Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Gelisah


__ADS_3

Melihat banyak sekali bukti yang ditunjukkan oleh Bagas, membuat Robert hanya bisa diam karena memang benar selama ini Robert dan Remon bekerja sama di bidang mebel. Namun, siapa sangka mereka malah menjadikan usaha itu juga untuk mengirim berbagai jenis nar koba ke luar Negeri. Dan bisa dibilang juga usaha mebel itu hanya dijadikan sebagai kedok supaya mereka lebih leluasa menyelundupkan barang-barang haram itu.


"Ini fitnah!" kata Kerin tiba-tiba, ibunya Morea. "Suami saya tidak mungkin akan melaku–" Kalimat Kerin terputus di saat Bagas menunjukkan rekaman Kerin yang juga malah ikut-ikutan memperjual-belikan barang haram tersebut. Membuat wanita itu langsung saja bungkam pada detik itu.


"Mari kalian berempat ikut kami," ucap salah satu polisi itu. "Karena kalian berempat juga sudah merencanakan untuk mele nyapkan Nyonya Anggun dan masih ada beberapa kesalahan kalian, oleh sebab itu, ikut dengan kami dan jelaskan semuanya di kantor polisi aja," lanjut polisi itu. Yang terlihat akan mulai memborgol Robert dulu. Namun, siapa sangka Robert malah melawan dan tidak mau di bawa ke kantor polisi.


"Mohon kerjasamanya Tuan Robert jangan begini," ucap polisi yang ada di dekat Al.


"Aku akan membvnvh kamu Al!" teriak Robert yang ingin kembali men nem bak Al.


Namun, polisi yang tadi sempat berbicara dengan gerakan cepat menendang senjata api yang sudah ditarik pelatuknya. Dan pada saat itu juga plurunya malah meleset dan malah mengenai ulu hati Morea, putrinya sendiri. Membuat Kerin sang ibu langsung pingsan di tempat dan Remon menggunakan kesempatan itu untuk kabur.


Sedangkan Robert yang melihat putrinya sudah bergelimangan darah dan sudah tergeletak di lantai. Laki-laki itu malah mengambil sebilah belati dari belakang bajunya setelah tadi ia mencoba melawan sehingga polisi itu kembali melepaskannya. Sehingga Robert langsung saja menikam dirinya di bagian ulu hatinya juga, entah apa yang laki-laki itu pikirkan.


Sedangkan Al dan Bagas rupanya berlari mengejar Remon yang kabur, sehingga kedua laki-laki itu tidak melihat adegan Morea yang ter tem bak oleh sang ayah.


*

__ADS_1


Di sisi lain saat Bagas dan Al terus saja mengejar Remon. Tiba-tiba saja langkah kaki Al terhenti. Membuat Bagas juga ikut menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa Tuan? Kenapa Anda malah berhenti?" tanya Bagas pada Al karena laki-laki itu belum tahu kalau Al tadi sempat di tem bak oleh Robert. "Ayo Tuan, kita harus mengejar Remon," ucap Bagas sambil memegang lengan Al. Pada saat itu juga tubuh Bagas gemetaran karena ia melihat serta merasakan kalau saat ini lengan tuannya itu berdarah. "Tuan Anda tertem–"


"Kejar Remon sekarang Bagas, karena aku tidak apa-apa," ujar Al yang malah meminta untuk Bagas pergi mengejar Remon. "Sana Bagas, kamu tunggu apalagi?"


Bagas langsung menggeleng. Karena ia melihat wajah Al sudah pucat pasi. "Saya tidak bisa Tuan, karena saya harus membawa Anda ke rumah sakit. Karena keselamatan Anda jauh lebih penting, dan kita serahkan semua ini pada polisi." Bagas lalu terlihat akan mengajak Al untuk pergi dari sana.


Namun, Al menolak ajakan Bagas. "Aku tidak apa-apa, Bagas. Dan lebih baik kejar Remon, jangan sampai laki-laki itu lolos kali." Al masih saja terlihat kuat meskipun saat ini tubuh laki-laki itu sudah terasa lemas. "Bagas, kejar Remon!" Sesaat setelah mengatakan itu Al malah langsung terhuyung. Tapi untung saja Bagas menahan tubuh laki-laki itu.


