Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 90


__ADS_3

Sonia dan Bagas segera bergegas ingin masuk ke dalam ruangan tempat Ranum saat ini berada, setelah tadi mereka mendengar penjelasan dokter yang memeriksa Ranum yang mengatakan kalau itu hanya kontraksi palsu saja.


"Kita saja yang masuk, karena saat ini Tuan Al pergi ke toilet," ucap Bagas sambil menggenggam tangan Sonia, saat mengajak gadis itu masuk. "Ternyata Tuhan mendengar doa kita kalau yang terjadi pada Ranum saat ini hanya kontraksi palsu." Raut wajah Bagas terlihat lega sebab ia mengetahui Ranum bukan mau melahirkan.


"Aku juga mau seperti Ranum, hamil lalu diberikan perhatian seperti ini," kata Sonia pelan. "Apalagi mendapat perhatian dari kamu, seperti kamu yang begitu perhatian dengan Ranum." Entah mengapa lama-lama Sonia menjadi merasa sedikit cemburu dengan tingkah laku Bagas yang selalu saja begitu perhatian pada Ranum. Sampai-sampai laki-laki itu rela menggagalkan acara kencannya malam ini dengan Sonia. Bukan cuma itu saja, Bagas sering kali meninggalkan pekerjaannya kalau masalah itu berkaitan tentang Ranum. Sehingga membuat Sonia lama-kelamaan merasa Ranum lebih sering mendapat perhatian dari sang kekasih pujaan hatinya seperti saat ini.


"Jangan mulai berdebat denganku, Sonia. Hanya karena pemikiranmu yang jelek dan kotor itu terhadap diriku." Bagas rupanya tahu isi pemikiran Sonia. "Buang jauh-jauh rasa cemburumu yang tidak beralasan itu, sebab itu bisa membuat hubungan kita menjadi hancur."


Mendengar itu Sonia menghentikan langkah kakinya tepat ketika Bagas akan membuka pintu tempat Ranum saat ini berada. "Bagaimana aku tidak cemburu, Bagas. Kamu selalu ada waktu buat Ranum sedangkan aku …." Sonia menunjuk dirinya sendiri. "Kamu malah mengabaikan aku, dengan alasan pekerjaan." Gadis itu menunduk sendu. "Sesibuk apapun kamu, jika itu berkaitan dengan Ranum. Maka kamu akan meninggalkan pekerjaan itu tanpa berpikir dua kali, jika itu aku … kamu tidak mungkin akan melakukannya."


"Kamu di rusak oleh pikiran kamu sendiri Sonia, aku melakukan ini hanya un–"


"Untuk aku, kamu melakukan ini dan itu hanya untuk aku!" sergah Sonia dengan cepat. "Segala sesuatu yang kamu lakukan hanya untuk aku, tapi apa buktinya? Kamu hanya bisa membuat pikiranku semakin bertambah buruk!"


"Aku sedang menyiapkan biayanya buat kamu kuliah Sonia, aku melakukan ini dan itu seperti katamu hanya demi kamu. Iya, aku rela melakukan ini hanya demi kamu seorang. Bukankah kamu ingin berkuliah di Universitas yang terkenal di kota Jakarta ini? Kamu tahu biayanya tidak sedikit, kamu juga tahu aku bukan orang kaya yang mempunyai segala-galanya. Aku bukan Tuan Al yang tinggal tekan tinggal tulis uangku akan datang." Bagas mula-mula tidak ingin mengatakan ini, akan tetapi karena Sonia yang berpikiran buruk tentangnya oleh sebab itu ia mengeluarkan semuanya di rumah sakit, yang seharusnya tidak pantas ia katakan sekarang di waktu yang tidak tepat seperti ini.


"Aku selalu mendapat bonus tambahan, jika aku bekerja seperti ini, bekerja gerak cepat ketika Tuan Al menghubungiku di waktu yang genting seperti ini. Apa kamu masih meragukan aku, Sonia?"


"Kamu bekerja setiap hari tapi tidak kunjung memiliki uang, sebenarnya kamu ini serius denganku apa kamu cuma mempermainkan perasaanku saja? Dengan kata-kata kamu selalu bekerja itu hanya demi aku seorang." Tubuh Sonia terguncang kuat, karena gadis itu saat ini sedang menangis.


