna.


"Maaf 'kan aku Tuan Al, karena tadi aku berbicara seperti itu kepada mereka," kata Ranum yang tiba-tiba saja merasa tidak enak dengan Al. "Aku benar-benar minta maaf Tuan," sambung Ranum.


"Tidak masalah, aku justru berterima kasih padamu, karena kamu sudah mampu membuat mereka pergi dari sini," balas Al menimpali Ranum. "Sebagai tanda terima kasihku, maka aku akan mengajakmu nanti malam untuk jalan-jalan, apa kamu mau?" Al merasa ia harus mengajak Ranum untuk jalan-jalan nanti malam, karena sejak mereka Al tidak pernah mengajak sang istri untuk sekedar jalan-jalan ataupun diner. "Bagaimana apa kamu setuju?"


Ranum terdiam karena ia heran sebab baru kali ini Al mengajaknya jalan-jalan. Sehingga wanita itu tidak tahu harus menjawab iya atau tidak.


"Iya sudah, jika kamu tidak mau tidak apa-apa, nanti aku akan membelikanmu kalung berlian. Sebagai tanda terima kasihku padamu," ucap Al yang melihat Ranum diam saja. Tapi tidak lama Ranum malah mengangguk dan membuka suara.


"Aku mau di ajak jalan-jalan Tuan, nanti Agna kita titipkan pada suster Flora."


Senyum Al mengembang. "Baiklah, tapi aku minta jangan panggil aku tuan, panggil saja aku mas, seperti yang kamu katakan di rumah dan tadi itu."


"Mas Al," kata Ranum dengan malu-malu saat memanggil Al dengan sebutan mas. Sungguh saat ini ia merasa sedikit aneh sebab wanita itu belum terbiasa. Memanggil sang suami dengan sebutan mas.


"Nah, itu lebih bagus kedengarannya. Sekarang pulanglah karena Agna pasti mau ne nen," ujar Al yang menyuruh Ranum pulang. "Nanti malam kamu bersiap-siaplah, karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan juga," lanjut Al.


Sehingga membuat Ranum menatap sang suami, dan langsung saja bertanya, "Masalah apa?"

__ADS_1


"Nanti malam aku akan memberitahumu, untuk sekarang kamu pulang saja dulu. Karena Agna mencari Bundanya," jawab Al sambil tersenyum, karena laki-laki itu merasa sangat bahagia hanya karena kalimat-kalimat Ranum yang telah wanita itu ucapkan beberapa detik yang lalu. "Bagas, yang akan mengantarkanmu, dia sudah menunggumu di luar," sambung Al.


"Baik Tua ... maksudku baik Mas, kalau begitu aku pulang dulu," pamit Ranum. Dengan wajah yang juga bersemu merah, karena wanita itu benar-benar merasa sangat malu dengan dirinya sendiri hanya karena ia memanggil Al dengan sebutan mas.


"Titip salam rindu buat Agna, katakan padanya kalau Ayahnya sangat merindukannya," celetus Al sebelum Ranum benar-benar pergi dari sana.


"Ba-baik Mas, akan aku sampaikan salam rindumu untuk putri kecil kita," sahut Ranum dan saat itu juga wanita itu menghilang dari balik pintu.


Senyum Al langsung mengembang, di saat laki-laki itu merasakan getaran aneh yang telah lama hilang, kini getaran itu malah datang kembali. "Apa aku telah jatuh cinta padanya? Dan kalau itu benar terjadi, apa yang harus aku lakukan? Di saat dia telah mencintai laki-laki lain." Al saat ini sedang dilanda kegelisahan. "Apa aku harus berterus terang saja? Atau aku harus mencintainya dalam diam?" Al tiba-tiba saja mengacak-ngacak rambutnya sendiri. "Akhh, apa yang harus aku lakukan? Di saat rasa cinta itu tumbuh di dalam hatiku, tapi kenapa dia harus mencintai orang lain?"