Al ingin sekali menyumpal mulut Bagas untuk kali ini saja, karena ia tidak habis pikir Bagas malah mengatakan itu pada dirinya. "Kau Bagas!" geram Al di sela-sela kesadaran laki-laki itu akan hilang. "Bisa-bisanya kau mal–" Kalimat Al menggantung di udara karena laki-laki itu sudah pingsan duluan.


"Tuan Al apa Anda pikir nyawa Anda unlimited? Sehingga Anda dalam keadaan begini masih saja menyuruhku untuk mengejar Remon dan malah memintaku akan mengabaikan Anda. Sungguh itu semua tidak akan pernah terjadi," ucap Bagas pelan sambil menghubungi anak buahnya untuk membantunya mencari Remon, sedangkan ia harus membawa Al segera ke rumah sakit. Mengingat Al pasti sudah kehilangan banyak sekali darah. Dapat dilihat pada lengan baju Al yang basah karena da rah. "Bodohnya aku ini, kenapa? Aku tidak melihat kalau tadi Tuan Al sempat ter tem bak tadi," lanjut Bagas yang sekarang terlihat menyeret tubuh Al yang saat ini laki-laki itu sedang pingsan. Karena tidak mungkin Bagas akan menggendong Al, di saat tubuh tuannya itu lebih kekar, tinggi dan tentunya pasti Bagas tidak akan bisa menggendong tuanya itu. Membuatnya terpaksa harus menyeret tubuh Al ke pinggir jalan dulu, karena ia mau pergi mengambil mobilnya dulu.


***


Gelisah dan cemas itu yang saat ini sedang di alami oleh Tara, karena ia merasa ada yang terjadi dengan sang suami. Persis seperti 5 bulan yang lalu dimana Ranum merasakan cemas yang berlebihan.

__ADS_1


"Tuhan, lindungilah Mas Al, jangan biarkan sesuatu buruk terjadi padanya," gumam Ranum pelan. Dan tidak lama ponsel wanita itu bergetar, menandakan bahwa saat ini ada yang sedang meneleponnya. "Bagas," ucap Ranum yang tanpa pikir panjang lagi mengangkat panggilan laki-laki itu.


"Tuan Al ter tem bak, dan saat ini aku sudah membawanya ke rumah sakit," ujar Bagas saat pertama kali laki-laki itu membuka suara.


Membuat detak jantung Ranum berdetak tidak karuan. "Apa?!" Saking shocknya ibunya Agna itu. Ia sampai mengabaikan kalimat-kalimat yang di lontarkan oleh Bagas yang mengatakan kalau Al baik-baik saja.


"Sebentar lagi aku dan Tuan Al akan pulang, jadi kamu tidak usah kesini. Karena tujuanku memberitahumu ini semua, supaya kamu tidak kaget nanti ketika kamu melihat lengan Tuan Al di perban," ucap Bagas menjelaskan pada Ranum. "Aku tutup dulu, karena aku saat ini akan berangkat pulang dengan Tuan Al."


"Mana Mas Al? Dan kenapa bukan dia saja yang memberitahuku? Apa jangan-jangan kamu saat ini sedang membohongiku Bagas?" Ranum


kini terlihat semakin gelisah. "Bagas, berikan ponselmu itu pada Mas Al, karena aku cuma ingin memastikan kalau dia benar-benar baik-baik saja," kata Ranum yang mau berbicara dengan sang suami.


Bagas terdiam karena ia tidak bisa membalas kalimat Ranum, sebab Al rupanya masih belum sadarkan diri setelah tadi di bius total. Ketika para dokter mengeluarkan peluru dari lengan ayahnya Agna itu.


"Bagas …," panggil Ranum.


"Iya Num, kata Tuan Al kamu tunggu saja di rumah." Bagas lalu mematikan ponsel itu secara sepiak.

__ADS_1


__ADS_2