
Setibanya mereka berempat di apartemen Al, Sonia gadis itu langsung saja nyelonong masuk begitu saja tanpa membiarkan tuan rumah terlebih dahulu masuk. Sehingga membuat Al menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kekasih hatimu benar-benar sangat lancang sekali Bagas! Bisa-bisanya dia masuk duluan tanpa menungguku!" gerutu Al yang merasa sedikit kesal.
"Maafkan Sonia, Tuan. Karena dia sudah terbiasa nyelonong seperti di apartemenku. Jadi, dia membawa kebiasaan itu." Bagas yang merasa sedikit malu dengan tingkah laku kekasihnya itu makannya ia langsung meminta maaf kepada Al. "Sekali lagi tolong maafkan Sonia, Tuan Al."
"Sudahlah Bagas lebih baik kamu masuk juga sebelum Dokter Siska tiba di sini," balas Al menimpali Bagas. Namun, sebelum Bagas masuk Al bertanya, "Apa kamu yakin kalau Sonia akan bisa menjaga Ranum beserta merawatnya di sini?" Al terus saja mendorong kursi roda tempat Ranum duduk saat ini. Sambil menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Bagas.
"Saya yakin Tuan, apalagi ini Anda sendiri yang memintanya dia pasti akan dengan senang hati menjalankan perintah Anda," sahut Bagas menjawab Al.
"Aku belum yakin Bagas, karena aku rasa dia juga gadis yang sangat ceroboh." Meski Bagas sudah meyakinkan Al, akan tetapi laki-laki itu merasa belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bagas tadi. "Tapi … ada baiknya sih, kalau dia yang menjaga Ranum disini, karena ada temannya jadi Ranum nggak kesepian iya kan, Ranum?" Al mencolek pundak gadis yang diam saja dari tadi di atas kursi roda itu.
"I-iya, Tu-Tuan ada apa?" Rupanya dari tadi Ranum benar-benar tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Al dan Bagas. "Maaf, tadi aku melamun jadi, aku tidak fokus mendengarkan apa yang Tuan Al dan Bagas katakan."
"Jelaskan kepadanya Bagas, aku sudah berbicara panjang kali lebar, tapi ujung-ujungnya dia malah minta maaf." Al menghela nafas, laki-laki itu menjadi berpikir kalau ia harus menyetok kata sabar sebanyak-banyaknya.
"Begini, apakah kamu setuju kalau di apartemen ini di temani oleh Sonia? Karena aku dan Tuan Al akan pergi ke Negara A, mungkin kami akan ada di sana selama dua Minggu bahkan bisa lebih. Jadi, bagaimana apa kamu setuju?" Sekarang giliran Bagas yang bertanya kepada Ranum atas permintaan Al.
"Bukankah Sonia harus sekolah?"
"Sonia akan menemani kamu dari dia pulang sekolah hingga pagi menjelang, dan Dokter Siska yang akan menemani kamu dari pagi sampai Sonia pulang sekolah, apa sekarang kamu paham?"
Ranum terlihat sedang berpikir, sebelum membuka suara untuk menjawab pertanyaan Bagas.
"Jadi, apa jawabanmu?" tanya Al secara tiba-tiba.
Ranum yang mendengar Al bertanya kepada dirinya langung menjawabnya setelah tadi Ranum sempat berpikir. "Kalau Tuan Al sudah setuju, berarti saya juga setuju."
***
__ADS_1
Ketika Bagas masih menjelaskan tentang apa saja yang harus Al lakukan di Negara A nanti tiba-tiba saja Sonia mencolek lengan Bagas. Sehingga laki-laki itu menoleh ke samping di mana Sonia juga sedang duduk.
"Ada apa Sonia?"
"Kapan kamu akan mengantarku pulang?" rengek gadis itu yang malah bertanya balik kepada Bagas dengan cara sedikit berbisik di daun telinga laki-laki itu.
"Pulang saja sendiri, aku pesankan taksi sekarang." Bagas, laki-laki itu malah mau memesankan taksi untuk Sonia. "Aku antar sampai ke bawah, bagaimana?"
