
Anggun kali ini benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan semua ini ditambah Agna yang terus menerus menangis. "Ini semua ada yang tidak beres Suster Flo, karena Ranum sampai sekarang belum juga menghubungiku, di tambah nomornya juga ikut-ikutan tidak aktif," kata Anggun yang rasanya jika ia tidak lumpuh seperti sekarang. Ia mungkin sudah pergi mencari anak dan menantunya itu. Tatkala suasana hatinya makin tidak karuan sejak nomor menantunya juga tidak bisa dihubungi. "Andai saja Bagas ada di sini, mungkin saja semua hal seperti ini tidak akan terjadi." Angun tidak henti-hentinya mencoba untuk menghubungi Ranum. Akan tetapi hasilnya sama, nomor ibunya Agna itu sama sekali tidak bisa di hubungi untuk saat ini. "Suster Flo, apa yang harus kita lakukan?"
"Nyonya, Anda tenang dulu, jangan panik berlebihan seperti ini karena mungkin saja Nyonya Ranum dan Tuan Al sedang ada di dalam perjalanan, untuk pulang ke sini," jawab Flora yang berpikiran positif. "Saya yakin mereka pasti akan pulang, dan sekarang lebih baik Anda masuk saja karena cuaca diluar sudah sangat dingin," ucap Flora yang berdiri di ambang pintu sambil terus menggendong Agna. Dan posisi Anggun saat ini ada di depan teras.
"Aku harus menunggu mereka di sini Suster Flo, supaya aku bisa memastikan kalau mereka akan benar-benar pulang." Anggun rupanya tidak mau masuk, wanita paruh baya itu memilih untuk tetap diam saja di sana. "Suster saja yang masuk, karena mungkin saja Agna saat ini rewel karena dia kedinginan," kata Anggun yang saat ini pikiran wanita paruh baya itu tidak bisa dialihkan meskipun suara tangisan Agna semakin melengking. "Sus bawa Agna masuk gih," sambung Anggun.
Flora mengangguk dan akan berbalik. Namun, saat tubuh suster itu akan berputar tiba-tiba saja suara deru mobil yang berhenti di halaman rumah itu, membuat Flora mengurungkan niatnya untuk pergi membawa Agna masuk.
Hingga beberapa detik terlihatlah Al keluar dari dalam mobil mewah itu dengan cara menggendong sang istri. Membuat Anggun dan Flora begitu kaget, karena pasangan suami istri itu terlihat sangat menyedihkan ditambah wajah Al yang terlihat sudah sangat babak belur. Dan Ranum yang sepertinya masih terlihat pingsan di dalam gendongan Al.
"Al! Ranum!" jerit Anggun yang sangat kaget. Karena ia melihat wajah putranya lebam, di tambah pakaian Al begitu kotor dan compang-camping seperti gembel. Membuat Anggun menangis histeris. "Apa yang terjadi dengan kamu dan Ranum, Al?" tanya Anggun, dan andai bisa ia ingin membantu Al untuk saat ini. Karena Al terlihat begitu lemah dan letih.
"Suster Flo, tolong Ranum, dan berikan Agna pada Mama dulu," ucap Al yang malah mengabaikan pertanyaan sang ibu. "Sus, jangan diam saja karena saat ini Ranum sedang butuh pertolongan," ucap Al dengan suara yang terdengar sangat lirih. Karena jujur saja keadaan laki-laki itu saat ini sudah sangat lemah juga. Akan tetapi, karena sang istri sedang pingsan membuat Al harus bisa menguatkan dirinya sendiri. "Sus ...," panggil Al sekali lagi, karena ia hanya melihat Flora hanya diam saja seperti patung. Dan mungkin saja suster itu saat ini sangat shock sama seperti Anggun sehingga membuat Flora hanya bisa diam saja.
__ADS_1
"Suster Flo, bantu Al," ujar Anggun sehingga membuat suster itu dengan gerakan cepat menaruh Agna di pa ha Anggun.
