Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 71


__ADS_3

"Di tanya apa saja sama Tuan besar?" tanya Sonia ketika ia dan Ranum seperti biasa akan berangkat sekolah bersama pagi-pagi begini menggunakan mobil yang Al belikan untuk Ranum tapi selalu di bawa oleh Sonia sebab Ranum sampai sekarang tidak bisa mengemudi.


"Bukankah kamu sudah dengar sendiri rekaman yang Bagas berikan tadi malam? Lalu kenapa sekarang kamu malah bertanya lagi seperti ini?" Ranum yang menatap ke luar jendela bertanya balik kepada gadis yang telah menjadi sahabatnya itu sejak ia dan Al menikah.


"Aku hanya ingin mendengar jawaban dari mulutmu, Ranum. Karena sepertinya bertanya langsung kepadamu lebih menyenangkan." Sonia memang gadis yang benar-benar cerewet. Tapi untung saja Ranum gadis yang sangat sabar sehingga Sonia tidak pernah di semprot oleh kata-kata pedas. "Ngomong-ngomong, kalau aku menikah sama Bagas, bakal cepat punya anak nggak ya? Seperti kamu ini." Sonia menunjuk perut Ranum menggunakan kedua mata dengan menaik-turunkan alisnya.


"Aku tidak tahu Sonia, jangan menanyakan aku tentang hal yang bukan-bukan." Ranum kali ini melirik Sonia. "Pertanyaanmu setiap hari selalu aneh-aneh saja," gumam Ranum.


"Aku hanya heran saja Num, Tuan Al bisa membuatmu hamil hanya dengan satu malam. Lah gimana dengan orang-orang yang sudah lama menikah tapi tidak kunjung hamil juga. Aku menjadi bingung." Sonia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku takut nanti kalau aku tidak bisa hamil maka Bagas akan mencari pengganti untukku." Sonia menatap lurus kedepan saat ia mengatakan itu semua.


"Orang yang sudah lama menikah dan tidak kunjung memiliki anak, itu bukan berarti mereka harus menyerah dan berputus asa, tapi mungkin dengan cara begitu Tuhan menguji kesabaran mereka dalam berumah tangga. Dan kamu tidak usah takut kalau Bagas mencari penggantimu, karena mungkin saja Tuhan telah menyediakan kamu dua stok jodoh."


"Tidak, boleh! Aku selalu berdoa kepada Tuhan mengatakan, kalau Bagas bukan jodohku maka jodohkanlah kami, karena kami sudah melakukan dosa," seloroh Sonia yang membuat Ranum menjadi salah paham.


"Dosa apa?"


"Aku pacaran sama Bagas 'kan bisa jadi dosa, jadi itu salah satu dosa yang aku lakukan dengan Bagas. Memang ya, pemikiran orang yang sudah menikah itu otaknya sebagaian penduduk bumi ini selalu m*sum," jawab Sonia mendesis.

__ADS_1


Ranum tidak membalas lagi jawaban Sonia, karena ia pikir berbicara begini dengan Sonia hanya akan membuatnya banyak-banyak menghela nafas dan mengelus d*da.


"Apa kamu pernah melihat Bagad dekat-dekat dengan wanita lain?" Sekarang Sonia sudah mengganti topik pembicaraan. Dari yang hamil hingga ke Bagas yang mulai ia curigai.


"Tanya sama Bagas, Sonia. Karena aku tidak tahu," jawab Ranum pelan.


***


Ketika Ranum akan berjalan masuk ke dalam kelas tiba-tiba saja Bianca menarik tangannya untuk segera masuk ke dalam toilet karena kebetulan kelas mereka berdekatan dengan toilet.


"Kak Bianca, ada apa?" tanya Ranum lembut seperti biasanya.


Ranum yang mendengar itu meraih tangan Bianca. "Katakan kalau ini semua hanya akal-akalan kakak saja, tidak mungkin ayah …." Ranum tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.