Sonia yang matanya tinggal setengah wot tadi, tiba-tiba saja menjadi melotot sempurna gara-gara mendengar jawaban Bagas. "Apa? Kamu mau memesankan aku taksi?!"
"Iya, soalnya masih banyak lagi yang harus aku bahas dengan Tuan Al, itu berarti aku tidak bisa mengantarmu pulang."
Detik itu juga Sonia berdiri dari duduknya. "Urus saja pekerjaan kamu itu! Karena bagimu pekerjaan tetap nomor satu dibandingkan dengan apapun!" ketus gadis itu sambil menghentak-hentakkan kakinya. "Jangan pernah mencariku, jika aku menghilang nanti. Selamat malam Tuan Bagas yang selalu sering membuat dada ini sesak." Sonia tidak menghiraukan Al yang saat ini menatapnya. "Jangan pernah hubungi aku lagi!" Gadis itu melangkahkan kakinya ingin benar-benar pergi dari sana. Akan tetapi ketika ia mendengar kalimat Al, gadis itu malah menghentikan langkah kakinya.
"Antar dia Bagas, besok kita akan membahas ini lagi."
"Aku juga sudah sangat ngantuk Bagas, jadi, dengan berat hati aku menyuruhmu untuk pulang."
Sonia malah berteriak kegirangan di dalam hatinya karena rupanya Al malah memihak kepada dirinya.
***
Setelah Bagas dan Sonia pulang, Al langsung masuk ke dalam kamar Ranum hanya untuk melihat gadis itu sudah tidur atau belum. Akan tetapi saat ia sudah masuk Al malah melihat Ranum yang sedang mengelus perut. Al yang merasa kalau perut Ranum sakit lagi dengan cepat laki-laki itu bergegas menghampirinya.
"Apa perut kamu sakit lagi?" pertanyaan itu membuat Ranum yang sedang berbicara kepada janinnya langsung terlonjak kaget.
"Tuan Al, kenapa Anda belum tidur?"
__ADS_1
"Apa perut kamu sakit lagi?" Al malah bertanya balik tanpa menghiraukan pertanyaan Ranum. Laki-laki itu lalu duduk di pinggir ranjang tepat di sebelah Ranum. "Jawab aku jangan diam saja," kata Al dengan raut wajah yang sedikit panik.
Ranum manggleng sambil menjawab, "Perutku tidak sakit lagi Tuan."
"Lalu kenapa kamu mengelus-ngelusnya tadi?"
"Aku cuma mengajak calon bayi kita berbicara." Setelah mengatakan itu Ranum menunduk karena gadis itu merasa malu.
"Kamu bikin aku khawatir saja, ya sudah kamu tidur, jangan begadang supaya kondisimu cepat membaik seperti sedia kala." Al kemudian berdiri. "Jangan lupa minum obat pas jam 12 malam nanti."
"Tuan …," panggil Ranum ketika melihat Al yang akan melangkahkan kakinya. Sehingga laki-laki itu menoleh.
"Ada apa?"
"Kapan Anda akan mengambil Aish, dari rumah Ayahku?"
Saking sibuknya laki-laki itu, ia sampai lupa kalau dirinya sudah berjanji akan mengambil Aish dari tangan Rudy, ayah mertuanya itu. Untuk Ranum sesuai yang telah mereka berdua sepakati.
"Tuan, Anda tidak lupa dengan janji Anda sendiri 'kan?"
"Tidak, aku tidak lupa. Akan tetapi aku belum punya waktu untuk menepati janjiku itu. Karena kamu tahu sendiri aku orangnya sangat sibuk. Tapi kamu jangan khawatir karena aku berjanji setelah pulang dari Negara A maka aku akan menepati janjiku itu."
Ranum hanya bisa mengangguk maski di dalam lubuk hatinya saat ini ia sangat merindukan adiknya itu. "Aku percaya bahwa Tuan Al, pasti akan menepati janji," batin Ranum.
"Apa ada lagi yang mau kamu tanyakan kepadaku?"
"Hm, apa saya boleh minta nomor ponsel Anda?" Tiba-tiba Ranum malah meminta nomor ponsel Al.
__ADS_1