Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 63


__ADS_3

Cahaya matahari yang masuk dari celah-celah jendela membuat gadis yang sedang terlelap di atas ranjang berukuran king Size itu menggeliat di bawah selimutnya karena kakinya yang diterpa oleh sinar mata hari terasa sangat panas. Mungkin karena sudah terlalu lama matahari yang masuk melalui celah-celah kaca jendela itu memancarkan cahayanya ke arah kaki Ranum.


Tiba-tiba saja tepukan pelan pada pipi Ranum membuat gadis itu langsung bangun dari tidurnya karena ia baru mengingat kalau semalam ia tidur berdua dengan Al. Sehingga ia mengira bahwa yang menepuk pipinya itu adalah sang suami.


"Hai, kenapa bangun kesiangan?"


Ranum membuka matanya lebar-lebar ketika melihat Sonia dan ketika ia mendengar kata Sonia yang kesiangan. "Sonia, kok kamu bisa ada di sini, terus Tuan Al mana?"


"Tuan Al sudah pergi dari 2 jam yang lalu, ketika aku baru saja tiba disini," jawab Sonia sambil menyomot satu buah apel yang ada di atas nakas yang sengaja Al siapkan untuk Ranum tadi sebelum laki-laki itu pergi, yang entah kemana. "Sudah hampir jam delapan, apa kamu tidak berniat mandi dan segera berangkat ke sekolah?"


"Kamu benar." Spontan Ranum merespon Sonia dengan menjawab begitu.


Sonia yang memakan buah apel itu langsung tersedak karena mendengar jawaban Ranum yang terdengar lembut dan terkesan sangat berbeda. "Uhuk, uhuk, uhuk …."


"Minum dulu, makanya pagi-pagi begini jangan asal ambil saja. Mungkin itu punya Tuan Al dan Tuan Al tidak mau buah apelnya dimakan. Oleh sebab itu kamu jadi tersedak begini," ucap Ranim sambil memberikan Sonia segelas air. "Lain kali minta dulu sama yang punya, supaya hal serupa seperti ini tidak terjadi lagi," lanjut Ranum.


"Aku tersedak gara-gara kamu, Ranum. Bukan perkara asal ambil saja," sahut Sonia setelah gadis itu merasa tenggorokannya bebas dari serat-serat apel yang tadi ia makan. "Buruan mandi gih, ini waktu sudah sangat mepet sekali." Sonia memperlihatkan jam di pergelangan tangannya.


"Kayaknya aku akan terlambat," kata Ranum yang mulai turun dari atas ranjang.


"Tidak apa-apa terlambat, yang penting kamu masuk sekolah. Daripada banyak teman-teman sekelasku datangnya pagi-lagi buta sekali eh, malah bolos," gerutu Sonia yang merasa kesal sendiri gara-gara mengingat beberapa temannya yang suka bolos. "Itu kelakuan anak-anak yang tidak pernah memikirkan kerja keras orang tua mereka," sambung Sonia sambil kembali menggigit buah apel itu.

__ADS_1


"Aku mandi dulu kalau begitu." Ranum kini terlihat sedang berjalan akan memasuki kamar mandi.


"Kamu tahu Bagas ada di mana?" pertanyaan Sonia membuat langkah kaki Ranum terhenti. "Aku mengkhawatirkan dia, karena dari semalam nomornya tidak kunjung aktif, tidak seperti biasanya."


"Aku dengar dari Tuan Al tadi malam, kalau Bagas sedang sibuk, mungkin karena itu nomornya tidak aktif," jawab Ranum. Sambil masuk ke dalam kamar mandi. Mengingat ia hari ini benar-benar bangun kesiangan. Oleh sebab itu ia harus cepat-cepat mandi.


"Sesibuk-sibuknya, seorang Bagas, dia tidak pernah sampai lupa menghubungiku," gumam Sonia pelan.


***


"Weh si bunting datang terlambat, habis mojok di hotel mana tadi malam?" tanya Bianca yang melihat Ranum akan masuk ke dalam kelas. Rupanya Ranum dan Bianca satu kelas di sekolah paling elit itu.


