
"Ma, aku ada urusan sebentar Mama bisa kan, jaga Ranum disini dulu?"
Anggun sempat melirik jam di dinding sebelum menjawab putranya itu. "Jangan lama-lama ya Al, karena Mama sudah janji sama Papa kamu untuk pergi ke suatu tempat nanti sore."
"Ini baru jam dua siang Ma, berarti masih lama. Mama ajak Ranum ngobrol-ngobrol dulu biar makin akrab." Al sebenarnya selalu kesal ketika Anggun malah menyebut-nyebut Daniel seperti ini. Karena Al merasa kalau Daniel sudah tidak mencintai mamanya lagi. "Bagas dan juga Sonia sebentar lagi pasti datang. Jadi, Mama langsung bisa pergi kalau Mama memang benar-benar mau pergi sama Papa, ya karena Mama sudah tahu sendiri kalau Papa seringkali mengingkari janjinya. Meski dia bilang ngajak Mama pergi tapi ujung-ujungnya dia tiba-tiba saja malah bilang ada urusan mendadak." Al tahu Anggun sering kali dibuat kecewa oleh Daniel tapi anehnya wanita paruh baya itu sama sekali tidak pernah merasa kesal atau marah kepada suaminya itu.
"Al, nggak baik ngomong begitu Nak, Papa 'kan benar-benar ada urusan mendadak. Kamu tahu sendiri Papa orangnya sibuk, Papa juga orangnya pekerja keras." Binar bahagia terpancar jelas di netra Anggun ketika membanggakan suaminya di depan Al dan Ranum. "Itu hanya demi kamu Al, demi masa depan calon cucu-cucu Mama. Kurang bertanggung jawab apa lagi coba Papa kamu itu. Umurnya sudah tidak muda lagi tapi semangatnya ngalahin kamu. Papa kamu itu memang luar biasa sekali sehingga itu yang membuat Mama tambah cinta sama Papa."
"Bagaimana kalau Mama tau, kelakuan Papa di belakang Mama? Mungkin saja Mama tidak akan membuang-buang waktu untuk mencintai pria tua yang kelakuannya di luar batas manusia normal pada umumnya, dimana laki-laki itu malah bercinta dengan Morea tanpa ada rasa bersalah dan malu sedikitpun." Al membatin.
"Al, kenapa malah bengong? Katanya mau pergi."
Lamunan Al langsung buyar ketika mendengar pertanyaan Anggun. "Ya sudah, aku pergi sekarang Ma. Titip Ranum ya." Laki-laki itu berjalan keluar.
"Begitulah, anak dan ayah sama-sama gila dengan pekerjaan. Maka dari itu kamu jangan merasa takut ya, Ranum kalau Al akan berpaling dari kamu karena Al bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta ke sembarang wanita."
Ranum mengangguk sambil meraih tangan Anggun. "Ma-mama, bolehkah aku memeluk ma-mama?" Bibir Ranum bergetar ketika mengatakan itu. Karena dari tadi ia sangat ingin memeluk Anggun. akan tetapi karena Al masih di sana jadi ia malu untuk mengatakan itu kepada Anggun. Maka dari itu ia menunggu Al pergi dulu baru Ranum mengutarakan isi hatinya yang sangat ingin memeluk wanita dengan tatapan mata yang begitu teduh.
__ADS_1
"Sini, kenapa tidak bilang dari tadi?" Wanita paruh baya itu berdiri dari duduknya agar Ranum bisa memeluknya. "Peluk Mama sampai kamu merasa puas, jika itu yang akan membuat kamu merasa sedikit merasa lega." Anggun membalas pelukan Ranum. Lalu wanita paruh baya itu terlihat mengelus-ngelus punggung dan rambut Ranum sambil berkata, "Maafkan anak Mama, yang telah membuat kamu hamil di usia kamu yang masih dini ini sehingga kamu merasakan menjadi seorang ibu sebelum pada waktunya."
Ranum merasa kalau Anggun benar-benar wanita yang baik dilihat dari cara bicara serta caranya memperlakukan gadis yang sedang hamil itu.
"Anggap, saja Mama sebagai Mama kamu sendiri, jangan sungkan-sungkan untuk meminta sesuatu kepada Mama dan jangan takut untuk melaporkan tingkah laku Al jika putra Mama itu mau menyakiti kamu."
***
Di hotel mewah terlihat dua insan dengan usia yang terpaut jauh berbeda sedang berbaring setelah melakukan pertarungan ya, kalian tahu sendiri.
"Kamu tenang saja Sayang, Al tidak akan memiliki kesempatan untuk mencari wanita lain karena aku sudah memberikannya pekerjaan yang begitu banyak. Sehingga untuk sekedar beristirahat saja dia harus mencuri-curi waktu," ucapan Daniel membuat Morea begitu senang, sehingga wanita itu langsung memeluk tubuh yang sama-sama polos itu. "Lebih baik, kamu berusaha terus untuk mendapatkan hati Al, supaya kita bisa tinggal di rumah utama sama-sama lagi seperti dulu."
"Aku juga tidak tahu Sayang." Daniel lalu mengangkat dagu Morea dan langsung saja m*lu*** bibir Morea dengan penuh g*irah.
Sehingga beberapa menit Morea yang merasa kekurangan pasokan oksigen dengan cepat mendorong dada bidang Daniel. "Sudah, aku mau mandi dulu setelah itu mau pergi ke perusahaan Mas Al."
"Morea, Al hari ini tidak masuk kerja. Karena kata Bagas Al kurang enak badan." Daniel dengan cepat memberitahu Morea supaya wanita itu tidak meninggalkannya sendiri di kamar hotel itu.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan datang saja ke apartemennya, bagaimana?"
"Apartemennya yang mana? Tempat kamu dulu ketahuan itu?" Daniel malah bertanya balik.
"Iya, dong. Karena itu kan, satu-satunya apartemen Mas Al. Lalu maksud kamu yang mana lagi?"
"Al sudah menjual Apartemen itu. Seminggu setelah kejadian saat kamu dan Ramon ketangkap basah, jujur Morea saat itu aku juga marah ketika aku tahu kalau kamu menghianatiku di belang, dan malah tidur dengan Remon."
"Jangan dibahas lagi, bukankah kamu sekarang sudah puas menikmati tubuhku ini? Tanpa harus berbagai-bagai lagi." Morea paling bisa mengembalikan mood pria paruh baya itu. "Lantas kamu mau apa lagi? Kamu mau aku melayanimu setiap menit, setiap, detik hingga setiap jam. Begitu maksud kamu?"
Daniel menggeleng. "Bukan itu, tapi aku cuma minta jangan berhubungan lagi dengan Remon karena jika itu terjadi maka aku akan membongkar perselingkuhan kita ini."
"Maka mama Anggun langsung beda alam, karena aku sudah tahu kalau mama Anggun memiliki penyakit jantung," balas Morea menimpali Daniel.
"Lebih cepat lebih baik, supaya kita bisa tetap bersama dan tidak akan ada yang menghalangi cinta kita lagi."
Morea melepas pelukannya dari tubuh Daniel. "Kamu jangan gila! Bisa-bisanya kamu malah berkata begitu kepada istri kamu sendiri."
__ADS_1
"Morea, aku sudah tidak cinta lagi sama Anggun, karena rasa cintaku ini hanya kepadamu seorang."