Detik berikutnya Flora terlihat membantu Al untuk meletakkan Ranum di atas sofa. Dan Flora juga dengan cepat mengecek denyut nadi Ranum, karena meskipun Flora hanya seorang suster. Namun, ia tahu saat ini apa yang harus dia lakukan. "Detak jantung Nyonya Ranum sangat lemah Tuan Al," ucap Flora yang juga ikutan tidak kalah paniknya. Membuat tubuh suster itu gemetaran. "Nafasnya juga tidak beraturan, apa Nyonya Ranum terlalu banyak menghirup asap?"
"Iya, Ranum terlalu menghirup asap terlalu banyak," jawab Al yang tidak mau menceritakan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. "Apa yang harus aku lakukan Suster Flo?" Al panik sampai-sampai laki-laki itu lupa dengan keadaanya sendiri untuk saat ini. Di mana laki-laki itu keadaanya semakin lemah.
"Apa tabung oksigen masih ada di gudang?" tanya Flora pada Al.
"Sepertinya masih Suster Flo, tapi mungkin saja isinya tinggal sedikit." Al menjawab dengan suara lirih.
Sehingga membuat Anggun berteriak histeris sehingga Agna bayi tiga bulan itu juga ikutan menangis karena kaget mendengar neneknya yang berteriak. "Al! Anak Mama!" jerit Anggun berteriak. "Siapa yang sudah melakukan ini padamu, Nak? Kenapa mereka begitu jahat dan sangat kejam sekali?" Air mata Anggun mengalir deras bak air yang mengalir di sungai. "Al, bangun Nak! Jangan begini ...," ucap Anggun lirih.
***
__ADS_1
Di tempat lain Daniel seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Bagaimana tidak, laki-laki paruh baya itu begitu puas dengan apa yang telah ia lakukan dengan Al. Namun, di sisi lain Daniel merasa marah karena ia baru mengetahui kalau Morea rupanya hanya menginginkan hartanya saja. Setelah ia pulang ke rumah utama ia malah melihat semua keluarga wanita ular itu berkumpul di rumahnya dan terlihat keluarga itu sedang berpesta kecil-kecilan. Membuat darah laki-laki tua itu seakan-akan mendidih.
"Apa ini semua Morea?!" suara Daniel saat bertanya begitu melengking.
"Ya, seperti apa yang kamu lihat saat ini, dan biarkan surat ini berbicara. Karena aku malas menjelaskan semuanya," jawab Morea sambil melemparkan Daniel surat cerai. "Mulai detik ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, dan semua aset serta harta yang kamu miliki termasuk rumah ini, telah menjadi milikku. Jadi, kamu pergilah dari sini, sebelum kekasih pujaan hatiku mengusirmu secara paksa." Morea bergelayut manja di lengan Remon. "Pa, Ma usir laki-laki tua ini dari hadapanku! Karena aku sudah bosan dan muak berpura-pura baik serta bersandiwara di depannya. Karena apa yang kita mau dan inginkan sudah terwujud."
"Jadi, kamu melakukan ini semua hanya semata-mata karena harta, Morea? Dan apa yang Al katakan itu semuanya benar, begitu maksud kamu?"
Morea terkekeh sambil mendorong koper yang berisi baju-baju Daniel. "Kamu memang bo doh Daniel, sehingga dengan mudahnya kamu masuk ke dalam perangkapku. Dan sekarang enyahlah dari sini! Jangan lupa bawa kopermu!" Morea mengusir Daniel dari rumah laki-laki paruh baya itu sendiri. "Pergilah, karena sekarang kamu sudah tidak punya apa-apa lagi!"
"Morea, bisa-bisanya kamu melakukan ini padaku, setelah apa yang sudah aku lakukan. Aku sudah mem ba kar Al secara hidup-hidup di gudang kantor. Tapi inikah balasanmu?" Daniel terlihat memegang da danya karena tiba-tiba saja ia merasakan sakit di sana. "Morea, jawab aku!"
"Seret dia Sayang, karena aku mau muntah melihat wajah keriputnya itu!" seru Morea yang malah menyuruh Remon menyeret Daniel, supaya laki-laki paruh baya itu keluar dari rumah itu. "Sayang tunggu apa lagi? Sana seret dia."
__ADS_1
...****************...