Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 46


__ADS_3

Al kaget karena ibunya bisa berkata begitu. "Mama, aku sama Morea sudah benar-benar berakhir. Jadi, istri yang mana maksud Mama?" Al berusaha untuk tetap terlihat tenang. Maski laki-laki itu merasa cemas karena takut Anggun sudah tahu semuanya.


"Al, Mama sudah tahu semuanya." Lima kata yang keluar lagi dari mulut Anggun membuat laki-laki itu langsung tercengang. "Katakan, saja kepada Mama dengan jujur. Mama tidak akan marah justru Mama akan berterima kasih kepada wanita yang telah beruntung itu. Karena telah mampu mengambil hati anak Mama ini." Anggun ternyata benar-benar tahu kalau Al sudah menikah secara diam-diam. "Dimana menantu Mama itu sekarang?"


"Apa sebenarnya yang sedang Mamia bicarakan ini? Sungguh aku benar-benar tidak paham arah pembicaraan Mama." Meski begitu Al rupanya masih tetap bersikukuh tidak mau mengaku laki-laki itu benar-benar mengelak. Atas kebenaran yang telah diketahui oleh Anggun. Wanita paruh baya yang selama ini membuat Al masih tetap bertahan hingga sejauh ini. Di saat orang-orang terdekatnya malah berlomba-lomba untuk mengkhianatinya. "Istri yang mana, Ma? Mama jangan kebanyakan nonton drakor jadi begini halunya dibawa ke dunia real kan."


"Gadis yang sering keluar masuk ke dalam apartemen kamu ini Al, dan juga gadis yang kamu antar ke sekolah beberapa minggu yang lalu," ucap Anggun sambil menatap kedua mata putranya itu. "Kamu bisa membohongi orang lain Al, tapi kamu tidak akan pernah bisa membohongi Mama kamu sendiri, wanita yang telah melahirkanmu ke dunia ini." Anggun meraih tangan Al. "Al, Mama minta tolong antarkan Mama ke tempat dimana menantu Mama itu berada. Karena Mama juga ingin mengenalnya lebih jauh lagi supaya hubungan Mama dan menantu Mama itu menjadi begini." Anggun menggenggam jari-jemari Al. "Mama takut kalau istri kedua kamu itu akan seperti Morea, wanita yang sama sekali tidak pernah bersyukur memiliki kamu."


"Ma, tolong jangan pernah sebut nama wanita itu lagi," ucap Al lirih.


*


Di perjalanan menuju rumah sakit Al tiba-tiba saja mendapat telepon dari pihak rumah sakit, kini laki-laki itu terlihat seperti sedang gelisah karena ia merasa pihak rumah sakit akan menyampaikan kabar buruk tentang Ranum kepada dirinya.


"Siapa Al? Kenapa tidak kamu angkat?" tanya Anggun yang melihat Al mengabaikan ponsel yang berdering berulang kali dari tadi.


"Dari pihak rumah sakit Ma, aku takut mengangkatnya karena … ." Al menjeda kalimatnya.


"Angkat saja, siapa tahu istri kamu sudah sadar," kata Anggun yang menyuruh Al untuk mengangkat panggilan telepon yang dari rumah sakit. "Angkat Al, siapa tahu itu kabar baik."

__ADS_1


"Kalau buruk gimana, Ma?"


"Ish, Al anak Mama. Jangan berpikiran buruk dulu. Lebih baik kamu angkat supaya kamu tahu apa yang akan disampaikan oleh pihak rumah sakit itu."


Setelah mendengar itu akhirnya Al mau mengangkat panggilan itu.


"Halo, selamat siang, apakah benar ini dengan Tuan Altezza?" tanya seseorang perawat dari seberang telpon.


"Iya, halo ini dengan saya sendiri Altezza."


"Begini Tuan, Nona Ranum dengan nomor ruang rawat inap VVIP 02, telah sadar dari beberapa jam yang lalu, saya harap Anda bisa datang segera ke rumah sakit untuk melihat keadaannya."


***


Senyum yang begitu tulus serta tatapan mata yang teduh wanita paruh baya itu membuat Ranum mengingat sosok ibunya.


"Sudah makan siang?" tanya Anggun yang ternyata berhasil membuat Al bisa membawanya sampai ke rumah sakit untuk bertemu dengan Ranum.


Ranum menggeleng karena ia belum makan siang karena entah mengapa di siang ini gadis itu tidak berselera makan masakan rumah sakit. Meskipun para perawat itu mengatakan kalau makanan pasien VVIP sangatlah enak-enak tidak seperti pasien biasa yang hanya akan diberikan semangkuk bubur saja.

__ADS_1


"Kebetulan, mama bawa ini." Dengan senyum yang tidak pernah memudar Anggun mengeluarkan kotak bekal dari dalam paper bag yang ia bawa tadi. Kemudian wanita paruh baya itu mulai membuka kotak bekal. "Ini seafood lauk kesukaan Al, apa kamu mau sarapan pakai ini juga?"



(Sumber Google).


Ranum menatap Al yang sedang duduk di sopa, sepertinya gadis itu saat ini sedang meminta persetujuan dari Al. Akan tetapi Al yang sedang fokus memainkan benda pipihnya tidak melihat Ranum sama sekali.


Sedangkan Anggun yang mengerti arti tatapan Ranum dengan cepat berkata, "Tidak apa-apa kalau kamu mau, makan saja. Karena tadi Al juga sudah makan siang di apartemen lauknya seafood ini juga. Dan ini sengaja mama bawakan untuk kamu."


"Tante …," panggil Ranum pelan akan tetapi suaranya sampai ke indera pendengaran Al sehingga membuat laki-laki itu menatap Ranum saat ini.


"Panggil mama, karena kamu adalah calon ibu dari cucu-cucu mama." Anggun benar-benar merasa kalau Ranum adalah wanita tepat yang dipilih Al meskipun Ranum masih duduk di bangku sekolah. Akan tetapi Anggun yakin kalau Ranum wanita baik-baik dan pasti tidak akan pernah seperti Morea.


"Jadi, tante tahu kalau aku dan Tuan Al sudah menikah?"


"Panggil mama, sayang." Anggun mengelus punggung telapak tangan Ranum. "Mama sudah tahu semuanya, Jadi, kamu jangan pernah sungkan-sungkan lagi untuk memanggil mama."


Ranum lagi-lagi melihat ke arah Al sehingga pada detik itu juga tatapan mata indah mereka saling bertemu, tiba-tiba saja jantung Ranum menjadi berdetak lebih kencang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2