"Katakan saja yang sejujurnya Tuan, kalau Anda mencintai Ranum," ucap Bagas yang tiba-tiba saja masuk. Membuat Al tersentak lalu menoleh ke belakang. Di nama Bagas sedang memandangnya. "Anda harus mengungkapkan perasaan Anda secepatnya Tuan, karena saya rasa Ranum juga memiliki rasa yang sama seperti Anda," sambung Bagas.


"Sejak Anda bertanya-tanya pada diri Anda sendiri Tuan, tentang perasaan Anda pada Ranum," jawab Bagas sambil berusaha menahan suara tawanya yang hampir meledak, sebab ia merasa lucu melihat ekspresi kaget tuanya itu.


"Jadi kamu mendengar semuanya?" tanya Al sekali lagi.


"Iya, Tuan saya mendengar semuanya." Bagas menjawab dengan santai.


"Kurasa kamu harus menutup mulutmu Bagas, jika kamu sudah tahu semua ini."

__ADS_1


"Anda tenang saja Tuan, rahasia Anda aman. Tapi alangkah baiknya kalau Anda mengungkapkannya sekarang saja, daripada Anda terlambat," kata Bagas memperingatkan tuannya itu.


"Tunggu waktu yang tepat, dan aku akan langsung mengunggapkan rasa di dalam hatiku ini," balas Al.


"Seseorang berkata, lebih cepat lebih baik."


***


Di tempat lain Bianca terus saja menahan dua polisi yang akan membawa sang ibu untuk pergi. "Saya mohon, jangan bawa Mama saya. Mama saya tidak bersalah," kata gadis itu dengan air mata yang sudah bercucuran dari tadi. "Saya mohon, jangan tangkap Mama saya dengan alasan yang tidak masuk akal itu."


"Maaf Nona, kami hanya menjalankan perintah saja," sahut salah satu polisi itu sambil berusaha melepaskan tangan Bianca dari Angel. "Nyonya Angel harus menjalani beberapa pemeriksaan, berkaitan dengan masalah kecelakaan almarhum Pak Rudy, dan meninggalnya Aish, balita yang baru saja berusia sekitar 3 tahun itu."


"Saya tidak merasa bersalah, tapi kenapa kalian malah menganggap saya?" Angel terlihat memberontak karena ia tidak mau dibawa pergi ke kantor polisi. "Kalian ini polisi macam apa, yang tidak memiliki bukti apa-apa, tapi kalian malah ingin menganggap saya!" geram Angel yang terus saja memberontak.


"Nanti Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi daja Nyonya, sebab kami berdua hanya menjalankan perintah saja dari atasan kami," kata salah satu polisi itu yang tidak mau kalah. "Sebaiknya Anda ikuti saja kami, ke kantor polisi supaya kasus ini cepat selesai."


"Iya Nyonya, mari ikut kami dengan cara baik-baik agar Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi," sahut salah satu polisi itu.


Bianca yang tidak terima sang ibu akan dibawa, ia dengan cepat menunjukkan rekaman cctv kepada dua polisi itu. "Pak polisi bisa lihat sendiri dengan jelas kalau balita itu jatuh sendiri dari atas tangga, tapi kenapa kalian malah menyalahkan Mama saya? Ini semua tidak benar!" pekik Bianca. "Dan untuk mantan ayah tiri saya Pak Rudy, itu bukan perbuatan Mama saya juga laki-laki itu kecelakaan karena dia yang menyetir dalam keadaan mabuk! Jadi berhenti menyalahkan Mama saya!" Suara gadis itu menjadi serak. "Kenapa setelah lama mereka meninggal, baru sekarang ada yang melaporkan tentang kasus ini? Selama ini kemana saja pahlawan kesiangan itu?"

__ADS_1


"Nyonya Angel harus ikut, dan kami rasa kami tidak perlu menjelaskannya pada Nona," jawab polisi itu.


__ADS_2