"Ini yang tidak aku suka dari kamu, selalu ingin tahu kemana uang hasil kerjaku selama ini." Bagas terlihat mengusap wajahnya dengan kasar. "Sudahlah, jangan berdebat masalah hal sepele seperti ini."

__ADS_1


Sonia menepis tangan Bagas saat laki-laki itu ingin meraihnya. "Berhenti mengusik hidupku, karena aku tanpamu bisa hidup!" Sonia mendorong tubuh Bagas. "Jika kau menganggapku sebagai beban!" Lalu Sonia terlihat berlari meninggalkan Bagas dengan perasaan yang tidak karuan.


Tanpa Bagas dan Sonia tahu rupanya dari tadi Ranum berdiri di depan pintu yang masih tertutup itu sehingga gadis itu bisa mendengar apa saja yang dikatakan oleh pasangan kekasih yang sedang salah paham itu.


***


Anggun akhirnya bisa bernafas lega saat melihat Ranum dan Bagas berjalan bersama, itu menandakan bahwa saat ini Ranum baik-baik saja.


"Syukurlah, mama pikir kamu kenapa-kenapa," kata Anggun ketika ia mendekati Ranum. "Mama pikir, kalau cucu mama akan lahir sekarang."


"Ma, jangan begitu, nanti bagaimana kalau benar cucu Mama lahir belum cukup bulannya." Al yang ada di belakang Anggun menimpali wanita paruh baya itu.


"Mama cuma bercanda kok Al, kamu kenapa sih, dari tadi kayaknya sensi sekali sejak bertemu dengan Ry. Apa jangan-jangan kamu ada masalah sama anak itu?"


"Tidak biasanya, anak itu begini," gumam Anggun ketika melihat punggung Al semakin jauh dari pandangannya.


***


Di rumah tempat tinggal Al dan Ranum, terlihat Bagas duduk di teras depan sambil memain-mainkan benda pipihnya. Sehingga membuat Al yang melihat itu dari jendela heran karena tidak biasanya Bagas terlihat murung seperti saat ini.


"Kenapa dia, tumben-tumbenan terlihat tidak ceria seperti biasanya?"

__ADS_1


Ranum yang sedang duduk sambil bersandar mendengar pertanyaan sang suami dengan cepat menjawab, "Bagas, habis bertengkar dengan Sonia."


Mendengar itu Al menoleh ke arah Ranum. "Kamu tahu dari mana?"


"Aku mendengarnya sendiri, tadi waktu di rumah sakit Tuan. Hanya karena Sonia merasa cemburu denganku, mereka dari itu mereka bertengkar." Sebenarnya Ranum tidak niat memberitahu Al akan tetapi gadis itu merasa, sang suami harus tau hal ini. Supaya Al tidak sedikit-sedikit meminta bantuan kepada Bagas.


"Apa karena Bagas selalu ada untukmu?"


"Iya, Tuan." Ranum menjawab Al singkat.


Al lalu keluar setelah mendengar itu semua, ia ingin menghampiri Bagas.


*


Al menepuk bahu Bagas. "Cari Sonia sekarang, jika kamu tidak mau kehilangan kekasihmu itu."


Bagas menggeleng. "Dia akan kembali sendiri kepadaku Tuan, jadi aku tidak usah mencari gadis yang keras kepala itu."


"Kamu dengannya sama-sama keras kepala Bagas, jika ego dibalas ego maka yang menang adalah perpisahan. Aku mengatakan ini karena aku peduli sama kalian berdua," ucap Al.


Bagas menoleh ke samping. "Saya tahu Tuan," balas Bagas sambil menghela nafas. Sambil berkata, "Tapi saat ini. Saya benar-benar tidak tahu saat ini dimana keberadaan Sonia."

__ADS_1


"Kamu tidak akan tahu jika tetap berdiam diri di sini saja Bagas. Sekarang pergi dan cari dia, jangan sampai kamu menyesal." Al mengatakan itu karena ia tidak bisa melihat Bagas dalam keadaan begini.


__ADS_2