"Aku sudah baik memberitahumu tentang hal ini, Ranum!" bentak Bianca yang kemudian menghempaskan tangan Ranum dengan kasar. "Pergi, dan usahakan bawa ayahmu itu pergi jauh dari kehidupan Mamaku karena, kami sudah tidak membutuhkannya lagi!" Bianca tanpa perasaan langsung mendorong gadis yang sedang hamil itu ke dinding tembok. "Ternyata, ayahmu hanya menjadi beban bagi kami! Cih, kalau tahu begini aku tidak akan sudi membiarkan Mamaku menikah dengan laki-laki miskin dan begitu kere!" Setelah mengatakan Bianca langsung pergi begitu saja membiarkan Ranum sendiri yang sudah berderai air mata.


"Ayah, aku harus segera kesana. Aku tidak peduli Tuan Al marah, itu nanti urusan belakangan yang terpenting aku harus bisa melihat keadaan Ayah saat ini," gumam Ranum di dalam benaknya. Ia lalu terlihat mengusap air mata dan segera keluar dari kamar mandi itu. Tujuannya saat ini ia harus pergi ke rumah ibu tirinya itu. "Pokoknya, aku harus tetap pergi, karena Ayahku saat ini pasti sedang membutuhkan pertolonganku," lanjut Ranum membatin.

__ADS_1


Akan tetapi tanpa Ranum sadari Ryder rupanya mendengar semua percakapannya tadi dengan Bianca sehingga laki-laki itu mengikuti Ranum dari belang.


*


"Ya Tuhan, kenapa tidak ada satupun angkot maupun ojek yang mau mengantarku." Ranum terlihat sudah mulai berputus asa dan ia juga mulai terasa sangat capek dikarenakan gadis yang hamil lima bulan itu sudah berjalan terlalu jauh. "Tuhan, kirimkan aku salah satu hamba-Mu untuk menjadi malaikat penolong di tengah-tengah rasa kegelisahan hati ku saat ini." Setelah Ranum berdoa mengatakan itu, suara klakson membuat gadis yang sedang duduk di trotoar itu mendongak dan ia bisa melihat Ryder tersenyum manis kepada dirinya.


"Masuklah, biar aku yang mengantarmu," kata Ryder tiba-tiba.


Ranum terdiam sejenak sebelum berdiri lalu ia berkata, "Tidak usah Ry, kamu pergi saja ke sekolah nanti kamu bisa telat."


Bukannya pergi Ryder malah turun dan segera membuka pintu mobil itu untuk Ranum. "Masukkah, dan jangan paksakan kaki kamu untuk berjalan terus kasihan, nanti jadi lecet." Ry terlihat meraih tangan Ranum. "Kelamaan, ayo masuk." Laki-laki itu dengan lincahnya membawa Ranum masuk ke dalam mobil.


"Ry, aku bilang tidak usah." Ranum berniat ingin keluar lagi dari dalam mobil itu akan tetapi Ryder menahan tangan gadis itu.


"Ayahmu sedang menunggu kedatangan putrinya, maka jangan menolakku untuk mengantarmu, Ranum," ucap Ryder.


Ranum yang mendengar itu berusaha untuk menebak-nebak. "Apa kamu mendengar percakapanku dengan Bia–" Belum selesai kalimat Ranum Ryder sudah terlebih dahulu memotongnya.

__ADS_1


"Iya, aku mendengar semuanya. Jadi, tidak ada lagi yang perlu kamu sembunyikan dariku." Sesaat setelah mengatakan itu Ryder menginjak pedal gas. Dan terlihatlah mobil berwarna hitam bercorak merah itu membelah jalan raya yang saat ini sangat ramai.


Jangan tanya bagaimana perasaan laki-laki itu sekarang, ketika ia berduaan di dalam mobil dengan Ranum. Yang pasti suasana hati Ryder sangat bahagia karena ia merasa bisa berdekatan dengan Ranum berlama-lama meskipun mereka hanya duduk saja.


__ADS_2