"Kak Bianca, biarkan aku masuk." Ranum memilih untuk tidak meladeni kakak tirinya itu. Oleh sebab itu Ranum tidak mau menjawab pertanyaan Bianca yang tadi. "Minggir Kak, karena sebentar lagi Bu Jasmin pasti akan datang." Ketika Ranum mencoba untuk masuk tiba-tiba saja Bianca malah mendorong Ranum. Sehingga Ranum yang tidak mampu menahan berat badannya sendiri hampir saja terjatuh. Tapi untung saja salah satu teman sekelasnya dengan cepat menangkap tubuh Ranum.


"Sudah, Ry, aku tidak apa-apa." Ranum lalu dengan cepat melepaskan tangan Ryder dari kedua lengannya. Karena ia takut semua teman-temannya nanti bisa salah paham. Tapi untung saja pintu kelas itu tertutup jadi tidak ada yang melihat kejadian itu tadi. "Ry, kamu boleh masuk duluan," ucap Ranum yang menggeser sedikit posisinya yang sedang berdiri. Agar Ryder bisa masuk ke dalam kelas itu.


"Tidak, kamu saja yang duluan." Setelah mengatakan itu Ryder menarik pergelangan tangan Bianca supaya gadis itu tidak menghalangi jalan Ranum lagi untuk masuk.


Ranum yang melihat pergelangan tangan Bianca yang dicengkeram oleh Ryder berkata, "Lepaskan Bianca, Ry, biarkan saja aku dan dia masuk bersama-sama."


Bianca mendesis. "Ogah! Lebih baik aku pergi saja ke toilet daripada harus masuk bersama gadis bunting sepertimu!" ketus Bianca yang kemudian menghempaskan tangan Ryder dengan sangat kasar. "Sungguh menjijikkan sekali!"

__ADS_1


"Masuklah, biarkan saja dia pergi," kata Ryder, lalu ia membuka pintu itu untuk Ranum. Sedangkan ia dengan cepat bersembunyi di balik tembok. Karena Ryder takut teman-teman sekelasnya salah paham jika ia dilihat berduaan masuk dengan Ranum.


***


Ketika jam istirahat telah tiba, Ranum segera mengisi buku-bukunya ke dalam tas, karena gadis itu ingin pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Tapi ketika ia akan berdiri dari duduknya tiba-tiba saja perutnya terasa kram. "Aakhh, perutku," gumamnya pelan.


"Kamu kenapa?" Rupanya Ryder yang masih berada di dalam kelas itu mendengar Ranum meringis. "Apa ada yang sakit?" tanya Ryder sekali lagi.


"Aku tidak apa-apa Ry," jawab Ranum sambil terus menarik nafasnya dalam-dalam. Dan menghembuskannya dengan pelan dari hidungnya.


"Kamu benar tidak apa-apa?"


Ranum hanya mengangguk, tanda gadis itu tidak kenapa-napa.


"Oh, ya sudah." Ryder akan pergi akan tetapi gara-gara ada yang mengganjal di hatinya laki-laki itu memilih duduk di sebelah Ranum.


"Ada apa?"


"Maaf sebelumnya jika ini akan menyinggung perasaan kamu." Ryder menatap Ranum yang saat ini juga menatap dirinya. "Apa kamu benar-benar hamil, oleh sebab itu Bianca selalu saja memanggilmu wanita bunting?"


Ranum yang memang selalu memakai baju sekolah yang kebesaran, membuat perutnya yang buncit tertutup oleh bajunya itu. Sehingga tidak ada yang tahu kalau ia hamil kecuali Bianca. Tapi untung saja mulut kakak tirinya itu tidak ember cuama sering mencelakai Ranum hingga mengejek serta menghinanya saja. Selebihnya Bianca menutup mulutnya rapat-rapat hanya karena gadis itu tidak mau kalau Ranum sampai mengakui bahwa mereka berdua saudara tiri.

__ADS_1


"Ranum, jawab aku?"


"A-aku, ti-tidak ha-hamil," jawab Ranum terbata-bata.


__ADS_2