Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 130


__ADS_3

"Apa Mama masih peduli dengan laki-laki tua ini?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Al. Membuat Ranum dan Anggun melihat ke arah laki-laki itu secara bersamaan.


"Al, laki-laki yang kamu sebut tua ini adalah Papa kamu 'Nak, tidakkah kamu merasa kasihan padanya untuk saat ini saja. Dan Mama masih akan tetap peduli dengan Papa kamu, karena kami masih suami istri." Anggun memberikan Al jawaban yang begitu singkat padat dan jelas pada putranya. "Mama minta sama kamu Al, tolong maafkan semua kesalahan Papa kamu ini, demi Mama bukan demi orang lain," ucap Anggun yang sekarang malah meminta Al untuk memaafkan semua kesalahan yang telah Daniel lakukan.


Al langsung saja terlihat memijat pelipisnya saat laki-laki itu merasa kalau kepalanya sedikit berdenyut hebat, karena Al sama sekali tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya dan Ranum tepat 5 bulan yang lalu, dan jika dia menceritakan semuanya kemungkinan besar kalau pasti Anggun akan sama juga seperti dirinya yang tidak akan pernah mau memaafkan Daniel, pria paruh baya yang saat ini masih terbaring lemah di atas bed rumah sakit dengan mata yang masih tertutup sempurna. Setelah beberapa jam yang lalu dokter Herdi menyuntikkan obat tidur pada pria paruh baya itu.


"Aku minta maaf Ma, karena aku tidak bisa mema–"


"Hanya demi Mama, Al," potong Anggun cepat. Dan wanita paruh baya itu masih sangat berharap kalau Al akan mau memaafkan Daniel. "Ini demi Mama, karena Mama sangat menyayangi Papa kamu, lebih dari Mama menyayangi diri Mama ini, Al. Tolong kamu mengerti akan hal itu." Inilah kelebihan dan poin + yang dimiliki oleh Anggun, wanita paruh baya yang tidak akan pernah bisa membenci sang suami. Meskipun Daniel sering kali menyakiti perasaannya berulang kali. Namun, Anggun sama sekali tidak menghiraukan semua itu. Mengingat rasa sayang dan cintanya pada pria paruh baya itu lebih besar ketimbang rasa bencinya itu. Sehingga membuat Anggun akan berusaha terus meminta maaf atas nama Daniel pada Al, putra semata wayangnya itu.


"Ma, jangan pernah merendahkan harga diri Mama, hanya demi laki-laki tua yang selama ini tidak pernah bersyukur memiliki Mama, sehingga dia terus-menerus mengukir luka di dalam hati Mama," ujar Al yang terlihat sangat enggan menatap wajah sang ayah.


"Al, jangan sampai kamu menyesal 'Nak, karena kita tidak pernah tahu kapan ajal itu akan datang. Oleh sebab itu, Mama menyuruhmu membuka sedikit hatimu yang sudah lama membeku itu, hanya untuk memaafkan Papa." Rupaya Anggun masih akan tetap berusaha membujuk Al untuk memaafkan Daniel.


"Daripada membahas hal yang tidak penting ini, lebih baik kita pulang saja Ma, karena sepertinya Agna juga merasa mulai tidak nyaman berada di sini berlama-lama," kata Al membuat alasan. Padahal bayi 8 bulan itu sama sekali tidak rewel. Jutsu Agna terlihat sangat enteng ketika bayi itu sedang diberikan asi oleh Ranum seperti saat ini. "Ayo Ranum, sudah jam 5 sore Agna juga belum mandi, dan itu yang membuat kita harus cepat-cepat pulang."

__ADS_1


"Mama akan tetap berada di sini Al, kalau kamu sama Ranum mau pulang, pulang saja duluan." Anggun tahu, kalau saat ini Al hanya membutuhkan sedikit waktu, untuk bisa berdamai dengan semua ini. Membuat wanita paruh baya itu berusaha untuk mengerti akan hal itu.


"Mama tidak apa-apa sendirian di sini?" tanya Ranum pada ibu mertuanya itu, setelah tadi ia cukup lama terdiam.


Anggun tersenyum ke arah sang menantu sambil menjawab, "Ada Sonia yang akan menemani mama di sini, sekarang kamu dan Al pulang saja duluan."


Ranum lalu terlihat beranjak karena wanita itu saat ini ingin mencoba berbicara dari hati ke hati dengan sang suami. Ketika nanti mereka sampai di rumah, oleh sebab itu Ranum langsung saja membawa Agna berdiri saat mendengar ajakan sang suami untuk pulang. "Kalau begitu aku sama Mas Al pulang dulu ma, nanti kalau ada apa-apa cepat hubungi kami," ujar Ranum yang mendapat anggukan dari ibu mertua itu.


"Hati-hati Al bawa mobilnya, karena ketika pikiran sedang kacau maka apa saja yang akan kita lakukan menjadi tidak menyenangkan, termasuk kamu juga yang akan mengemudi. Tolong diingat saat ini kamu akan membawa anak serta istri kamu untuk pulang," kata Anggun mengingatkan sang putra.


Sedangkan Ranum yang melihat itu, langsung saja mengikuti suaminya setelah tadi sempat berpamitan pada Anggun.


***


Selama di perjalanan tidak ada yang mau membuka suara, sehingga yang terdengar hanya ada suara celotehan bayi 8 bulan itu saja. Karena saat ini Ranum dan Al sedang larut dalam pikiran mereka masing-masing. Membuat pasangan suami istri itu hanya diam saja, sepanjang perjalanan menuju ke rumah mereka. Namun, detik berikutnya Al mulai terdengar berdehem beberapa kali.

__ADS_1


"Ada apa Mas?" tanya Ranum tanpa melirik sang suami.


"Malam ini, aku akan merebut kembali apa yang telah Morea rebut dariku."


Mendengar itu Ranum menoleh ke arah sang suami, karena topik pembahasan mereka sekarang malah Morea bukan Daniel. Membuat wanita itu menjadi sedikit heran. "Mas, jangan berurusan dengan Mbak Morea dan keluarganya lagi. Sudah cukup, aku tidak mau dia nanti malah menyerang kita balik." Ranum tidak setuju dengan apa yang di katakan oleh sang suami tadi. "Hidup kita sudah sangat bahagia Mas, jadi aku mohon jangan mengusik kehidupan Mbak Morea lagi. Karena aku tidak mau kalau sampai Mbak Morea melakukan hal yang sama seperti dulu lagi."


"Tidak untuk kali ini Ranum, aku harus benar-benar merebut kembali semuanya tanpa terkecuali. Karena aku sudah memiliki banyak sekali bukti untuk menjebloskannya beserta keluarganya ke jeruji besi," sahut Al memberitahu sang istri. "Supaya semua ini berakhir Ranum, karena aku tidak mau wanita licik dan jahat itu bersenang-senang di atas penderitaan orang lain," sambung Al.


Ranum menghela nafas. "Mas, dengarkan aku untuk kali ini saja. Mengingat papa juga saat ini masih terbaling lemah di rumah sakit."


Al menoleh ke samping sekilas sambil berkata, "Kali ini kamu juga harus percaya padaku, Ranum. Karena kejahatan tidak akan pernah bisa menang di dalam kamus rumus hidupku. Oleh sebab itu, aku akan berjuang sampai titik da rah penghabisan," ucap Al yang kembali fokus menyetir.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2